Selalu Terhubung, tetapi Belum Tentu Merasa Dekat

Di era digital, komunikasi dapat berlangsung kapan saja dan dari mana saja. Pesan instan, panggilan video, serta media sosial membuat seseorang tetap terhubung dengan keluarga dan teman meskipun terpisah jarak. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul paradoks, semakin mudah berkomunikasi, belum tentu semakin dekat hubungan emosional yang terbangun.

Seseorang dapat memiliki banyak pengikut, menerima puluhan pesan, dan aktif di berbagai komunitas digital, tetapi tetap merasa kesepian. Interaksi yang dipenuhi tanda suka dan komentar singkat tidak selalu mampu menggantikan percakapan mendalam, perhatian tulus, serta kehadiran orang lain ketika menghadapi masalah.

Potret Kesehatan Mental di Indonesia

Persoalan kesehatan mental menjadi perhatian penting di Indonesia. Pada Maret 2026, Kementerian Kesehatan melaporkan hasil skrining Cek Kesehatan Gratis terhadap sekitar tujuh juta anak. Sebanyak 4,4% terindikasi mengalami gejala kecemasan dan 4,8% menunjukkan gejala depresi. Angka tersebut merupakan hasil skrining awal, bukan diagnosis klinis, dan tidak secara khusus membuktikan bahwa penggunaan media sosial menjadi penyebabnya.

Sementara itu, Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) yang dipublikasikan pada 2022 menemukan bahwa 34,9% remaja berusia 10–17 tahun mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan sebelumnya. Sekitar 5,5% memenuhi kriteria gangguan mental. Data ini masih menjadi salah satu rujukan nasional penting, meskipun bukan hasil survei terbaru tahun 2026.

Angka-angka tersebut mengingatkan bahwa kesehatan mental generasi muda perlu mendapat perhatian serius, termasuk melalui lingkungan keluarga, sekolah, pertemanan, dan ruang digital yang lebih aman.

Ketika Media Sosial Memperkuat Kesepian

Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2025 menyebutkan bahwa sekitar satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian. Kesepian bukan sekadar keadaan ketika seseorang sendirian, melainkan perasaan bahwa hubungan sosial yang dimiliki belum memenuhi kebutuhan emosionalnya.

Penelitian meta-analisis yang diterbitkan pada 2026, dengan melibatkan 81.344 peserta dari 59 penelitian, menemukan hubungan antara penggunaan media sosial bermasalah dan kesepian. Hubungan tersebut lebih kuat dibandingkan hubungan antara durasi penggunaan media sosial dan kesepian. Temuan ini menunjukkan bahwa cara seseorang menggunakan media sosial dapat lebih penting daripada sekadar menghitung waktu layar. Namun, hasil tersebut tidak membuktikan bahwa media sosial secara langsung menyebabkan kesepian.

Kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan unggahan orang lain, mengejar pengakuan melalui respons digital, dan merasa harus selalu mengikuti percakapan dapat menambah tekanan psikologis. Ketika pengalaman di dunia maya terasa lebih penting daripada hubungan nyata, seseorang berisiko kehilangan ruang untuk membangun kedekatan yang bermakna.

Membangun Koneksi yang Lebih Manusiawi

Menghadapi tantangan ini bukan berarti harus meninggalkan teknologi. Media sosial tetap dapat menjadi sarana belajar, mencari komunitas, dan memperoleh dukungan. Hal yang perlu diperbaiki adalah kualitas penggunaannya.

Luangkan waktu untuk berbicara langsung dengan orang yang dipercaya, kurangi kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di internet, dan berikan jeda dari notifikasi ketika membutuhkan ketenangan. Keluarga dan sekolah juga perlu menciptakan ruang aman agar anak muda dapat menceritakan masalah tanpa takut dihakimi.

Penelitian tentang penggunaan digital dan kesehatan mental pada anak muda, termasuk mahasiswa Indonesia, turut memperlihatkan pentingnya memperhatikan pola penggunaan serta kondisi psikososial, bukan hanya durasi aktivitas daring.

Terhubung Bukan Sekadar Hadir di Layar

Konektivitas digital seharusnya membantu manusia merasa lebih dekat, bukan justru merasa sendirian di tengah keramaian virtual. Kesehatan mental perlu dijaga melalui hubungan yang saling mendukung, komunikasi yang jujur, dan keberanian mencari bantuan profesional ketika tekanan emosional mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, ukuran hubungan yang sehat bukanlah seberapa sering seseorang muncul di layar, melainkan seberapa jauh ia merasa didengar, dihargai, dan diterima.

Daftar Pustaka

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Alarm Kesehatan Mental Anak: CKG Temukan Ratusan Ribu Anak Bergejala Cemas dan Depresi.

2. Center for Reproductive Health, Universitas Gadjah Mada, University of Queensland, & Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health. (2022). Indonesia–National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS): Report.

3. World Health Organization. (2025). From Loneliness to Social Connection: Charting a Path to Healthier Societies.

4. Feng, H.-P., et al. (2026). Exploring the relationship between social media use and loneliness in adolescents and young adults: A systematic review and meta-analysis. Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology, 61, 1345–1359.

5. Velasco-Furlong, L., Romero-Rodríguez, L. M., & Winarko, H. B. (2026). Digital addiction and mental health-related variables in young people: A comparative study of Spain and Indonesia. Acta Psychologica, 265, 106716.