Jika orang menyebut Madura, yang terbayang pertama adalah karapan sapi, sate, dan suara saronen yang melengking gagah. Tapi bagi saya, yang paling Madura dari Madura adalah jamunya.

Madura tidak hanya menjual sate. Madura juga menjaga Indonesia tetap sehat.
Di setiap pasar di Bangkalan, Sampang, Pamekasan, hingga Sumenep, perempuan Madura duduk dengan botol-botol jamu yang dijaga seperti pusaka. Ada jamu bherras kencor, konye' accem, pangasereh, hingga ramuan khas yang mendunia, yaitu jamu sari rapet dan harum madura. Itu bukan sekadar dagangan. Itu adalah apotek kebudayaan.

Sayangnya, kita sedang mengalami ironi. Kita bangga jamu Madura diekspor sampai Malaysia dan Arab Saudi, tetapi anak-anak kita di Madura sendiri lebih hafal minuman boba daripada rasa jamu kunyit. Kapan kita memutus hubungan antara sehat dan budaya kita sendiri?
Filosofi Sehat Orang Madura Tidak Ada di Rumah Sakit

Bagi orang Madura, sehat tidak pernah dipahami sebagai urusan dokter semata. Sehat adalah urusan laku hidup, dan itu diajarkan dalam tiga warisan budaya kita.
Jamu Madura : Kekuatan Perempuan sebagai Penjaga Kesehatan
Di Madura, urusan jamu adalah urusan perempuan. Ibu adalah dokter pertama. Filosofinya jelas: nompo' jhamu lebbi becce' dhari tompang obat (lebih baik mencegah dengan jamu daripada mengobati dengan obat).

Ini adalah konsep promotif-preventif yang kini baru digaungkan oleh Kemenkes. Leluhur Madura sudah melakukannya ratusan tahun. Setiap pagi, seorang ibu akan memastikan anak dan suaminya minum jamu sebelum berangkat ke ladang atau melaut.
Jamu Madura itu pahit, tapi kejujuran tentang kesehatannya memang manis. Ia mengajarkan kesabaran. Tidak seperti obat instan yang langsung menghilangkan gejala, jamu mengajarkan tubuh untuk membangun ketahanan dari dalam. Inilah yang disebut baras se ros-terrosan (sehat yang berkelanjutan).
Ketika UNESCO mengakui jamu sebagai warisan dunia, itu seharusnya menjadi momentum bagi Madura untuk tidak hanya menjadi produsen, tapi menjadi pusat edukasi jamu nasional.
Taneyan Lanjhang : Vaksin Mental yang Hampir Hilang
Orang Madura tidak mengenal istilah safe space atau healing. Orang Madura punya yang lebih kuat "Taneyan Lanjhang".
Halaman panjang bersama dengan beberapa rumah keluarga hidup dalam satu pekarangan. Di sanalah semua terjadi. Jika satu keluarga sakit, keluarga lain tahu. Jika seorang anak sossa ate (gelisah), tidak perlu ke psikolog dulu, cukup duduk di taneyan ditemani buppa', bhabhu', dan pho-kopho sambil minum teh.
Kesehatan mental modern berbicara tentang pentingnya social support system. Taneyan Lanjhang adalah sistem itu. Ia adalah jaring pengaman psikologis.
Hari ini, taneyan itu mulai hilang. Diganti rumah-rumah area berpagar tinggi. Anak muda Madura merantau, hidup di kos sempit di Surabaya, cemas sendirian, setres sendirian, dan akhirnya sakit sendirian. Kita kehilangan taneyan, kita kehilangan tempat untuk berbagi rasa.
Penyakit zaman sekarang bukan hanya darah tinggi dan kolesterol, tapi kesepian. Dan obat kesepian itu bukan obat, tapi kebersamaan ala Taneyan Lanjhang.
Budaya Malo dan Rokat : Etika Menjaga Diri
Orang Madura sangat memegang prinsip: Buppa' Babhu' Ghuru Ratoh (hormat pada bapak, ibu, guru, dan pemimpin). Dan ada prinsip malo (malu) untuk berbuat buruk.
Dalam konteks kesehatan, malo (malu) itu dianalogikan seperti rem. Malu untuk makan berlebihan, malu untuk mabuk-mabukan, malu untuk tidak menjaga kebersihan diri. Ini adalah kontrol sosial untuk kesehatan.
Pada tradisi Rokat Tase' (petik laut) dan Rokat Dhisa (selamatan desa). Itu bukan sekadar pesta. Itu adalah ritual untuk membersihkan lingkungan, mensyukuri hasil laut, dan menyeimbangkan hubungan manusia dengan alam. Tubuh yang sehat tidak mungkin lahir dari lingkungan yang kotor dan laut yang rusak. Leluhur kita sudah paham konsep one health - kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan merupakan satu-kesatuan.
Orang Madura yang kuat, abhantal omba' asapo' angin (berbantal ombak berselimut angin) saat melaut, mereka tahu persis bahwa menjaga laut tetap bersih sama seperti menjaga dapur dan paru-parunya.
Saatnya Kembali ke Taneyan
Lalu apa tugas kita hari ini?
Kita tidak butuh menolak rumah sakit modern. Puskesmas dan RSUD di empat kabupaten yang terletak di Madura harus tetap menjadi pilar. Tapi kita harus mengembalikan kesehatan ke pangkuan kebudayaannya.
Di sekolah-sekolah di Madura, ajarkan kembali anak-anak membuat jamu, bukan hanya menghafal nama latinnya. Jadikan muatan lokal jamu sebagai kebanggaan, bukan pelajaran kuno.
Di setiap desa, hidupkan kembali fungsi Taneyan Lanjhang bukan hanya sebagai arsitektur, tetapi sebagai posyandu mental. Tempat di mana ibu-ibu bisa bercerita tentang kecemasannya tanpa takut dihakimi.
Di setiap kebijakan kesehatan, libatkanlah kiai. Karena di Madura, jika kiai sudah mengatakan "Jamu itu bagus untuk kesehatan", maka seluruh santri akan mengikutinya. Itu kekuatan budaya yang tidak dimiliki brosur kesehatan mana pun.
Bangsa yang sehat bukan bangsa yang melupakan jamunya. Madura telah menjaga Indonesia sehat selama ratusan tahun dengan ramuannya.
Kini saatnya kita menjaga Madura tetap sehat dengan kebudayaannya sendiri.
Karena bagi orang Madura, sehat itu bukan hanya tidak sakit, tapi baras, cokop, dan ateh tenang — bugar badan, tercukupi, dan tenteram jiwa.













