Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Melalui WhatsApp, Instagram, TikTok, dan Facebook, masyarakat dapat berkomunikasi, memperoleh informasi, serta berbagi pengalaman dengan mudah. Namun, di balik manfaat tersebut, penggunaan media sosial yang tidak bijak juga dapat memengaruhi kesehatan mental, terutama ketika seseorang terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain, menghadapi perundungan digital, atau merasa tertekan oleh tuntutan sosial.

Karena itu, menggunakan media sosial secara bijak bukan sekadar persoalan mengatur waktu di depan layar, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan emosi dan membangun hubungan yang sehat di dunia digital.
Kesehatan Mental di Tengah Ramainya Dunia Digital

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa satu dari tujuh anak berusia 10–19 tahun di dunia mengalami gangguan kesehatan mental. Kecemasan dan depresi termasuk persoalan yang dapat memengaruhi kehidupan, pendidikan, serta hubungan sosial remaja.
WHO juga menegaskan bahwa hubungan antara teknologi digital dan kesehatan mental tidak selalu negatif. Media sosial dapat menjadi sarana memperoleh dukungan emosional dan membangun pertemanan. Namun, penggunaan bermasalah dapat menimbulkan dampak buruk, terutama bagi kelompok yang rentan.

Oleh sebab itu, penting bagi setiap pengguna untuk mengenali pengaruh media sosial terhadap suasana hati, pola tidur, konsentrasi, dan kehidupan sehari-hari.
Fakta Jawa Timur 2026 Tentang Tantangan Kesehatan Mental Remaja
Perhatian terhadap kesehatan mental remaja juga menguat di Jawa Timur. Pada 6 Oktober 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kesehatan menyoroti tekanan prestasi dan penggunaan media sosial sebagai tantangan kesehatan mental anak sekolah dan remaja.

Pemerintah provinsi juga menyiapkan layanan Sehati Jatim melalui program Mental Wellness and Happiness Service sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif kesehatan jiwa. Inisiatif ini menunjukkan pentingnya dukungan kesehatan mental yang mudah dijangkau masyarakat.
Sementara itu, pada Maret 2026, Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya menyoroti peningkatan anak dan remaja yang berkonsultasi akibat penggunaan gawai bermasalah. Kondisi yang dilaporkan mencakup persoalan terkait media sosial dan permainan daring. Meski demikian, informasi tersebut tidak menunjukkan bahwa semua pengguna media sosial akan mengalami gangguan mental.
Kenali Dampak Penggunaan Media Sosial Berlebihan
Penggunaan media sosial yang tidak terkendali dapat membuat seseorang kehilangan waktu istirahat, sulit berkonsentrasi, atau merasa gelisah ketika jauh dari ponsel.
Melihat pencapaian orang lain secara terus-menerus juga dapat memunculkan perasaan tertinggal dan rendah diri. Padahal, unggahan di media sosial umumnya hanya menampilkan bagian tertentu dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan kenyataan.
Selain itu, komentar kasar, perundungan siber, dan penyebaran informasi pribadi tanpa izin dapat menimbulkan tekanan emosional. Jika pengalaman tersebut terus berulang, seseorang mungkin merasa tidak nyaman saat berinteraksi dengan orang lain.
Karena itu, penting untuk memahami bahwa jumlah pengikut, tanda suka, dan komentar bukan ukuran nilai diri seseorang.
Lima Cara Bijak Bermedia Sosial
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan untuk menjaga kesehatan mental di era digital.
Pertama, batasi waktu penggunaan. Tentukan waktu khusus untuk membuka media sosial dan hindari kebiasaan menggulir layar tanpa tujuan.
Kedua, pilih konten yang sehat. Ikuti akun yang memberikan informasi bermanfaat, inspirasi positif, dan dukungan emosional.
Ketiga, berhenti membandingkan diri. Setiap orang memiliki perjalanan, kemampuan, dan kesempatan yang berbeda.
Keempat, lindungi diri dari perundungan digital. Gunakan fitur blokir atau laporkan akun yang mengganggu. Jangan ragu meminta bantuan orang tepercaya jika mengalami perundungan.
Kelima, utamakan kehidupan nyata. Luangkan waktu untuk tidur cukup, berolahraga, menjalankan hobi, dan berbincang langsung dengan keluarga atau teman.
Jangan Ragu Mencari Bantuan
Jika penggunaan media sosial mulai mengganggu tidur, kegiatan belajar, hubungan sosial, atau suasana hati dalam waktu lama, jangan abaikan kondisi tersebut. Bicarakan perasaan dengan orang tua, guru BK, konselor, atau tenaga kesehatan mental.
Menjaga kesehatan mental bukan berarti harus meninggalkan media sosial sepenuhnya. Hal terpenting adalah memahami batasan, menggunakan teknologi secara sadar, dan tidak membiarkan kehidupan digital menguasai keseharian.
Bijak bermedia sosial berarti mampu mengambil manfaat teknologi tanpa mengorbankan kesehatan mental. Mari membangun ruang digital yang lebih aman, saling menghargai, dan mendukung kesejahteraan bersama.
Daftar Pustaka;
1. World Health Organization (WHO). (2025). Mental Health of Adolescents. WHO, 1 September 2025.
2. World Health Organization Regional Office for Europe. (2025). Addressing the Digital Determinants of Youth Mental Health and Well-Being : Policy Brief.
3. Suara Surabaya. (2026). Tuntutan Prestasi dan Media Sosial Jadi Tantangan Kesehatan Jiwa Remaja, Pemprov Siapkan Layanan Sehati Jatim. 6 Oktober 2026.
4. Radio Republik Indonesia (RRI). (2026). RSJ Menur Soroti Adiksi Gadget Remaja. 10 Maret 2026.
5. Nagata, J. M., et al. (2025). Social Media Use and Adolescents' Mental Health and Well-Being : An Umbrella Review.











