Di tengah derasnya arus informasi digital, WhatsApp menjadi salah satu sarana masyarakat untuk berbagi kabar, termasuk informasi kesehatan. Mulai dari tips menjaga daya tahan tubuh, pengobatan tradisional, hingga kabar mengenai vaksin dan penyakit, semuanya dapat menyebar dalam hitungan menit. Sayangnya, tidak semua informasi yang diterima benar. Tanpa pemeriksaan, pesan berantai justru berpotensi menyesatkan dan membahayakan kesehatan.

Karena itu, kebiasaan memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya menjadi bagian penting dalam melindungi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Hoaks Kesehatan Masih Menjadi Ancaman

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat sebanyak 2.622 hoaks kesehatan beredar di berbagai platform digital selama Agustus 2018 hingga September 2026. Data tersebut disampaikan Kementerian Kesehatan dalam peluncuran Playbook Respons Cepat Penanganan Hoaks Kesehatan pada 17 September 2026.

Kemenkes juga melaporkan bahwa cakupan imunisasi nasional menurun dari 95 persen pada 2023 menjadi 87% pada 2024 dan 80% pada 2025. Hoaks kesehatan, termasuk informasi keliru mengenai imunisasi, menjadi salah satu persoalan yang perlu ditangani melalui kolaborasi lintas sektor.

Data ini menunjukkan bahwa penyebaran informasi keliru bukan sekadar persoalan komunikasi digital, melainkan juga tantangan bagi kesehatan masyarakat.

Jawa Timur Perkuat Gerakan Cek Fakta

Di Jawa Timur, upaya melawan hoaks juga terus diperkuat. Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Timur mengembangkan Klinik Hoaks sebagai sarana bagi masyarakat untuk memeriksa kebenaran informasi yang beredar.

Pada 2026, Diskominfo Jatim juga mendorong gerakan literasi digital melalui program Cek Dulu! yang diluncurkan bersama City Guide 911 FM Malang pada Agustus 2026.

Berdasarkan data Klinik Hoaks Diskominfo Jatim, sebanyak 1.172 dari 1.320 konten yang diverifikasi sepanjang 2025 teridentifikasi sebagai hoaks. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 88,8 persen dari seluruh konten yang diperiksa.

Meskipun data tersebut mencakup hoaks secara umum dan bukan khusus informasi kesehatan di WhatsApp, angkanya memperlihatkan pentingnya kemampuan masyarakat Jawa Timur dalam memeriksa informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Kenali Ciri-Ciri Hoaks Kesehatan

Hoaks kesehatan sering menggunakan judul sensasional, menjanjikan kesembuhan instan, atau mengklaim suatu bahan dapat menyembuhkan berbagai penyakit tanpa bukti ilmiah.

Pesan berantai juga kerap menggunakan kalimat seperti "sebarkan sebelum dihapus", mencatut nama dokter atau lembaga kesehatan, serta menyertakan foto dan video tanpa konteks yang jelas.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa informasi keliru dapat menyebar tanpa niat menipu, sedangkan disinformasi sengaja dibuat atau disebarkan untuk menyesatkan. Keduanya dapat memengaruhi keputusan kesehatan dan mengurangi kepercayaan terhadap sumber informasi yang kredibel.

Karena itu, jangan langsung mempercayai pesan hanya karena dikirim oleh anggota keluarga, teman dekat, atau seseorang yang dianggap memahami kesehatan.

Lima Langkah Memeriksa Informasi Sebelum Membagikan

Masyarakat dapat menerapkan langkah sederhana untuk menghindari penyebaran hoaks kesehatan.

Pertama, berhenti sejenak. Jangan langsung meneruskan pesan yang mengejutkan, menakutkan, atau membuat panik.

Kedua, periksa sumbernya. Pastikan informasi berasal dari lembaga resmi, tenaga kesehatan yang kompeten, atau publikasi ilmiah yang dapat ditelusuri.

Ketiga, periksa tanggal dan konteks. Informasi lama yang dibagikan kembali belum tentu sesuai dengan kondisi terkini.

Keempat, bandingkan dengan sumber tepercaya. Periksa apakah informasi serupa juga disampaikan Kementerian Kesehatan, WHO, BPOM, atau dinas kesehatan setempat.

Kelima, jangan sebarkan jika belum terverifikasi. Apabila menemukan pesan mencurigakan, masyarakat dapat memanfaatkan Klinik Hoaks Diskominfo Jatim untuk membantu memeriksa kebenarannya.

WHO juga menganjurkan masyarakat untuk berpikir kritis, memeriksa sumber klaim, dan mencari informasi berbasis bukti sebelum mengambil keputusan kesehatan.

Bijak Bermedia Sosial, Lindungi Kesehatan Bersama

Melawan hoaks kesehatan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau tenaga kesehatan, tetapi juga seluruh pengguna media digital. Satu pesan yang tidak diperiksa dapat menjangkau banyak orang dan memengaruhi keputusan mereka, termasuk keputusan untuk menjalani pengobatan atau mengikuti imunisasi.

Sebaliknya, satu tindakan sederhana dengan tidak meneruskan informasi yang belum terbukti dapat membantu memutus rantai penyebaran kabar keliru.

Mari membangun kebiasaan saring sebelum sharing. Sebelum menekan tombol kirim di WhatsApp, luangkan waktu untuk memeriksa sumber, memastikan kebenaran, dan mempertimbangkan dampaknya. Sebab, menjaga kesehatan masyarakat juga dimulai dari informasi yang benar.

Daftar Pustaka;

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Kesehatan Masyarakat Terancam, Kemenkes dan Komdigi Kolaborasi dengan Mitra Strategis Membangun Ekosistem Penanganan Hoaks. 18 September 2026.

2. Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur. (2026). 1.172 Konten Teridentifikasi Hoaks, Diskominfo Jatim Perkuat Literasi Digital lewat Cek Dulu. 20 Agustus 2026.

3. World Health Organization (WHO). (2024). Disinformation and Public Health. 6 Februari 2024.

4. World Health Organization (WHO). Global Principles for Identifying Credible Sources of Health Information on Social Media.

5. Mufaz, M. A., Asyhari, M. R., & Mulyadi, U. (2026). Health Misinformation: Studi Penyebaran Hoaks Kesehatan pada Grup WhatsApp Keluarga. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, Vol. 2, No. 3, Juli–September 2026.