Tuberkulosis (TBC) belum selesai. WHO Global TB Report 2025 yang menjadi rujukan tahun 2026 mencatat Indonesia tetap di peringkat ke-2 dunia dengan 1,1 juta kasus baru dan 118.000 kematian per tahun, meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Data WHO lain menyebut estimasi lebih dari 1 juta terdiagnosis dan sekitar 134.000 kematian per tahun. Artinya 14 orang meninggal tiap jam.

11% dari kasus adalah anak usia 0-14 tahun, atau sekitar 119.000 anak. Di tengah kekosongan vaksin baru, BCG (Bacille Calmette-Guérin) yang digunakan sejak 1921 dan telah diberikan pada 4 miliar bayi, tetap menjadi satu-satunya tameng.

Hingga September 2025 WHO mencatat 16 kandidat vaksin TBC baru masih dalam uji klinis, termasuk vaksin M72 yang baru masuk Fase 3 dan diprediksi baru tersedia akhir 2028 atau awal 2029. Jadi tahun 2026, BCG tidak tergantikan.

Bukan Sekadar Anti-TBC

BCG terbuat dari Mycobacterium bovis yang dilemahkan, disuntik intradermal 0,05 ml di lengan kanan atas usia 0-1 bulan. Mekanisme terbarunya bukan hanya antibodi, tapi Trained Immunity yang dipublikasikan Nature Immunology 2024 bahwa BCG memprogram ulang sel makrofag dan Natural Killer Cell di sumsum tulang agar lebih reaktif terhadap berbagai infeksi selama 12-18 bulan pertama.

Efektivitas menurut meta-analisis The Lancet Infectious Diseases 2024 dan konfirmasi Stop TB Partnership Indonesia 2025:

- Mencegah TBC berat milier dan meningitis TBC pada bayi: 73-86% efektif.

- Mencegah TBC paru pada anak <5 tahun: 50-60% efektif.

- Durasi proteksi: 10-15 tahun. Prof. Erlina Burhan,

Dewan Pakar STPI 2025 menegaskan, cakupan BCG di Indonesia sudah luas 80-90%, tapi efektivitasnya menurun setelah 10 tahun, sehingga kelompok bayi adalah yang paling diuntungkan.

Studi Uganda 2025 pada 5.400 bayi: bayi BCG tepat waktu mengalami penurunan infeksi saluran napas berat 38% dan sepsis neonatal 32%. Studi WHO 2024 pada 1,2 juta bayi di 14 negara : all-cause mortality turun 25% pada tahun pertama jika BCG diberikan di minggu pertama.

Data WHO-UNICEF 2024 cakupan global BCG 87-88%. Di Indonesia cakupan BCG 2024 menurut Kemenkes RI 88,7%, masih di bawah target nasional 95%. Strategi Nasional TBC 2025-2029 menargetkan di 2026, berupa penemuan dan pengobatan 90% estimasi kasus, treatment success rate 90% di fasilitas swasta, dan 100% kabupaten/kota memiliki tim Public Private Mix.

Keterlambatan BCG masih tinggi. Kemenkes 2025 mencatat 23% orang tua menunda karena takut demam dan bekas luka. Padahal bekas luka kecil 3-5 mm yang muncul 4-6 minggu adalah tanda respon imun berhasil, bukan infeksi.

Keamanan dan Risiko Tanpa BCG

Keamanan BCG sangat tinggi. Komnas KIPI 2024: KIPI serius hanya 1 per 1.000.000 dosis, berupa limfadenitis supurativa yang bisa diobati. Kontraindikasi hanya pada bayi HIV simtomatik dan imunodefisiensi berat. Bayi prematur >2,5 kg aman diimunisasi.

IDAI 2025 mencatat 85% kasus meningitis TBC pada bayi terjadi pada bayi tanpa BCG, dengan mortalitas 20% dan cacat neurologis permanen 60%. Bayi yang tinggal serumah dengan penderita TBC dewasa tanpa BCG memiliki risiko tertular 50%.

Secara ekonomi, 1 dosis BCG Rp 28.000, sementara biaya pengobatan TBC anak Rp 15-50 juta per kasus. Vaksinasi tepat waktu menghemat anggaran negara dan mencegah tragedi keluarga.

Di tahun 2026, ketika vaksin M72 baru masih diuji di Indonesia, Afrika Selatan dan negara lain, BCG tetap menjadi investasi hidup paling murah dan paling terbukti.

Kemenkes dan IDAI mewajibkan BCG usia 0-7 hari bersamaan dengan imunisasi lain. Jangan tunda, karena TBC tidak menunggu bayi besar.