Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Pamolokan, Kabupaten Sumenep, menghadirkan inovasi PELITA (Pembelajaran Edukasi Ibu Hamil dan Balita Interaktif, Terarah, dan Amanah) untuk meningkatkan pengetahuan serta partisipasi masyarakat dalam menjaga kesehatan ibu hamil dan balita. Inovasi ini dikembangkan sebagai jawaban atas rendahnya keikutsertaan masyarakat dalam edukasi kesehatan akibat keterbatasan waktu, pekerjaan, jarak, serta akses konsultasi di luar jam pelayanan.

Melalui PELITA, Puskesmas Pamolokan mengembangkan sistem edukasi kesehatan berbasis campuran yang memadukan kelas tatap muka dengan layanan digital. Program ini menyasar ibu hamil, ibu balita, suami, dan keluarga agar memperoleh informasi kesehatan yang mudah diakses serta pendampingan berkelanjutan selama masa kehamilan hingga pengasuhan anak.
Inovasi yang digagas Imamatul Hikmah ini memiliki lima pilar utama. Pertama, kelas reguler dan daring bagi ibu hamil serta ibu balita. Kedua, telekonsultasi kesehatan melalui pemindaian barcode yang terhubung dengan tenaga kesehatan. Ketiga, kanal WhatsApp sebagai sarana berbagi materi edukasi, video pembelajaran, dan informasi layanan kesehatan.

Pilar keempat adalah Couple Class, yakni kelas yang melibatkan suami dan keluarga untuk memperkuat dukungan selama kehamilan dan pengasuhan anak. Sementara itu, pilar kelima berupa apresiasi kepada peserta aktif melalui voucher kesehatan dan penghargaan.
Imamatul Hikmah selaku penggagas inovasi PELITA, menjelaskan bahwa program ini dirancang agar edukasi kesehatan tidak berhenti pada pertemuan di kelas, tetapi berlanjut melalui pendampingan yang lebih fleksibel dan mudah dijangkau masyarakat.

“Melalui inovasi PELITA, kami ingin memastikan ibu hamil dan ibu balita tetap mendapatkan edukasi serta pendampingan kesehatan yang mudah diakses, tanpa terkendala waktu maupun jarak. Kami juga mendorong keterlibatan suami dan keluarga agar kesehatan ibu selama kehamilan serta tumbuh kembang anak menjadi tanggung jawab bersama,” tuturnya.
Dampak inovasi tersebut terlihat dari sejumlah capaian yang dilaporkan Puskesmas Pamolokan. Pengetahuan peserta mengenai kehamilan, gizi, persiapan persalinan, dan pengasuhan balita meningkat. Pemanfaatan kanal WhatsApp turut berkembang, disertai peningkatan persalinan di fasilitas kesehatan dan penurunan anemia pada ibu hamil.
Salah satu capaian yang menonjol ialah penurunan kasus gizi buruk balita dari tujuh kasus pada 2024 menjadi nol kasus pada 2026. Survei kepuasan masyarakat juga menunjukkan hasil dalam kategori sangat baik.

Kepala Puskesmas Pamolokan, Novia Sri Wahyuni menegaskan komitmen pihaknya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
“Kami akan selalu mengupayakan pelayanan terbaik untuk masyarakat sesuai motto Puskesmas kami, yaitu MELATI (Melayani dengan Ikhlas dan Sepenuh Hati). Semoga inovasi PELITA dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat, terutama di wilayah Puskesmas Pamolokan,” ujarnya.
Melalui PELITA, Puskesmas Pamolokan berharap edukasi kesehatan ibu dan anak semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Pendekatan yang fleksibel, keterlibatan keluarga, dan pemanfaatan teknologi diharapkan menjadi langkah berkelanjutan untuk mendukung tumbuh kembang anak serta mewujudkan generasi yang lebih sehat.












