Kecerdasan emosional bukan sekadar kemampuan anak untuk mengendalikan marah atau berhenti menangis. Lebih dari itu, kecerdasan emosional mencakup kemampuan mengenali perasaan, memahami emosi orang lain, mengelola respons, berkomunikasi, serta membangun hubungan yang sehat. Karena itu, membina kecerdasan emosional sejak dini menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Mengapa Kecerdasan Emosional Penting?

Anak yang belajar mengenali emosinya akan lebih mudah memahami apa yang sedang dirasakan dan menyampaikannya dengan cara yang tepat. Ketika kecewa, misalnya, anak dapat belajar mengatakan bahwa dirinya sedih atau marah tanpa harus melampiaskannya kepada orang lain.

Kemampuan tersebut tidak muncul begitu saja. Anak mempelajarinya melalui contoh, kebiasaan dan interaksi sehari-hari, terutama dari orang tua, guru dan lingkungan terdekat.

Tantangan Kesehatan Mental Anak

Pentingnya membangun kemampuan emosional semakin terlihat dari kondisi kesehatan mental anak dan remaja. Kementerian Kesehatan pada Maret 2026 melaporkan bahwa dari sekitar 7 juta anak yang mengikuti skrining dalam Program Cek Kesehatan Gratis, 4,4 persen menunjukkan indikasi gejala kecemasan dan 4,8 persen menunjukkan indikasi gejala depresi. Angka tersebut merupakan hasil skrining dan bukan diagnosis gangguan mental.

Kemenkes juga menyampaikan pada April 2026 bahwa berdasarkan Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, sekitar 1 dari 3 remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam satu tahun terakhir. Data tersebut menunjukkan pentingnya kemampuan mengenali dan membicarakan emosi sejak usia lebih muda.

Fakta di Jawa Timur

Perhatian terhadap kesehatan mental anak juga semakin berkembang di Jawa Timur. RSD Prof. dr. Moeljono atau RS Menur Surabaya pada 2026 memperkuat deteksi dini kesehatan mental anak dan remaja melalui sekolah. Rumah sakit tersebut menekankan bahwa penanganan kesehatan mental tidak cukup hanya dilakukan ketika anak sudah membutuhkan perawatan, tetapi perlu melibatkan keluarga, sekolah dan lingkungan sekitar tempat tinggal.

Penelitian yang diterbitkan pada 2026 mengenai promosi kesehatan mental di sekolah-sekolah SMP Surabaya juga menunjukkan adanya berbagai program seperti UKS, sekolah ramah anak, konselor sebaya dan penilaian risiko kesehatan mental. Studi tersebut melibatkan 161 sekolah dan menemukan bahwa pelaksanaan program kesehatan mental masih menghadapi sejumlah tantangan. Antara lain dari sisi anak itu sendiri, orang tua, bahkan sosial budaya tempat anak berinteraksi sehari-hari.

Peran Orang Tua Sangat Penting

Membina kecerdasan emosional tidak harus dilakukan melalui kegiatan yang rumit. Orang tua dapat memulainya dengan mendengarkan anak ketika berbicara, membantu memberi nama pada emosinya, serta menghindari kebiasaan langsung memarahi ketika anak melakukan kesalahan.

Kalimat sederhana seperti, “Kamu terlihat kecewa, mau cerita?” dapat membuka ruang komunikasi. Anak juga perlu belajar bahwa semua emosi boleh dirasakan, tetapi tidak semua perilaku boleh dilakukan.

Sekolah sebagai Ruang Belajar Emosi

Sekolah memiliki peran penting dalam membantu anak mengembangkan keterampilan sosial dan emosional. Guru dapat membangun suasana kelas yang aman untuk bertanya, berpendapat dan menyelesaikan konflik secara sehat.

Kegiatan kelompok, permainan edukatif, konseling dan pembelajaran tentang empati dapat menjadi sarana untuk melatih kemampuan tersebut.

Membesarkan Anak Bukan Hanya soal Prestasi

Prestasi akademik memang penting, tetapi kemampuan anak memahami dirinya sendiri, menghadapi kekecewaan, berempati dan berkomunikasi juga merupakan bekal kehidupan.

Membina kecerdasan emosional sejak dini bukan berarti membuat anak selalu tenang atau tidak pernah marah. Tujuannya adalah membantu anak memahami apa yang dirasakan, mengelolanya secara sehat, dan belajar menghadapi berbagai situasi dengan cara yang lebih baik.

Dengan keluarga dan sekolah yang mau mendengarkan serta memahami, anak memiliki ruang yang lebih aman untuk tumbuh, belajar dan berkembang membina kecerdasan emosionalnya.