Kolesterol sering dianggap sebagai sesuatu yang sepenuhnya buruk bagi tubuh. Padahal, kolesterol merupakan senyawa yang dibutuhkan oleh tubuh untuk membentuk sel dan menjalankan sejumlah fungsi tubuh, salah satunya untuk pembentukan hormon. Masalah muncul ketika kadar kolesterol terlalu tinggi dan melebihi batas normal.

Dalam tubuh ada pula yang dikenal dengan lemak jahat berupa low density Lipoprotein (LDL). Kolesterol dan LDL yang berlebihan dalam tubuh berkontribusi menumpuk dalam pembuluh darah dan membentuk plak yang menempel dalam pembuluh darah. Hal ini meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah bahkan bisa berakibat stroke.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada September 2026 menyebutkan bahwa gangguan keseimbangan kadar lemak dalam darah atau disebut juga dislipidemia merupakan salah satu faktor risiko timbulnya penyakit jantung dan pembuluh darah. Dislipidemia ini merupakan faktor risiko yang dapat diubah. WHO memperkirakan sekitar 39 persen orang dewasa di dunia memiliki kadar kolesterol total yang meningkat. Pada 2023, LDL tinggi diperkirakan berkontribusi terhadap 3,6 juta kematian secara global.

Mengenal LDL, HDL dan Trigliserida

Pemeriksaan laboratorium profil lemak tubuh bisanya mencakup kolesterol total, lemak jahat LDL, lemak baik High density Lipoprotein (HDL), dan Trigliserida (TG). LDL sering dikenal dengan lemak jahat , karena kadarnya yang tinggi di atas normal dapat menumpuk dan membentuk plak dalam dinding pembuluh darah. Pembentukan plak yang berlangsung lama ini mengakibatkan pembuluh darah menjadi sempit.

Sedangkan HDL dikenal sebagai lemak baik. HDL ini membantu membersihkan pembuluh darah dari kolesterol dan HDL berlebih untuk diproses lebih lanjut dalam tubuh. Sedangkan TG merupakan lemak dalam pembuluh darah yang berasal dari kelebihan energi makanan yang tidak langsung digunakan sebagai sumber energi tubuh.

Yang perlu diperhatikan, gangguan kolesterol sering tidak menimbulkan gejala. Seseorang dapat merasa sehat meskipun kadar lipid darahnya sudah tidak ideal. Oleh sebab itu, pemeriksaan laboratorium darah menjadi penting, terutama bagi mereka yang mengidap penyakit jantung, diabetes militus, dan hipertensi, bahkan obesitas maupun keluarga yang memiliki riwayat penyakit tersebut. Hal ini karena kadar kolesterol darah yang tidak normal sering kali tidak menimbulkan gejala.

Bagaimana Kondisinya di Jawa Timur?

Belum terdapat angka prevalensi kolesterol tinggi khusus Jawa Timur tahun 2026 yang dapat dijadikan angka resmi provinsi dalam sumber BPS tersebut. Karena itu, gambaran faktor risiko lebih tepat dilengkapi dengan data nasional.

Pola Makan Menjadi Kunci

WHO pada 2026 merekomendasikan pola makan yang beragam, seimbang, cukup dan moderat. Masyarakat dianjurkan memperbanyak sayuran, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh dan sumber protein yang lebih sehat, sekaligus membatasi makanan tinggi lemak tidak sehat, gula bebas dan garam.

Dalam kehidupan sehari-hari, pilihan sederhana dapat dilakukan dengan mengurangi gorengan berlebihan, makanan tinggi lemak jenuh dan makanan ultra-proses. Sebaliknya, ikan, sayur, buah, kacang-kacangan dan sumber serat dapat lebih sering dimasukkan ke dalam menu.

Aktif Bergerak dan Berhenti Merokok

Menjaga kolesterol tidak hanya berkaitan dengan makanan. Aktivitas fisik teratur, menjaga berat badan dalam rentang sehat dan tidak merokok merupakan bagian penting dari pencegahan penyakit kardiovaskular. WHO menegaskan bahwa pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, penggunaan tembakau dan obesitas merupakan faktor perilaku penting yang meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.

Pada Juni 2026, Kementerian Kesehatan juga kembali menekankan pentingnya deteksi dini melalui pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol dan obesitas. Pemeriksaan rutin membantu seseorang mengetahui kondisi kesehatannya sebelum muncul komplikasi.

Tips Jitu Mengendalikan Faktor Risiko Penyakit Jantung, Hipertensi, dan Diabetes Melitus

Menurut Kementerian Kesehatan RI, perilaku CERDIK ditujukan untuk pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular, sedangkan PATUH terutama ditekankan bagi orang yang sudah memiliki penyakit atau faktor risiko dan perlu melakukan pengendalian secara teratur. Keduanya relevan untuk membantu menjaga kadar kolesterol dan menurunkan risiko penyakit jantung serta pembuluh darah.

Cara Jitu Lebih C – E – R – D – I – K

C – Cek kesehatan secara berkala

Pemeriksaan rutin membantu mengetahui kondisi tubuh, termasuk kadar kolesterol, tekanan darah, gula darah, berat badan, dan faktor risiko lainnya. Dengan mengetahui hasil pemeriksaan, langkah pencegahan dapat dilakukan lebih dini.

E – Enyahkan asap rokok

Menghindari rokok dan asap rokok penting untuk menjaga kesehatan pembuluh darah serta mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.

R – Rajin aktivitas fisik

Aktivitas fisik secara rutin merupakan bagian dari gaya hidup sehat dan membantu mengendalikan berbagai faktor risiko penyakit tidak menular, termasuk yang berkaitan dengan kesehatan jantung.

D – Diet sehat dengan gizi seimbang

Pola makan seimbang menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan. Untuk pengelolaan kolesterol, perhatian dapat diberikan pada kualitas dan jumlah makanan, terutama dengan membatasi makanan tinggi lemak jenuh dan membangun pola makan yang lebih sehat.

I – Istirahat yang cukup

Tidur dan istirahat yang cukup merupakan bagian dari pola hidup sehat dan membantu menjaga kondisi tubuh secara keseluruhan.

K – Kelola stres dengan baik

Pengelolaan stres merupakan salah satu komponen CERDIK yang mendukung kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Lebih Sehat dengan P – A – T – U – H

Untuk orang yang sudah mempunyai penyakit atau membutuhkan pengendalian faktor risiko, Kemenkes menggunakan pendekatan PATUH:

P – Periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter

A – Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat dan teratur

T – Tetap diet dengan gizi seimbang

U – Upayakan aktivitas fisik dengan aman

H – Hindari asap rokok, alkohol, dan zat karsinogenik.

CERDIK menekankan kebiasaan hidup sehat dan deteksi dini, sedangkan PATUH menekankan pengendalian kondisi kesehatan secara konsisten bagi mereka yang sudah memiliki penyakit atau faktor risiko. Keduanya bukan pengganti pemeriksaan atau terapi medis, tetapi menjadi bagian dari upaya pengendalian risiko kardiovaskular.

Sumber rujukan;

1. World Health Organization (WHO). Dyslipidaemia, 15 September 2026.

2. World Health Organization (WHO). Healthy Diet, 26 Januari 2026.

3. World Health Organization (WHO). Cardiovascular Diseases (CVDs), 31 Juli 2025.

4. Kementerian Kesehatan RI. Menkes Dorong Pekerja Rutin Cek Kesehatan Gratis untuk Cegah Penyakit Mematikan, 23 Juni 2026.

5. Alodokter. Trigriserida Tinggi, 29 Desember 2025

6. Kemenkes RI – Cegah Penyakit Jantung dengan Menerapkan Perilaku CERDIK dan PATUH

7. Kemenkes RI – CERDIK, Rahasia Masa Muda Sehat dan Masa Tua Nikmat

8. Ditjen Kesehatan Lanjutan Kemenkes – Penanganan Hipertensi dengan Perilaku CERDIK dan PATUH

9. Kemenkes RI – Kenali Gejala Jantung Sejak Dini