Indonesia sedang menghitung hari menuju satu abad kemerdekaan. Pada 2045, negeri ini bercita-cita menjadi negara maju dengan generasi unggul sebagai penggerak utama. Namun, di balik optimisme itu, ancaman kesehatan mengintai. Anak-anak yang hari ini disiapkan menjadi generasi emas berisiko memasuki usia produktif dengan tubuh yang telah digerogoti penyakit kronis.

Setelah bertahun-tahun mencurahkan perhatian pada stunting, Indonesia menghadapi tantangan kesehatan lain yang tak kalah serius. Hipertensi, diabetes, obesitas, penyakit jantung, hingga gagal ginjal bukan lagi persoalan yang semata-mata melekat pada usia senja. Faktor risikonya dapat tumbuh sejak masa kanak-kanak dan remaja, sering kali tanpa keluhan yang berarti.
Pertanyaannya, mampukah Indonesia memetik bonus demografi jika generasi mudanya justru harus bergulat dengan penyakit yang semestinya dapat dicegah?

Data kesehatan nasional memberi alasan untuk tidak menganggap enteng ancaman itu. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran mencapai 30,8 persen pada penduduk berusia 18 tahun ke atas. Pada kelompok usia 15 tahun ke atas, prevalensi diabetes berdasarkan pemeriksaan gula darah mencapai 11,7 persen.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya tersimpan risiko menurunnya kualitas hidup, produktivitas, serta meningkatnya kebutuhan pembiayaan kesehatan. Penyakit yang berkembang secara perlahan kerap baru diketahui ketika komplikasi telah terjadi.

Jawa Timur dan Madura, Ancaman yang Tak Bisa Diabaikan
Gambaran Jawa Timur memperlihatkan persoalan yang sama. SKI 2023 mencatat prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran pada penduduk berusia 15 tahun ke atas mencapai 32,8 persen. Angka itu melampaui prevalensi nasional pada kelompok usia yang sama, yakni 29,2 persen.
Artinya, hampir satu dari tiga penduduk Jawa Timur berusia 15 tahun ke atas yang terwakili dalam survei tersebut mengalami hipertensi berdasarkan hasil pengukuran. Kenyataan ini menjadi peringatan bahwa pengendalian tekanan darah tidak bisa hanya mengandalkan pelayanan ketika pasien sudah jatuh sakit.

Di Madura, tantangannya tak kalah nyata. Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep merupakan bagian dari Jawa Timur yang juga menghadapi persoalan pengendalian penyakit tidak menular. Namun, besarnya persoalan di masing-masing kabupaten perlu dilihat melalui data daerah, bukan sekadar menarik kesimpulan dari angka provinsi.
Data Satu Data Kabupaten Pamekasan mencatat sebanyak 29.551 penderita hipertensi memperoleh pelayanan kesehatan sesuai standar hingga triwulan IV 2025, dari 30.980 orang yang tercatat sebagai sasaran pelayanan. Angka itu merupakan data layanan, bukan prevalensi hipertensi seluruh penduduk Pamekasan.
Di Sumenep, upaya menjangkau generasi muda mulai dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan di sekolah. Pada 14 Juli 2026, Puskesmas Pamolokan melaksanakan Cek Kesehatan Gratis yang diikuti 1.080 siswa SMAN 1 Sumenep. Kegiatan serupa perlu menjadi pintu masuk untuk menemukan faktor risiko penyakit sejak usia sekolah, bukan berhenti sebagai agenda pemeriksaan tahunan.
Namun, data terbuka yang dapat diverifikasi belum cukup untuk menggambarkan prevalensi penyakit ginjal kronis menurut kelompok usia di seluruh Madura. Tanpa angka yang terpilah berdasarkan umur, sulit memastikan seberapa besar ancaman gagal ginjal terhadap generasi muda di Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.
Keterbatasan itu menyisakan pertanyaan penting: berapa banyak anak muda yang telah terdeteksi memiliki gangguan fungsi ginjal, berapa yang membutuhkan cuci darah, dan seberapa dini penyakit mereka ditemukan?
Ketika Gagal Ginjal Menggerus Masa Produktif
Penyakit ginjal memperlihatkan betapa mahalnya harga yang harus dibayar ketika penyakit kronis berkembang hingga stadium lanjut.
Kementerian Kesehatan mencatat pembiayaan gagal ginjal meningkat dari Rp2,32 triliun pada 2019 menjadi Rp13,38 triliun pada 2025. Kenaikan tersebut menggambarkan beratnya beban penyakit ginjal terhadap sistem pembiayaan kesehatan nasional, meskipun tidak serta-merta menunjukkan peningkatan jumlah pasien usia muda.
Gagal ginjal memang tidak selalu bermula dari kebiasaan hidup yang buruk. Kelainan bawaan, penyakit autoimun, dan gangguan kesehatan lainnya juga dapat menjadi penyebab. Namun, hipertensi dan diabetes yang tidak terkendali merupakan faktor risiko penting kerusakan ginjal.
Di sinilah pencegahan menemukan urgensinya.
Temuan Kementerian Kesehatan pada pemeriksaan anak sekolah dan remaja, yang dipublikasikan pada 16 Juli 2026, menunjukkan 21 persen peserta mengalami peningkatan tekanan darah, 27 persen mengalami anemia, sedangkan 7 persen memiliki masalah gizi lebih dan obesitas. Angka tersebut menggambarkan kondisi peserta yang diperiksa, bukan prevalensi seluruh anak Indonesia.
Peningkatan tekanan darah pada satu pemeriksaan belum cukup untuk memastikan diagnosis hipertensi. Namun, temuan itu membutuhkan pemeriksaan lanjutan. Mengabaikannya berarti melewatkan kesempatan untuk mengenali risiko penyakit lebih awal.
Pemerintah Menggalakkan Deteksi Dini, dari Sekolah hingga Puskesmas
Pemerintah mulai memperluas pendekatan pencegahan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Hingga 31 Juli 2026, program tersebut telah menjangkau 73,8 juta penduduk, termasuk 11,1 juta anak sekolah.
Pada 2026, Kementerian Kesehatan memfokuskan tindak lanjut CKG pada tiga faktor risiko penyakit tidak menular: hipertensi, gula darah tinggi, dan kolesterol tinggi. Ketiganya berkaitan dengan risiko penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal.
Pemerintah juga memperkuat penanganan setelah pemeriksaan. Peserta yang memenuhi indikasi medis dapat memperoleh obat hipertensi, diabetes, dan kolesterol secara gratis hingga 15 hari pertama. Penanganan selanjutnya dilakukan melalui mekanisme Jaminan Kesehatan Nasional bagi peserta yang aktif.
Langkah lain ditempuh melalui pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak. Pada April 2026, Kementerian Kesehatan menerbitkan kebijakan pencantuman label gizi Nutri-Level pada pangan siap saji, terutama minuman berpemanis. Kebijakan tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat mengenali kandungan gizi dan mengurangi konsumsi berlebihan yang berkaitan dengan risiko penyakit tidak menular.
Tetapi, keberhasilan program kesehatan tak semestinya berhenti pada banyaknya warga yang diperiksa atau jumlah kegiatan yang terlaksana.
Mereka yang ditemukan memiliki faktor risiko membutuhkan pemeriksaan lanjutan, pengobatan, dan pemantauan berkesinambungan. Tanpa itu, deteksi dini hanya akan menghasilkan deretan angka dalam laporan.
Dari Puskesmas hingga Desa, Pencegahan Harus Menjangkau Semua
Di Sumenep, upaya mendekatkan pelayanan kesehatan juga dilakukan melalui program Sempol Sehat atau Puskesmas Hadir di Kompolan untuk Masyarakat Sehat. Puskesmas Pragaan, misalnya, mengenalkan pelayanan pemeriksaan kesehatan yang mendatangi kelompok masyarakat di desa pada September 2026.
Selain pemeriksaan, terdapat Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) yang didukung BPJS Kesehatan. Program ini memberikan pelayanan dan pemantauan berkala kepada peserta dengan hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 untuk membantu mengendalikan penyakit serta mencegah komplikasi.
Program-program itu menunjukkan bahwa pencegahan dan pengendalian penyakit kronis dapat dilakukan lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Namun, tantangan kesehatan Madura tidak berhenti pada tersedianya pelayanan. Wilayah kepulauan Sumenep, misalnya, memerlukan perhatian terhadap keterjangkauan pemeriksaan rutin, ketersediaan obat, serta kesinambungan pelayanan bagi pasien yang membutuhkan pemantauan jangka panjang.
Sekolah, pesantren, keluarga, dan lingkungan masyarakat juga memiliki peran penting. Edukasi mengenai konsumsi gula, garam, dan lemak, aktivitas fisik, bahaya merokok, serta pemeriksaan kesehatan berkala perlu menjadi kebiasaan, bukan sekadar pesan dalam kegiatan seremonial.
Bagi generasi muda, pencegahan mesti dimulai sebelum penyakit menunjukkan gejalanya. Bagi fasilitas kesehatan, keberhasilan pelayanan perlu dilihat pula dari berapa banyak warga berisiko yang memperoleh penanganan dan mampu mengendalikan penyakitnya.
Indonesia masih memiliki waktu menuju 2045. Namun, penyakit kronis tidak menunggu datangnya perayaan satu abad kemerdekaan.
Generasi emas tidak cukup dilahirkan dari anak-anak yang terbebas dari stunting. Mereka juga harus tumbuh menjadi manusia dewasa yang sehat, produktif, dan terlindungi dari penyakit yang dapat dicegah.
Sebab, Indonesia Emas 2045 bukan semata-mata persoalan seberapa tinggi ekonomi tumbuh, melainkan seberapa sehat manusia yang akan menopangnya.
— REDAKSI BUSACARE













