Jawa Timur pada awal 2026 ditetapkan sebagai provinsi dengan kasus Super Flu tertinggi di Indonesia. Super Flu adalah istilah populer untuk Influenza A (H3N2) subclade K, bagian dari clade 3C.2a1b.2a.2a.3a 1/K yang saat ini juga beredar di 80 negara. Virus ini bukan virus baru, tetapi mengalami mutasi yang membuatnya menular lebih cepat dan menjadi perhatian global.

Ketua PMI Kabupaten Sumenep, Ir. Edy Rasiyadi, M.Si mengungkapkan himbaunya kepada segenap masyarakat Provinsi Jawa Timur, khususnya masyarakat Sumenep untuk senantiasa menjaga imunitas tubuh dan menjaga kebersihan agar tidak terkontaminasi virus influenza A.

"Saya berharap kepada seluruh masyarakat Jawa Timur, khususnya dalam hal ini masyarakat Sumenep, untuk selalu meningkatkan imunitas tubuh melalui serangkaian olahraga dan juga tak lupa menjaga kebersihan untuk mencegah infeksi virus influenza A yang menjadi penyebab super flu", ujarnya.

Jawa Timur Penyumbang Kasus Tertinggi Nasional

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus Influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi. Dari jumlah tersebut, Jawa Timur menempati urutan pertama dengan 23 kasus, disusul Kalimantan Selatan 18 kasus dan Jawa Barat 10 kasus.

Tiga provinsi lain : Sumatera Selatan 5 kasus, serta Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan DIY masing-masing 1 kasus.

Data ini dihimpun melalui sistem surveilans nasional yang melibatkan 88 titik sentinel Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI), dengan pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) di laboratorium BSL-3.

Pola Demografi - Perempuan dan Anak Paling Terdampak

Analisis epidemiologi menunjukkan karakteristik yang khas. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan 64,5 persen. Kelompok usia anak 1–10 tahun menjadi yang paling terdampak dengan proporsi 35,5 persen, disusul usia 21–30 tahun 21 persen dan 11–20 tahun 19,4 persen.

Hal ini yang membuat DPRD Jatim menyebut anak-anak di sekolah sebagai kelompok rentan.

Mengapa Jawa Timur Rawan

Jawa Timur memiliki risiko transmisi sangat besar karena tiga faktor. Pertama, kepadatan penduduk tertinggi kedua di Indonesia.

Kedua, mobilitas antar daerah yang tinggi. Ketiga, banyaknya pintu masuk internasional mulai dari bandara Juanda hingga pelabuhan Tanjung Perak.

Juru Bicara Kemenkes Widyawati memperingatkan, “Ini bukan flu biasa. Virus ini bisa menyebar cepat di tengah kepadatan penduduk”.

Pakar epidemiologi memperingatkan angka 62 kasus kemungkinan hanya puncak gunung es karena keterbatasan fasilitas WGS dan banyak kasus tanpa gejala. Gejalanya mirip flu biasa : demam, batuk, pilek, sakit kepala, kelelahan, dan nyeri tenggorokan, namun dapat membebani fasilitas kesehatan jika tidak ditangani.

Status Jawa Timur sebagai episentrum bukan untuk menimbulkan panik, karena tren nasional dilaporkan menurun dan gejala umumnya masih ringan hingga sedang.

Kunci pengendalian adalah pendekatan promotif, preventif, kuratif secara berimbang : PHBS, masker, cuci tangan, vaksinasi influenza tahunan, dan pengaktifan Satgas Lintas OPD yang terintegrasi dengan kabupaten/kota.