Persatuan yang Berarti bagi Kehidupan

Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 bukan sekadar tonggak sejarah kebangsaan. Tiga ikrarnya—bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan—juga menyimpan pesan penting bagi kesehatan dan kemanusiaan Indonesia. Persatuan seharusnya tidak berhenti sebagai identitas, tetapi menjadi kekuatan untuk memastikan setiap orang memperoleh kesempatan hidup sehat, mendapatkan pertolongan, dan diperlakukan secara bermartabat.
Di Indonesia pada 2026, pesan tersebut semakin relevan. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa dari sekitar tujuh juta anak yang menjalani skrining Cek Kesehatan Gratis, 4,4 persen menunjukkan gejala kecemasan dan 4,8 persen menunjukkan gejala depresi. Hasil skrining ini bukan diagnosis klinis, tetapi menjadi pengingat bahwa kesehatan generasi muda memerlukan perhatian bersama.
Satu Tanah Air : Kesehatan sebagai Hak Semua Warga
Ikrar pertama, “Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia,” mengingatkan bahwa kepedulian terhadap kesehatan tidak boleh dibatasi oleh letak geografis. Masyarakat di perkotaan, desa terpencil, wilayah kepulauan, dan perbatasan sama-sama membutuhkan layanan kesehatan yang layak.
Publikasi Statistik Pemuda Indonesia 2025 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik pada Desember 2025 menyediakan data mengenai kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, dan kondisi sosial ekonomi pemuda. Data tersebut penting untuk memahami kebutuhan generasi muda serta membantu perencanaan pelayanan yang lebih sesuai dengan kondisi setiap wilayah.
Semangat satu tanah air dapat diwujudkan melalui edukasi kesehatan, kegiatan donor darah sesuai ketentuan, kesiapsiagaan bencana, dan dukungan bagi masyarakat yang kesulitan menjangkau fasilitas kesehatan. Persatuan menjadi bermakna ketika manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata.
Satu Bangsa : Tidak Membeda-bedakan dalam Menolong
Ikrar kedua, “Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia,” menegaskan bahwa perbedaan identitas tidak boleh menjadi penghalang untuk saling membantu. Dalam bidang kesehatan, prinsip ini berarti memberikan kepedulian tanpa membedakan suku, agama, keadaan ekonomi, disabilitas, maupun latar belakang seseorang.
UNICEF dalam Indonesia Adolescent Health Profile 2024 menyoroti tantangan kesehatan remaja, termasuk kesehatan mental, penggunaan tembakau, risiko cedera, stigma, dan ketimpangan akses pelayanan. Laporan tersebut juga menekankan pentingnya layanan kesehatan ramah remaja dan kerja sama lintas sektor.
Karena itu, pemuda dapat mengambil peran dengan menolak perundungan, membantu kelompok rentan, menyebarkan informasi kesehatan yang benar, serta mendukung teman yang membutuhkan bantuan. Menolong tanpa diskriminasi merupakan bentuk nyata persatuan bangsa.
Satu Bahasa : Menyampaikan Informasi yang Menyelamatkan
Ikrar ketiga, “Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia,” memiliki makna penting dalam komunikasi kesehatan. Informasi mengenai pencegahan penyakit, imunisasi, gizi, kesehatan mental, dan pertolongan pertama harus disampaikan dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan pentingnya data kesehatan remaja yang berkualitas untuk membantu pemerintah menentukan kebijakan dan tindakan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pendekatan tersebut juga memerlukan partisipasi remaja dan kerja sama berbagai sektor.
Pemuda dapat menerjemahkan semangat ini dengan memeriksa sumber informasi sebelum membagikannya, menggunakan bahasa yang tidak menghakimi, serta membantu masyarakat memahami kapan harus mencari pertolongan profesional. Bahasa persatuan bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga jembatan menuju pemahaman dan keselamatan.
Menghidupkan Sumpah Pemuda melalui Kepedulian
Kesehatan dan kemanusiaan membutuhkan persatuan yang diwujudkan dalam tindakan. Ikrar tentang tanah air mendorong pemerataan akses kesehatan, ikrar tentang bangsa mengajarkan kepedulian tanpa diskriminasi, sedangkan ikrar tentang bahasa mengingatkan pentingnya komunikasi yang inklusif.
Ketiganya membentuk komitmen bersama menjaga kehidupan, menghormati martabat manusia, dan memastikan tidak seorang pun merasa ditinggalkan. Dengan demikian, memperingati Sumpah Pemuda berarti melanjutkan perjuangan para pendahulu melalui tindakan yang relevan bagi kebutuhan masyarakat hari ini.
Daftar Pustaka
1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 13 Maret). Alarm Kesehatan Mental Anak: CKG Temukan Ratusan Ribu Anak Bergejala Cemas dan Depresi.
2. Badan Pusat Statistik. (2025). Statistik Pemuda Indonesia 2025.
3. UNICEF Indonesia. (2025). Indonesia Adolescent Health Profile 2024.
4. World Health Organization. (2025). Guidance for Countries to Assess Adolescent Health and Well-being.
5. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Laporan Tematik Survei Kesehatan Indonesia 2023: Depresi pada Anak Muda di Indonesia.









