Di era digital, informasi kesehatan dapat menyebar hanya dalam hitungan detik. Media sosial, aplikasi percakapan, dan platform berbagi video menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat. Namun, kemudahan tersebut juga membuka ruang bagi hoaks medis, mulai dari klaim obat yang tidak terbukti, informasi keliru tentang vaksin, hingga saran pengobatan tanpa dasar ilmiah. Fenomena ini dikenal sebagai infodemi, yaitu melimpahnya informasi, termasuk informasi palsu atau menyesatkan, yang dapat mengganggu pengambilan keputusan kesehatan.

Mengenal Infodemiologi di Era Digital

Infodemiologi merupakan kajian tentang distribusi dan determinan informasi kesehatan di ruang digital serta pemanfaatannya untuk memahami dan mengatasi persoalan kesehatan masyarakat. Organisasi Kesehatan dunia (WHO) menekankan bahwa infodemi dapat membuat masyarakat kesulitan menemukan informasi yang akurat dan panduan kesehatan yang dapat dipercaya.

Masalahnya bukan sekadar banyaknya informasi, melainkan kemampuan masyarakat membedakan fakta, opini, promosi, dan klaim yang belum terbukti. Informasi sensasional sering lebih mudah menarik perhatian dibandingkan penjelasan ilmiah yang membutuhkan konteks.

Fakta Hoaks Kesehatan di Indonesia Tahun 2026

Ancaman tersebut terlihat dari data pemerintah. Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat 2.622 hoaks kesehatan beredar di berbagai platform digital selama Agustus 2018 hingga September 2026. Isu imunisasi menjadi salah satu topik dengan jumlah hoaks tertinggi.

Dampaknya perlu diperhatikan. Kementerian Kesehatan melaporkan cakupan imunisasi nasional menurun dari 95 persen pada 2023 menjadi 87 persen pada 2024 dan 80 persen pada 2025. Dalam periode 2025–2026, sejumlah daerah juga mengalami kejadian luar biasa campak dengan 72 anak meninggal dunia. Kemenkes menyebut penyebaran hoaks sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penurunan kepercayaan dan penerimaan imunisasi.

Pada 17 September 2026, pemerintah meluncurkan Playbook Respons Cepat Penanganan Hoaks Kesehatan untuk memperkuat koordinasi lintas sektor dan mempercepat klarifikasi informasi keliru.

Dampak terhadap Keputusan Masyarakat

Hoaks medis dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk menolak vaksinasi, menunda pemeriksaan, menghentikan pengobatan, atau memilih produk kesehatan yang belum terbukti manfaat dan keamanannya. Akibatnya, risiko penyakit dapat meningkat dan kepercayaan terhadap tenaga kesehatan maupun institusi medis melemah.

Penelitian terhadap 420 pengguna media sosial di Indonesia yang diterbitkan pada Maret 2026 menemukan bahwa literasi kesehatan digital yang lebih baik berkaitan dengan rendahnya kepercayaan terhadap misinformasi medis, meningkatnya niat vaksinasi, dan kebiasaan memeriksa informasi. Temuan ini memperlihatkan pentingnya kemampuan berpikir kritis sebelum mengambil keputusan kesehatan.

Membangun Literasi dan Ketahanan Informasi

Masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa sumber informasi, tanggal publikasi, identitas penulis, serta bukti ilmiah yang mendukung suatu klaim. Informasi mengenai obat, vaksin, dan tindakan medis sebaiknya dikonfirmasi kepada tenaga kesehatan atau lembaga resmi.

Pemerintah, media, akademisi, dan tenaga kesehatan juga perlu menghadirkan komunikasi yang cepat, terbuka, dan mudah dipahami. Penelitian internasional menunjukkan bahwa edukasi literasi media dan koreksi informasi merupakan pendekatan penting untuk menghadapi misinformasi medis.

Menjadikan Informasi sebagai Pelindung Kesehatan

Infodemiologi mengajarkan bahwa kesehatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh akses terhadap fasilitas medis, tetapi juga oleh kualitas informasi yang diterima. Melawan hoaks bukan berarti membatasi pertanyaan atau perbedaan pendapat, melainkan membangun kebiasaan memeriksa bukti sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi.

Di tengah derasnya arus digital, masyarakat Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kecakapan menggunakan teknologi. Mereka membutuhkan literasi kesehatan, sikap kritis, dan tanggung jawab bersama agar informasi menjadi pelindung, bukan ancaman bagi kesehatan.

Daftar Pustaka

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 18 September). Kesehatan Masyarakat Terancam, Kemenkes dan Komdigi Kolaborasi dengan Mitra Strategis Membangun Ekosistem Penanganan Hoaks.

2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 17 September). Lawan Hoaks Kesehatan, Kemenkes Bangun Sistem dan Kolaborasi Respons Cepat.

3. Arna, Y. D. (2026). The Role of Digital Health Literacy in Preventing Medical Misinformation on Social Media: Implications for Public Health Behavior. Journal of Public Health Indonesian, 2(6), 13–22.

4. Addressing Misleading Medical Information on Social Media: A Scoping Review of Current Interventions. (2025). BMJ Evidence-Based Medicine.

5. World Health Organization. (2024). Managing the COVID-19 Infodemic: Promoting Healthy Behaviours and Mitigating the Harm from Misinformation and Disinformation. WHO.