Sehat Bukan Sekadar Gaya Hidup Viral

Generasi Z tumbuh di tengah derasnya informasi digital, suatu tren terkini yang sering kali menjadi referensi kelompok anak muda, usia produktif. Tren makanan sehat, olahraga, suplemen, hingga rutinitas perawatan diri mudah ditemukan di media sosial. Namun, tidak semua tren yang terlihat menarik memiliki manfaat kesehatan yang terbukti. Karena itu, Gen Z perlu membangun kebiasaan peduli sehat untuk diri dan kelompok usianya berdasarkan perkembangan ilmu Pengetahuan dan teknologi (Iptek) kesehatan dan gizi yang dapat memberi dampak sehat bagi tubuh, bukan sekadar mengikuti trending semata.
Pada pertengahan tahun 2026, Kementerian Kesehatan RI gencar mendorong generasi muda memanfaatkan pangan lokal sehat kaya manfaat, melalui gerakan ” makan dengan makna”. Inisiatif ini menunjukkan bahwa gaya hidup sehat dapat dikemas secara kreatif menarik sekaligus memberikan rasa dekat lagi keren dikalangan anak muda cinta sehat. Pesan utamanya adalah makanan sehat tidak harus selalu mahal.

Kebiasaan Kecil, Dampak Jangka Panjang
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang menjadi rujukan penting banyak kalangan, menunjukkan bahwa hampir semua (96,7%) penduduk berusia lima tahun ke atas kurang mengonsumsi sayur dan buah sesuai anjuran Kementerian Kesehatan RI. Disamping itu hampir separuh (47,5% ) diantaranya memiliki kebiasaan mengonsumsi minuman manis. Gambaran Angka ini memperlihatkan bahwa saat ini sedang berkembang perilaku gaya hidup baru yang lagi trending di kalngan Gen Z yang jika berlanjut tanpa kendali akan kurang baik bagi kesehatan nya dalam jangka panjang. Fakta ini juga mengingatkan kita akan pentingnya memperbaiki kebiasaan makan sehari-hari menjadi perilaku sehat dengan makan yang lebih seimbang di kalangan generasi muda.

Tantangannya bukan sekadar mengenali makanan , melainkan konsisten memilih sayur dan buah dalam menu makanan sehat sehari-hari. Makanan yang kurang sumber serat makanan dan mineral dalam jangka panjang 10 – 15 tahun kedepan bida menjadi pencetus munculnya penyakit tidak menular di kalangan komunitas anak muda.
Lebih – lebih senang mengkonsumsi minuman manis yang lagi populer, makanan tinggi garam (natrium), serta kebiasaan minum yang mengandung kafein, menambah deretan fakta makin merebaknya Hipertensi, jantung koroner, stroke , bahkan gagal ginjal di kalangan anak usia produktif ini. Konsumsi garam (natrium) anjuran kemenkes RI misalnya 6 gram atau hanya satu sendok teh saja sehari.
Namun faktanya konsumsi garam (natrium) di kalangan Gen Z berkisar 9 gram sehari bahkan cenderung lebih. Ini menunjukkan hampir dua kali lipat dari jumlah anjuran. Sementara itu kafein , suatu zat yang banyak terdapat dalam minuman kopi dan minuman berenergi instant lainnya banyak digemari sebagai minuman harian kalangan anak muda untuk menahan rasa mengantuk.

Namun, Kementerian Kesehatan menganjurkan agar konsumsi harian kafein tidak melebihi 50 – 60 mg. Oleh karena itu sangat penting rasanya untuk mematuhi dan tidak melebihi anjuran tersebut. Bahkan Badan Kesehatan Sedunia, WHO menekankan bahwa pola makan sehat perlu mengutamakan kecukupan, keseimbangan, moderasi, dan keberagaman pangan yang dikonsumsi sehari-hari.
Gen Z juga merupakan generasi masa depan yang sedang tumbuh dan berkembang pesat. Oleh karena itu dapat, usia yang sedang lincah bergerak dapat memulainya memilih makanan sumber protein seperti telur, ikan laut, tahu, atau tempe, serta membatasi lemak jenuh berlebihan. Mereka tidak perlu menghindari seluruh makanan favoritnya; yang lebih penting ialah membangun pola makan seimbang dalam “ Isi piringku “ secara berkelanjutan.
Jangan Asal Ikut Tren, Periksa Faktanya
Di Jawa Timur, anak kelompok usia 10-19 tahun merupakan kelompok usia dengan proporsi yang cukup besar. Oleh karena itu, nampaknya perlu digencarkan edukasi gizi dan menekankan pencegahan penyakit tidak menular, serta penguatan layanan kesehatan yang responsif untuk segmen sasaran Gen Z di usia remaja. Hal ini menjadi kebutuhan mendesak untuk terus dilakukan guna mencegah makin meningkatnya penyakit “degeneratif” di kalangan usia muda.
Sebelum mengikuti tren kesehatan, Gen Z sebaiknya memeriksa sumber informasi yang terpercaya dan menghindari klaim viral yang menjanjikan hasil instan tetapi bisa jadi berisiko kesehatan untuk jangka panjang.
Gen Z juga identik dengan gerakan aktif. Oleh karena itu Aktivitas fisik perlu dilakukan rutin, dan terukur. Menghindari males gerak (mager) merupakan kebiasaan baik agar tubuh tidak hanya bugar tetapi juga produktif.
Sehat Itu Pilihan Sadar
Gen Z yang peduli kesehatan adalah mereka yang sadar, mau dan mampu memilah dan memilih informasi, memahami kebutuhan tubuh, dan menjaga kebiasaan gaya hidup sehat secara konsisten, tetapi bukanlah mereka yang selalu mengikuti tren terbaru di medsos tanpa terkendali. Gen Z yang peduli perilaku sehat, manfaatnya akan terus dinikmati mulai saat ini hingga jangka panjang sebagai generasi unggulan yang sehat, bugar, dan produktif.
Daftar Pustaka
1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 9 Juli). Menkes Ajak Gen Z Manfaatkan Pangan Lokal Lewat Gerakan “Makan Dengan Makna”.
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023.
3. World Health Organization. (2026, 26 Januari). Healthy Diet.
4. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur. (2026). Statistik Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2025.
5. UNICEF Indonesia. (2026, 1 Oktober). AstraZeneca Young Health Programme and UNICEF Extend Collaboration to Advance Adolescent Health in Indonesia.











