Pernahkah kita merasa cepat lelah, padahal tidak melakukan aktivitas berat? Itulah tanda tubuh kita sedang protes karena terlalu mager, atau malas gerak. Gaya hidup duduk terlalu lama, menatap gawai, dan kurang bergerak kini menjadi kebiasaan baru yang berbahaya.

Dilansir dari Tempo.com, Dokter Spesialis Kesehatan Olahraga Andi Kurniawan mengatakan penting bagi masyarakat lebih waspada terhadap gaya hidup sedentari alias tidak bergerak. "Fenomena kaum mager (malas gerak) menjadi perhatian serius karena berkaitan langsung dengan pola hidup modern.
Palang Merah Indonesia mengajak masyarakat untuk kembali hidup aktif. Bukan tanpa alasan. Darah yang sehat hanya berasal dari tubuh yang sehat. Jika kita jarang bergerak, peredaran darah menjadi tidak lancar, jantung bekerja lebih berat, dan kadar hemoglobin bisa tidak stabil. Akibatnya, saat ingin donor darah, banyak calon pendonor yang gagal karena tekanan darah tinggi atau kondisi tubuh tidak bugar.

Dilansir dari ayosehat.kemkes.go.id, menurut Direktur Keselamatan Kerja dan Olahraga drg. Kartini Rustandi, M.Kes bahwa agar masyarakat tidak terlena dengan perilaku sedentari dimana menjadi semakin malas beraktivitas fisik. Dalam era perkembangan teknologi saat ini sebaiknya tidak menurunkan kegiatan aktivitas fisik tetapi justru harus ditingkatkan seperti contohnya ada aplikasi olahraga di jam tangan atau di handphone.
Padahal, hidup aktif itu mudah. Tidak perlu langsung ikut marathon atau pergi ke pusat kebugaran yang mahal. Mulailah dari hal kecil yang ada di sekitar kita. Biasakan berjalan kaki 30 menit setiap pagi, gunakan tangga daripada lift, ikut senam bersama di balai desa, atau membersihkan rumah dengan semangat. Bahkan berkebun di halaman juga termasuk aktivitas fisik yang menyehatkan.

Manfaatnya sangat besar. Tubuh yang aktif akan memiliki jantung yang lebih kuat, tekanan darah yang terkontrol, berat badan ideal, dan kualitas tidur yang lebih baik. Peredaran darah menjadi lancar sehingga tubuh terasa lebih segar dan tidak mudah sakit. Dengan tubuh yang bugar, kita juga menjadi pendonor yang aman dan siap membantu sesama kapan saja.
Mari lawan rasa malas. Matikan sejenak gawai, ajak keluarga bergerak bersama, dan jadikan hidup aktif sebagai gaya hidup. Karena dengan bergerak, kita tidak hanya menjaga kesehatan diri sendiri, tetapi juga membuka peluang untuk menyelamatkan nyawa orang lain melalui donor darah.











