Satu kantong darah terlihat sederhana, namun di baliknya ada rantai panjang ilmu pengetahuan, logistik, dan kemanusiaan.

Di Indonesia, perjalanan ini dimulai dari Unit Donor Darah (UDD) PMI dan berakhir di pembuluh darah pasien. Memahami perjalanannya penting untuk menghargai mengapa darah tidak bisa diperjualbelikan dan harus didonorkan sukarela.

Tahap 1 : Seleksi dan Pengambilan - 15 Menit yang Menentukan Nyawa

PMI memiliki 250 UDD yang tersebar di Indonesia, namun Indonesia masih defisit. WHO menetapkan kebutuhan ideal 2% dari populasi. Untuk Indonesia 281 juta jiwa, kebutuhan 5,6 juta kantong per tahun, sementara realisasi baru 4,2-4,5 juta kantong.

Calon donor tidak langsung diambil darahnya. Ia harus lolos seleksi: usia 17-60 tahun, berat badan >45 kg, hemoglobin 12,5-17 g/dL, tekanan darah normal, dan tidak berisiko infeksi.

30% calon pendonor ditolak setiap hari karena Hb rendah, kurang tidur, atau baru minum obat. Penolakan ini bukan diskriminasi, tapi proteksi bagi donor dan pasien. Darah diambil 350-450 ml dalam 8-12 menit dengan sistem kantong tertutup steril.

Tahap 2 : Pengolahan dan Pengujian - Darah Dipecah, Bukan Dipakai Utuh

Darah utuh jarang ditransfusikan utuh. Di UDD, darah dipisah dengan sentrifugasi menjadi 3-4 komponen : Packed Red Cells (PRC) untuk anemia, Trombosit untuk demam berdarah, Plasma untuk gangguan pembekuan, dan Kriopresipitat untuk hemofilia. Satu kantong darah bisa menyelamatkan 3 pasien berbeda.

Setiap kantong diuji dengan metode Chemiluminescence (CLIA) terhadap 4 penyakit infeksi menular lewat transfusi darah (IMLTD) : HIV, Hepatitis B, Hepatitis C, dan Sifilis.

Dengan metode lama, jendela deteksi HIV bisa 22 hari, dengan CLIA dan NAT dipersingkat menjadi 5-7 hari. Kantong reaktif langsung dimusnahkan sesuai standar biohazard.

Tahap 3 : Penyimpanan dan Distribusi - Perang Melawan Waktu

Setiap komponen punya nyawa berbeda. Trombosit hanya bertahan 5 hari pada suhu 20-24°C dengan agitasi terus-menerus. PRC bertahan 35 hari pada 2-6°C. Plasma beku bertahan 1 tahun pada -30°C. Karena itu UDD menggunakan cold chain ketat dan sistem FIFO (First In First Out).

Distribusi ke rumah sakit menggunakan Bank Darah Rumah Sakit (BDRS). PMI tidak menjual darah, yang dibebankan adalah Biaya Pengganti Pengolahan Darah (BPPD) Rp 490.000 per kantong (Peraturan Kemenkes), untuk biaya kantong, reagen, dan listrik. Darahnya sendiri gratis dari pendonor sukarela.

Perjalanan setetes darah dari lengan donor di UDD PMI hingga ke pasien adalah perjalanan 24-48 jam yang melibatkan dokter, ATLM, logistik dingin, dan sistem informasi.

Menghargai darah berarti menjadi donor rutin tiap 2 bulan, menjaga kesehatan, dan tidak meminta keluarga mencari donor pengganti saat sudah ada stok. Karena bagi pasien, darah bukan cairan merah, melainkan waktu tambahan untuk hidup.