Suatu hari nanti, di sebuah ruang perawatan, seseorang mungkin menerima darah yang disumbangkan Adiyono. Orang itu mungkin tidak pernah mengenal namanya. Adiyono pun mungkin tidak tahu kepada siapa darah tersebut mengalir. Namun, keduanya dipertemukan oleh satu kebutuhan: harapan untuk tetap hidup.

Harapan itu berulang kali ia titipkan melalui PMI Sumenep. Hingga saat ini, Adiyono telah mendonorkan darah sebanyak 54 kali.

Bagi Adiyono, donor darah bukan sekadar kegiatan sosial. Ia memandangnya sebagai bentuk kepedulian yang dapat dilakukan secara nyata, meski sederhana. Datang ke PMI, menjalani pemeriksaan, lalu menyumbangkan darah menjadi bagian dari perjalanan kemanusiaan yang terus ia jalani.

Adiyono usai melakukan donor darah di markas PMI Sumenep dalam rangka HUT PMI ke 81

“Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT bisa mendonor darah 54 kali. Terima kasih PMI Sumenep,” ujar Adiyono.

Angka 54 bukan hanya catatan jumlah donor. Di dalamnya terdapat waktu yang disisihkan, kesediaan untuk berbagi, serta keyakinan bahwa darah yang diberikan dapat membantu orang lain yang sedang menghadapi kondisi sulit.

Di ruang donor, kebaikan sering kali berlangsung tanpa banyak suara. Pendonor dan penerima darah tidak selalu saling mengenal. Namun, setiap kantong darah membawa kemungkinan baru bagi pasien yang membutuhkan transfusi.

Adiyono telah memilih untuk menjaga kemungkinan itu tetap ada. Dari PMI Sumenep, ia berbagi bukan hanya darah, melainkan juga pesan bahwa kemanusiaan dapat dirawat melalui tindakan kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Sebanyak 54 kali donor darah menjadi bukti bahwa kebaikan tidak harus menunggu dikenal. Sebab, bisa jadi, di masa depan, darah yang diberikan seseorang hari ini menjadi alasan orang lain masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan hidup.