Hari Pangan Sedunia diperingati setiap 16 Oktober untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya ketahanan pangan dan pemenuhan gizi. Peringatan ini bukan sekadar ajakan untuk mengatasi kelaparan, melainkan juga pengingat bahwa makanan yang dikonsumsi setiap hari berperan besar dalam menentukan kualitas kesehatan manusia.

Pada 2026, Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mengangkat tema “Innovate today. Nourish tomorrow”, yang menekankan pentingnya inovasi untuk memenuhi kebutuhan pangan masa depan. Tema tersebut mengajak masyarakat dan pemerintah membangun sistem pangan yang lebih baik, berkelanjutan, serta mampu menyediakan makanan bergizi bagi semua orang.

Pangan yang sehat tidak hanya harus mengenyangkan. Tubuh memerlukan makanan yang beragam, seimbang, aman, dan mengandung zat gizi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan, menjaga daya tahan tubuh, serta mengurangi risiko penyakit.

Kelaparan dan Gizi Masih Menjadi Tantangan Global

Laporan The State of Food Security and Nutrition in the World 2026 yang diterbitkan oleh FAO bersama Dana Internasional untuk Pembangunan Pertanian (IFAD), Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), Program Pangan Dunia (WFP), dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa sekitar 7,8 persen penduduk dunia mengalami kelaparan pada 2025. Jumlahnya diperkirakan mencapai 645 juta orang. Sementara itu, sekitar 2,1 miliar orang mengalami kerawanan pangan tingkat sedang hingga berat.

Laporan tersebut juga menyoroti persoalan mahalnya biaya makanan sehat. Sekitar 2,7 miliar orang di dunia diperkirakan belum mampu membeli makanan bergizi yang memenuhi kebutuhan mereka.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan pangan tidak berhenti pada ketersediaan makanan. Kemampuan ekonomi, distribusi, perubahan iklim, dan akses terhadap bahan pangan turut menentukan apakah seseorang dapat memperoleh makanan berkualitas. Kekurangan gizi dapat mengganggu pertumbuhan dan daya tahan tubuh, sedangkan pola makan tidak seimbang dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes dan penyakit jantung.

Tantangan Akses dan Kualitas Pangan Indonesia

Di Indonesia, pemenuhan pangan bergizi perlu menjadi perhatian bersama. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan Indonesia pada 2025 mencapai 7,89 persen. Indikator ini menggambarkan proporsi penduduk yang konsumsi energinya tidak mencukupi kebutuhan minimum.

Angka tersebut mengingatkan bahwa ketahanan pangan tidak cukup dinilai dari banyaknya bahan makanan yang tersedia. Masyarakat juga perlu memiliki akses ekonomi terhadap makanan bergizi dan memahami cara menyusun menu yang seimbang.

Pola makan sehat dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mengonsumsi sayur dan buah, memilih sumber protein seperti ikan, telur, tahu, dan tempe, serta membatasi gula, garam, dan lemak berlebihan. Keamanan pangan juga penting, termasuk mencuci bahan makanan, menjaga kebersihan peralatan, dan memastikan makanan dimasak serta disimpan dengan benar.

Jawa Timur dan Potensi Pangan Lokal untuk Kesehatan

Jawa Timur memiliki beragam sumber pangan lokal, mulai dari beras, jagung, singkong, sayuran, buah-buahan, hingga ikan dan hasil peternakan. Kekayaan tersebut dapat menjadi modal untuk memperluas akses masyarakat terhadap makanan bergizi.

Namun, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan di Jawa Timur pada 2025 mencapai 8,05 persen, sedikit lebih tinggi daripada angka nasional sebesar 7,89 persen. Sementara itu, prevalensi kerawanan pangan sedang hingga berat berdasarkan pengalaman penduduk tercatat sebesar 2,06 persen, lebih rendah daripada angka nasional sebesar 4,00 persen.

Kedua indikator tersebut mengukur aspek berbeda sehingga tidak dapat dipertukarkan. Perbedaan ini juga menegaskan pentingnya membaca data pangan secara menyeluruh.

Pemanfaatan pangan lokal dapat membantu keluarga menyusun menu bergizi dengan bahan yang tersedia di sekitar mereka. Di wilayah pesisir, misalnya, ikan dapat menjadi sumber protein, sedangkan sayuran, kacang-kacangan, dan buah lokal melengkapi kebutuhan zat gizi harian. Edukasi gizi dan penguatan distribusi pangan tetap diperlukan agar manfaatnya dirasakan secara merata.

Dari Piring Makan Menuju Generasi Sehat

Hari Pangan Sedunia 2026 menjadi momentum untuk membangun kesadaran bahwa pangan dan kesehatan merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Pemerintah, petani, pelaku usaha, tenaga kesehatan, sekolah, dan keluarga memiliki peran dalam mewujudkan akses pangan yang aman dan bergizi.

Perubahan dapat dimulai dari rumah melalui menu beragam, kebiasaan makan yang baik, serta pengurangan pemborosan makanan. Sebab, pangan bukan sekadar kebutuhan untuk bertahan hidup, melainkan fondasi bagi pertumbuhan, produktivitas, dan kesejahteraan masyarakat.

Daftar Pustaka;

1. Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). (2026). World Food Day 2026 : Innovate Today. Nourish Tomorrow.

2. FAO, IFAD, UNICEF, WFP, & WHO. (2026). The State of Food Security and Nutrition in the World 2026 : Understanding and Addressing the High Cost of a Healthy Diet. Rome : FAO.

3. Badan Pusat Statistik (BPS). (2026). Prevalensi Ketidakcukupan Konsumsi Pangan Menurut Provinsi, 2025.

4. Badan Pusat Statistik (BPS). (2026). Prevalensi Penduduk dengan Kerawanan Pangan Sedang atau Berat Berdasarkan Skala Pengalaman Kerawanan Pangan (FIES), 2025.

5. World Health Organization (WHO). (2026). The State of Food Security and Nutrition in the World 2026. WHO menyoroti keterjangkauan pangan sehat, ketahanan pangan, dan tantangan gizi global.