Tim peneliti Kelompok Riset Penyakit Tropis, Penyakit Infeksi, dan Herbal Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga mengevaluasi Aplikasi Deteksi Dini Kusta dan Kulit Berbasis Aplikasi (DEDIKASI-App), aplikasi digital yang dirancang untuk mendampingi Orang yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) setelah menyelesaikan pengobatan, melalui Focus Group Discussion (FGD) di Laboratorium Kesehatan Daerah (LABKESDA) Sumenep, Jl. Jl. Trunojoyo No.51 A, Labangseng, Kolor, Kec. Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep, dimulai dari pukul 08.00 WIB - selesai.

Penelitian yang direncanakan berlangsung selama 24 bulan sejak November 2025 ini melibatkan 150 OYPMK dari enam Puskesmas di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dengan tujuan menurunkan stigma diri, memperkuat perawatan mandiri, dan mendukung upaya eliminasi kusta 2030.

Evaluasi dilakukan di wilayah perkotaan dan perdesaan, mencakup kawasan daratan maupun kepulauan Sumenep, menggunakan pendekatan kuasi-eksperimen dengan pengukuran sebelum dan sesudah intervensi serta metode campuran (mixed methods).

Melalui aplikasi yang digunakan selama enam bulan, peserta memperoleh edukasi kesehatan, penguatan psikologis, pengingat perawatan diri, dukungan sebaya, dan panduan mencari pertolongan medis. Setelah intervensi, petugas Puskesmas yang telah dilatih melanjutkan konsultasi dan pemantauan keterlibatan pengguna setidaknya selama tiga bulan.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKP2KB) Kabupaten Sumenep, Ellya Fardasah menyampaikan bahwa kegiatan tersebut sangat membantu upaya deteksi dini penyakit kusta di masyarakat. Melalui kegiatan ini, penderita kusta diharapkan dapat ditemukan lebih cepat sehingga segera memperoleh pengobatan yang tepat. Dengan demikian, risiko terjadinya kecacatan akibat keterlambatan penemuan kasus dan pengobatan dapat dicegah.

“Dengan hadirnya inovasi digital melalui aplikasi tersebut, merupakan sebuah peluang besar dan sangat membantu kami dalam melakukan upaya preventif dan deteksi dini penyakit kusta, sehingga dapat diobati dengab cepat dan menghindari terjadinya kecacatan permanen akibat keterlambatan diagnosis pengobatan”, ujarnya.

Stigma Kusta Masih Menjadi Tantangan

Indonesia masih termasuk tiga negara dengan jumlah kasus baru kusta terbanyak di dunia berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO 2023). Persoalan kesehatan ini tidak selalu berakhir ketika pasien menyelesaikan pengobatan Multi-Drug Therapy (MDT). Sebagian OYPMK masih menghadapi gangguan fungsi, luka kronis, disabilitas, serta pengucilan sosial.

Stigma diri berupa rasa malu dan rendah diri dapat membuat penyintas enggan mencari pertolongan ketika mengalami komplikasi. Kondisi tersebut juga meningkatkan kerentanan terhadap depresi, kecemasan, dan penarikan diri dari lingkungan sosial. Karena itu, pendampingan setelah pengobatan menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas hidup penyintas.

Wakil Dekan II FKM Unair sekaligus supervisor penelitian, Muhammad Atoillah menjelaskan bahwa penurunan stigma diharapkan mendorong keberanian masyarakat mencari layanan kesehatan dan mendukung penemuan kasus kusta secara lebih dini.

Lima Fitur untuk Mendampingi Penyintas

Dikembangkan oleh Ulfah Abqari, sebagai bagian dari riset doktoralnya di Erasmus MC University Medical Center, Rotterdam, Belanda, DEDIKASI-App dirancang melalui pendekatan participatory design thinking bersama tenaga kesehatan dan orang yang terdampak kusta di Indonesia.

Aplikasi ini menyediakan modul perawatan luka, pencegahan disabilitas, kesehatan mental, strategi menghadapi tekanan psikologis, pesan motivasi, pengingat perawatan diri harian, forum dukungan sebaya, serta fitur pelaporan gejala dan panduan menghubungi layanan kesehatan. Tersedia dalam Bahasa Indonesia dengan konten visual dan audio, aplikasi ini dikembangkan bersama mitra teknis Databiota Integra.

Berangkat dari Hasil Penelitian Awal

Studi penerimaan di Kabupaten Pamekasan menunjukkan niat menggunakan aplikasi mencapai 90 persen pada calon pengguna dan 86 persen pada tenaga kesehatan. Sementara itu, uji acak terkontrol klaster terhadap 630 peserta menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan, praktik pencegahan, dan perilaku mencari pertolongan kesehatan. Sejumlah kasus serius, termasuk suspek kusta dan kanker kulit, juga teridentifikasi melalui penggunaan aplikasi.

Temuan tersebut menjadi landasan evaluasi lanjutan pada OYPMK pasca-pengobatan di Sumenep, bukan hasil akhir penelitian yang sedang dievaluasi.

Mengukur Perubahan dan Menjangkau Kepulauan

Sebanyak 150 peserta berusia minimal 18 tahun akan direkrut dari enam Puskesmas di kecamatan dengan kasus kusta terbanyak, masing-masing minimal 25 orang. Peserta harus telah menyelesaikan MDT, memiliki telepon pintar, serta mempunyai disabilitas tingkat 1 atau 2 menurut WHO atau berisiko mengalami stigma diri sedang hingga tinggi. Jumlah tersebut melampaui kebutuhan sampel minimal 64 orang untuk mengantisipasi peserta yang mengundurkan diri.

Penelitian mengukur perubahan stigma diri menggunakan SARI Stigma Scale, disertai penilaian perawatan diri, jumlah dan keparahan luka, tingkat disabilitas, aktivitas sehari-hari melalui SALSA Scale, partisipasi sosial, pengetahuan, dan motivasi. Wawancara mendalam serta diskusi kelompok terarah terhadap 18 peserta juga dilakukan untuk menggali pengalaman dan hambatan penggunaan aplikasi.

Menuju Eliminasi Kusta 2030

Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep menyatakan kesediaan membantu sebagian biaya pendukung, termasuk pelatihan koordinator kusta di Puskesmas. Hasil penelitian direncanakan menjadi dasar rekomendasi kebijakan, publikasi ilmiah, presentasi kepada pemangku kepentingan Program Penanggulangan Kusta Nasional, serta penyusunan policy brief mengenai integrasi kesehatan digital dalam layanan pasca-kusta.

Melalui DEDIKASI-App, tim peneliti berharap pendampingan OYPMK dapat berlangsung lebih berkelanjutan, menjangkau wilayah terpencil, dan menjadi model yang dapat diperluas ke daerah endemis lainnya. Upaya ini diharapkan memperkuat pelayanan kesehatan yang inklusif sekaligus mendukung target eliminasi kusta Indonesia pada 2030.