Perdebatan mengenai makanan organik dan non-organik semakin relevan di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan keamanan pangan. Konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan kandungan gizi,rasa, harga, dan kemudahan memperoleh bahan makanan, tetapi juga proses produksi, penggunaan pestisida, hormon tertentu, serta dampak jangka panjang terhadap kesehatan manusia.

Makanan organik lazimnya dipahami sebagai makanan yang ditanam atau diternak tanpa menggunakan bahan kimia sintetis buatan. Makanan yang sedang tren dikonsumsi banyak kalangan ini sering dipersepsikan lebih sehat karena diproduksi secara alami, baik penggunaan pupuk (kompos), maupun pestisida (ulat), fungisida maupun herbisida semuanya alami dan tidak menggunakan pupuk maupun pestisida sintetis buatan. Bahkan bibit tanaman yang dipakai bukan dari bibit pangan hasil rekayasa genitika genetically modified foods (GMF).
Demikian juga untuk makanan yang berasal dari hasil ternak tidak menggunakan hormon tertentu dalam makanannya. Selain itu pula makanan organik diedarkan dengan standar sertifikasi yang ketat. Sebaliknya, makanan non-organik diproduksi melalui sistem pertanian dan peternakan konvensional yang memungkinkan penggunaan berbagai sarana produksi pertanian maupun peternakan walaupun tetap wajib mematuhi standar regulasi keamanan pangan yang berlaku.
Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah apakah dampak makanan non organik bagi kesehatan?
Risiko Penggunaan Pupuk yang Berlebihan

Penggunaan pupuk sintetis seperti urea, NPK atau lainnya diketahui tidak secara langsung membuat nasi menjadi beracun. Namun lebih pada cara pakai yang salah dan berlebihan. Beberapa akibat yang telah di akui badan Kesehatan Dunia (WHO) adalah
Pertama, nitrat ( N03) yang ada papa pupuk tidak diserap tanaman sehingga dapat mencemari air tanah dan sumur yang manjadi air minum sehari-hari. Apabila kandungan nitrat melebihi 50 mg/ L diminum bayi, berakibat bayi menjadi sesak karena darah bayi tidak mampu membawa oksigen. Gejala ini disebut Methemoglobinemia.
Kedua, pencemaran logam berat. Pupuk Pospat seperti triple super phosphate (TSP) seringkali mengandung logam berat Kadmium dan Arsen. Apabila pupuk jenis ini dipakai terus menerus akan mengakibatkan penumpukan dalam tanah yang pada akhirnya diserap oleh tanaman padi jagung bahkan sayur, yang dikonsumsi dalam menu sehari-hari. Bahaya kedua logam berat tersebut biasanya terjadi jika penggunaan pupuk berlebihan secara terus menerus dalam rentang waktu 10 hingga 20 tahun atau lebih.

Efek jangka panjang yang dapat muncul akibat penumpukan kadmium adalah ginjal bocor, karena protein keluar lewat kencing yang lama kelamaan bisa terjadi gagal ginjal kronis. Masa paruh kadmium dalam tubuh adalah sangat lama, separuh dari logam yang menumpuk dalam tubuh dapat di terkurangi dalam kurun 20 – 30 tahun. Sementara, arsen hampir merusak sejumlah organ penting seperti gangguan saraf sehingga terjadi kesemutan, atau bahkan kanker kandung kemih.
Bahaya Penggunaa Pestisida Sintetis Buatan
Pestisida, diproduksi untuk membunuh mahluk hidup, karena itu pengunaan yang berlebihan tidak mematuhi ketentuan yang diberlakukan kementerian pertanian. Bahayanya bisa pusing, mual muntah, kulit gatal bahkan batuk. Gejala yang lebih berat akibat penggunaan pestisida yang berbau menyengat dapat berupa kejang, sesak nafas bahkan jika terlambat penanganan bisa meninggal. Menurut WHO, setiap tahun tidak kurang dari 3 juta kasus pertahun di dunia, mayoritas korbannya yang berisiko adalah petani. Untuk memastikan keamanan sayur dari residu pestisida, di pasar induk sering dilakukan pengetesan, jika kadarnya melebihi batas normal yang dipernankan suyur tersebut tidak diperkenankan dijual.

Risiko Penggunaan Bibit rekayasa genitika
Bibit yang telah dilakukan modifikasi genetika (GMF), berisiko menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan. BPOM dan WHO telah menunjukkan bukti beberapa risiko yang bisa muncul seperti alergi, dan resistensi antibiotik. Untuk pengaruh lainnya terhadap kesehatan tubuh masih terus diteliti, demi keamanan konsumen.
Risiko Pemakaian Hormon pada Ternak
Pemakaian hormon pada ternak untuk penggemukan secara resmi dilarang. Apabila hormon pertumbuhan seperti estrogen dipakai, memang bobot ternak khusunya sapi bisa bertambah cukup besar hingga 20 %. Namun , apabila produk daging ternak ini dikonsumsi akaibatnya bagi anak remaja terjadi pubertas lebih awal. Pada orang dewasa kelebihan hormon estrogen sistetis dalam jangka panjang dapat memicu penyakit kanker seperti kanker prostat.
Kandungan Gizi : Apakah makanan Organik Lebih Bergizi?
Berbagai penelitian dari berbagai negara menunjukkan bahwa telah terbukti tidak ada perbedaan kandungan gizi makanan ornganik maupun non organik, khusunya untuk kandungan karbohidrat, Protein, lemaknya. Namun kandungan mineral yodium, pada tanaman padi dan gandum lebih rendah makanan non organik karena mineral Yodium dalam tanah ternyata diikat oleh pupuk sehingga tidak terikut dikonsumsi.
Kekurangan asupan yodium dari makanan yang dikonsumsi rutin , bisa berisiko terjadi antara lain hipo tiroid, IQ menurun, bahkan gondok. Karena kedua kelenjar tiroid dibagian depan leher bagian bawah tidak mampu memproduksi hormon tiroksin karena bahan baku kurangnya bahan baku zat yodium yang diperoleh dari makanan. Bahkan jika kekurangan zat yodium terjadi pada 12 minggu pertama kehamilan bayi lahir bisa mengalami gangguan mental.
Kebutuhan zat yodium ini wajib dipenuhi setiap hari karena tubuh tidak dapat membuat Yodium, maka zat penting ini kebutuhannya harus dipenuhi dari makanan. Kecukupan zat yodium setiap hari untuk orang dewasa dan remaja yaitu hanya 150 microgram (mcg). Jumlah 1 mcg setara dengan sepersejuta gram. walaupun kebutuhan harian zat yoidum sangat kecil namun jika kekurangan zat gizi mikro yang satu ini berakibat fatal bagi kesehatan.
Salah satu alasan utama masyarakat memilih pangan organik adalah kekhawatiran terhadap paparan pestisida. Dalam ilmu toksikologi, pestisida merupakan kelompok senyawa yang dirancang untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman. Paparan berlebihan terhadap senyawa tertentu dapat menimbulkan gangguan kesehatan, bergantung pada jenis bahan aktif, dosis, jalur paparan, dan lamanya kontak.
Manakah yang Sebaiknya Dipilih?
Jika ditinjau dari sisi kesehatan, makanan organik memiliki beberapa keunggulan, khususnya dalam mengurangi paparan residu pupuk, pestisida sintetis buatan, maupun penggunaan hormon pertumbuhan pada ternak tertentu. Namun, untuk hasil maksimal keunggulan tersebut akan makin terasa apabila dibiasakan mengkonsumsi makanan organik sejak sekarang dan terus menerus dalam seluruh siklus hidup manusia. Makanan organik juga relatif lebih mahal dibanding makanan non organik. Pada sisi lain makanan organik di toko tertentu, tidak bisa di peroleh di semua toko.
Dengan demikian, pilihan yang lebih rasional adalah mengutamakan kualitas bahan pangan, dan keamannya untuk dikonsumsi. Oleh karena itu makanan yang memenuhi standar keamanan dan membuat badan tetap sehat harus tetap menjadi pilihan yang utama. Karena sehat berarti segalanya. Jika badan tidak sehat maka segala menjadi tidak berarti.
Daftar Pustaka
1. Faoro, D. T. O., Artuzo, F. D., Borges, J. A. R., Foguesatto, C. R., Dewes, H., & Talamini, E. (2024). Are organics more nutritious than conventional foods? A comprehensive systematic review. Heliyon, 10(7), e28288.
2. Jiang, B., Pang, J., Li, J., Mi, L., Ru, D., Feng, J., Li, X., Zhao, A., & Cai, L. (2024). The effects of organic food on human health: A systematic review and meta-analysis of population-based studies. Nutrition Reviews, 82(9), 1151–1175.
3. Poulia, K. A., Bakaloudi, D. R., Alevizou, M., Papakonstantinou, E., Zampelas, A., & Chourdakis, M. (2025). Impact of organic foods on chronic diseases and health perception: A systematic review of the evidence. European Journal of Clinical Nutrition, 79, 90–103.
4. World Health Organization & Food and Agriculture Organization. (2026). Pesticide residues in food: Report 2025. Joint FAO/WHO Meeting on Pesticide Residues. Geneva: WHO.
5. United States Department of Agriculture. (2024). Synthetic Substances in Crop Production: Allowed and Prohibited Substances. Agricultural Marketing Service.













