Pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu agama. Dengan puluhan ribu lembaga dan jutaan santri, pesantren juga merupakan lingkungan pendidikan dan komunitas yang strategis untuk memperkuat kesehatan masyarakat. Upaya menjaga kesehatan santri perlu berjalan beriringan dengan pendidikan, ibadah, dan pembentukan karakter.

Data Kementerian Agama yang dikutip dari EMIS tahun 2025 mencatat 42.369 pesantren, 6.267.741 santri, serta 1.163.140 ustaz dan pengajar. Besarnya jumlah tersebut menunjukkan bahwa edukasi kesehatan di lingkungan pesantren dapat menjangkau banyak keluarga dan masyarakat melalui para santri.uinjkt.ac.id

Kepadatan hunian dan risiko kesehatan

Kehidupan bersama di asrama membentuk kebersamaan dan kedisiplinan. Namun, kepadatan hunian, sanitasi yang belum memadai, ventilasi kurang baik, serta jadwal belajar yang padat dapat menjadi tantangan kesehatan. Kondisi tersebut perlu diperhatikan untuk mencegah dan mendeteksi dini masalah seperti penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan, dan tuberkulosis (TBC).

Pemeriksaan kesehatan dasar dapat membantu mengenali perubahan kondisi santri lebih awal. Pemeriksaan tekanan darah, berat badan, dan kondisi fisik umum juga memberi gambaran awal bagi petugas kesehatan untuk menentukan tindak lanjut. Skrining bukan diagnosis; jika ditemukan keluhan atau hasil yang perlu diperiksa, santri harus dirujuk kepada tenaga kesehatan.

Kesehatan yang terjaga mendukung santri mengikuti pelajaran, menghafal Al-Qur’an, beribadah, dan beraktivitas dengan lebih baik. Karena itu, edukasi kesehatan perlu disampaikan secara rutin dan mudah dipahami, bukan hanya ketika muncul wabah atau ada santri yang sakit.

PMI dan Penguatan Poskestren

Palang Merah Indonesia (PMI) dapat berkontribusi melalui edukasi pertolongan pertama, pengenalan gejala penyakit, pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta pelatihan kader kesehatan santri. Penguatan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) juga dapat membantu menghubungkan warga pesantren dengan puskesmas dan fasilitas kesehatan setempat.

Salah satu contoh pendekatan berbasis komunitas adalah edukasi TOSS TBC—Temukan, Obati, Sampai Sembuh—yang dilakukan KSR PMI Unit Universitas An Nuur di lingkungan pesantren. Kegiatan seperti penyuluhan gejala dan penularan TBC serta pemeriksaan tanda vital dapat meningkatkan kesadaran santri. Pemeriksaan tersebut merupakan skrining awal dan tidak menggantikan pemeriksaan serta diagnosis oleh tenaga kesehatan.

Program edukasi sebaiknya melibatkan pengasuh, ustaz, pengelola asrama, santri, puskesmas, dan relawan. Kader kesehatan santri dapat membantu menyebarkan informasi, mengingatkan kebiasaan hidup bersih, dan mengarahkan teman yang mengalami keluhan agar meminta bantuan. Mereka tidak menggantikan tugas tenaga medis.

Sanitasi dan literasi kesehatan perlu berjalan bersama

Edukasi saja tidak cukup jika fasilitas dasar belum mendukung. Ketersediaan air bersih, toilet yang layak, tempat mencuci tangan, ventilasi, dan pengelolaan sampah merupakan bagian penting dari lingkungan pesantren yang sehat.

Pada Agustus 2026, BPKH menyampaikan dukungan terhadap Program 10.000 MCK Pesantren yang diluncurkan di Cianjur. Inisiatif tersebut menempatkan sanitasi sebagai salah satu aspek penting dalam meningkatkan kualitas lingkungan pesantren.bpkh.go.id

Penguatan literasi kesehatan juga dilakukan melalui Pesantren Kilat ImmuniBooster, hasil kolaborasi Kementerian Agama dan UNICEF pada 24–26 Februari 2026. Kegiatan di Bogor itu ditujukan untuk memperkuat pemahaman tentang imunisasi dan ketahanan terhadap misinformasi kesehatan di kalangan santri.kemenag.go.id

Pemeriksaan kesehatan berkala dapat melengkapi upaya tersebut. Jika ada program Cek Kesehatan Gratis (CKG) atau layanan kesehatan lain yang menjangkau pesantren, pelaksanaannya perlu berkoordinasi dengan puskesmas dan disertai tindak lanjut atas hasil pemeriksaan.

Membangun kebiasaan sehat di pesantren

Program Pesantren Nyaman Belajar 2026 yang dijalankan Kementerian Agama bersama BAZNAS menyalurkan Rp17,5 miliar untuk mendukung kelayakan sarana pendidikan dan hunian santri di 700 pesantren. Dukungan sarana seperti ini dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang lebih layak.BAZNAS

PMI, pesantren, pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat dapat bekerja sama membangun program berkelanjutan: memperkuat Poskestren, melatih kader santri, menjalankan edukasi PHBS, memperbaiki sanitasi, dan memastikan rujukan kesehatan mudah diakses. Dengan lingkungan yang lebih sehat dan informasi yang tepat, pesantren dapat terus mendukung santri belajar dan beribadah. Santri sehat, ibadah kuat.

Catatan: Angka EMIS saya tulis sebagai data tahun 2025, bukan “data Kemenag tahun 2026”, agar tahun pendataan dan tahun penulisan tidak tercampur. Saya juga tidak memasukkan klaim 1.700 santri di Kediri karena belum menemukan sumber tepercaya yang memastikan kegiatan CKG tersebut; angka itu sebaiknya ditambahkan setelah sumber atau konfirmasi penyelenggara tersedia.