Penti merupakan ritus adat masyarakat Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, yang menandai ungkapan syukur atas hasil panen sekaligus peralihan siklus agraris. Tradisi ini memiliki dimensi spiritual, sosial, dan ekologis, karena masyarakat menyampaikan rasa syukur, mempererat hubungan kekerabatan, serta meneguhkan keterikatan dengan ruang hidupnya. Dalam perspektif ketahanan pangan, Penti dapat dibaca sebagai mekanisme budaya yang menghubungkan produksi pangan, pengetahuan lokal, solidaritas, dan keberlanjutan sumber daya. Namun, kontribusi tersebut perlu dipahami sebagai potensi sosial-budaya, bukan bukti langsung bahwa ritual dengan sendirinya menjamin kecukupan gizi atau ketahanan pangan rumah tangga.

Antropologi Pangan : Ritus, Panen, dan Identitas Komunitas

Penti tidak sekadar seremoni setelah panen, tetapi juga penanda waktu sosial yang mengatur hubungan manusia dengan pertanian dan komunitas. Kajian tentang Penti di Manggarai menggambarkan ritual ini sebagai ungkapan syukur atas hasil pertanian, sarana reuni keluarga, serta kesempatan memperbaiki relasi sosial melalui rekonsiliasi (Gunawan, 2021). Dengan demikian, pangan hadir bukan hanya sebagai komoditas, melainkan juga sebagai simbol keberhasilan kolektif dan kesinambungan identitas.

Dalam praktiknya, tahapan dan makna Penti dapat berbeda antarkampung. Penelitian kualitatif di Manggarai Timur mendokumentasikan rangkaian persiapan, pelaksanaan, dan penutup, termasuk musyawarah adat serta peresmian konsumsi hasil panen baru (Dahus, 2017). Variasi lokal ini penting agar tradisi tidak direduksi menjadi satu bentuk tunggal.

Solidaritas Sosial sebagai Modal Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh jumlah produksi, tetapi juga oleh kemampuan rumah tangga memperoleh, mengolah, dan mempertahankan akses terhadap pangan. Penti dapat memperkuat modal sosial melalui musyawarah, kerja bersama, dan pertemuan lintas keluarga. Hubungan tersebut berpotensi mempermudah pertukaran informasi mengenai musim tanam, hasil panen, serta kebutuhan komunitas.

Penelitian mengenai kearifan lokal dan ketahanan pangan di kampung adat menemukan bahwa pengetahuan lokal serta solidaritas masyarakat berkorelasi positif dengan ketahanan pangan rumah tangga (Perdanaputra & Prasodjo, 2018). Meski penelitian tersebut bukan studi langsung tentang Penti, temuannya memberi kerangka analitis untuk memahami bagaimana ikatan sosial dan aturan komunitas dapat mendukung ketahanan pangan. Korelasi itu tidak berarti solidaritas saja cukup mengatasi kemiskinan, keterbatasan lahan, atau gangguan produksi.

Pengetahuan Ekologis dan Keberlanjutan Sumber Pangan

Sistem pangan lokal bergantung pada kondisi tanah, air, keanekaragaman hayati, serta pengetahuan mengenai musim. Penti mengandung dimensi geografis dan ekologis melalui pemaknaan ruang-ruang ritual dan relasi masyarakat dengan alam. Niman (2022) menemukan bahwa konteks geografis Penti mencakup aspek ruang alam dan hubungan sosial, yang berkaitan dengan norma, etika, serta keberlanjutan kehidupan komunitas.

Dalam konteks perubahan iklim, pengetahuan lokal dapat menjadi sumber informasi mengenai perubahan musim dan praktik pertanian. Akan tetapi, pengetahuan tersebut perlu dipadukan dengan data iklim, teknik budidaya yang sesuai, dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan. Pelestarian ritual tidak otomatis menghentikan degradasi lingkungan; dampaknya bergantung pada penerapan nilai ekologis dalam keputusan sehari-hari.

Dimensi Gizi dan Kesehatan Masyarakat

Hasil panen yang disyukuri dalam Penti dapat menjadi pintu masuk pembahasan mengenai keragaman pangan dan kecukupan gizi. Ketahanan pangan yang bermakna bagi kesehatan bukan sekadar tersedianya bahan pangan, tetapi juga akses terhadap makanan yang aman, bergizi, dan sesuai kebutuhan sepanjang kehidupan. Oleh sebab itu, keberhasilan panen perlu dilihat bersama aspek distribusi, daya beli, penyimpanan, dan pola konsumsi.

Pertemuan keluarga dalam tradisi juga dapat memperkuat dukungan sosial dan pewarisan pengetahuan pengolahan pangan. Namun, tidak tepat menyimpulkan bahwa kegiatan ritual secara langsung meningkatkan status gizi atau mencegah penyakit tanpa penelitian kesehatan yang mengukur hasil tersebut. Kajian kesehatan masyarakat perlu menilai apakah tradisi turut mendorong konsumsi pangan beragam, mengurangi kerawanan pangan, atau memperkuat akses kelompok rentan.

Pelestarian Tradisi dan Adaptasi Sistem Pangan

Penti berpotensi menjadi ruang pendidikan antargenerasi mengenai pertanian, nilai kebersamaan, dan penghormatan terhadap sumber pangan. Agar relevan menghadapi tantangan kontemporer, pelestarian tradisi dapat disertai dokumentasi pengetahuan pangan lokal, penguatan peran petani, pengembangan penyimpanan hasil panen, dan pemetaan kerentanan pangan rumah tangga. Upaya ini harus melibatkan masyarakat adat sebagai pemilik pengetahuan, bukan sekadar menjadikan ritual sebagai objek promosi.

Penti Manggarai memperlihatkan keterhubungan antara syukur panen, identitas budaya, solidaritas sosial, dan keberlanjutan lingkungan. Nilai-nilai tersebut dapat mendukung ketahanan pangan melalui penguatan modal sosial dan pengetahuan lokal. Namun, ketahanan pangan tetap membutuhkan akses ekonomi, produksi yang berkelanjutan, distribusi yang adil, serta pemenuhan gizi. Penti paling tepat dipahami sebagai salah satu sumber daya budaya yang dapat dipadukan dengan kebijakan dan praktik pangan berbasis bukti, bukan sebagai solusi tunggal atas kerawanan pangan.

Daftar Pustaka

1. Dahus, F. (2017). Peranan upacara “Penti” dalam masyarakat Kabupaten Manggarai Timur. Universitas PGRI Yogyakarta.

2. Gunawan, V. A. (2021). The Manggarai region on the Flores Island, Indonesia: Historical and cultural circumstances. Roczniki Teologiczne, 68(7), 145–166.

3. Niman, E. M. (2022). Geographical context and natural environment preservation in local culture: A study on the ritual of Penti in Manggarai, Flores NTT. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, 12(3), 456–465.

4. Perdanaputra, F., & Prasodjo, N. W. (2018). Ketahanan pangan di kampung adat dan non-kampung adat. Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, 2(5).

5. Resmini, W., & Mabut, F. (2020). Upacara Penti dalam masyarakat Kampung Rato di Kabupaten Manggarai. CIVICUS: Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 8(2).