Transformasi digital memperluas akses pelajar terhadap sumber belajar, tetapi juga menghadirkan persoalan berupa kelelahan digital (digital fatigue) dan kesulitan mempertahankan konsentrasi. Penggunaan perangkat digital yang berulang, perpindahan perhatian antaraplikasi, paparan notifikasi, serta tuntutan belajar daring dapat menambah beban kognitif.

Masalah ini tidak semata-mata berkaitan dengan lamanya menatap layar, melainkan juga dengan pola penggunaan, jenis aktivitas, kondisi lingkungan belajar, dan kemampuan mengatur perhatian. Karena itu, kelelahan digital perlu dipahami sebagai persoalan multidimensional yang melibatkan kesehatan mata, psikologi kognitif, perilaku belajar, dan tata kelola pendidikan.

Mekanisme Kognitif : Perhatian yang Terfragmentasi

Konsentrasi belajar bergantung pada kemampuan mempertahankan perhatian, menyaring rangsangan yang tidak relevan, dan menyimpan informasi dalam memori kerja. Ketika pelajar berpindah dari materi pelajaran ke pesan singkat atau media sosial, perhatian harus beradaptasi kembali pada tugas utama. Perpindahan ini menimbulkan biaya kognitif: proses belajar dapat melambat dan pemahaman menjadi kurang mendalam.

Notifikasi juga berpotensi memicu perhatian berorientasi rangsangan, bahkan ketika pelajar tidak langsung membuka perangkat. Dalam konteks pembelajaran, multitasking digital dapat membuat pelajar merasa produktif karena melakukan banyak aktivitas, padahal pemrosesan materi berlangsung secara terputus-putus. Meski demikian, perangkat digital tidak selalu mengganggu; dampaknya bergantung pada kesesuaian teknologi dengan tujuan pembelajaran dan pengelolaan penggunaannya.

Dimensi Psikologis : Beban Mental dan Regulasi Diri

Kelelahan digital dapat berkaitan dengan kejenuhan, frustrasi, dan menurunnya motivasi. Beban informasi yang tinggi membuat pelajar harus terus menentukan konten mana yang perlu diperhatikan. Ketika kemampuan regulasi diri belum berkembang optimal, dorongan memeriksa notifikasi atau membuka aplikasi lain dapat mengalahkan tujuan belajar.

Stres akademik juga dapat berhubungan dengan perilaku digital yang mengalihkan perhatian. Penelitian pada mahasiswa menemukan hubungan positif antara stres akademik dan cyberslacking, yaitu penggunaan internet untuk aktivitas nonakademik ketika seharusnya mengerjakan tugas. Temuan tersebut tidak otomatis membuktikan hubungan sebab-akibat dan tidak dapat langsung digeneralisasi kepada seluruh pelajar, tetapi menunjukkan pentingnya memperhatikan faktor psikologis di balik perilaku digital (Rachmawati et al., 2024).

Aspek Kesehatan Mata dan Ergonomi

Paparan layar berkepanjangan dapat berkaitan dengan keluhan mata lelah, mata kering, sakit kepala, serta ketidaknyamanan leher dan bahu. Saat memusatkan perhatian pada layar, frekuensi berkedip dapat menurun sehingga permukaan mata lebih mudah mengalami kekeringan. Jarak pandang yang terlalu dekat, pencahayaan yang tidak sesuai, dan posisi duduk yang buruk dapat memperbesar ketidaknyamanan.

Studi terhadap siswa SMKN 7 Malang melaporkan hubungan negatif antara durasi, frekuensi, dan intensitas penggunaan gawai dengan konsentrasi serta motivasi belajar, disertai peningkatan keluhan kelelahan mata. Karena desain penelitian bersifat korelasional, hasil tersebut menunjukkan keterkaitan, bukan kepastian bahwa penggunaan gawai menjadi penyebab tunggal (Naryaning & Katmini, 2021).

Dimensi Pendidikan : Peran Sekolah dan Desain Pembelajaran

Gangguan konsentrasi tidak tepat dibebankan sepenuhnya kepada pelajar. Desain pembelajaran, kepadatan tugas, dan aturan penggunaan perangkat turut menentukan pengalaman belajar. Tinjauan sistematis mengenai distraksi digital dalam pendidikan mengidentifikasi faktor personal, teknologi, dan lingkungan sebagai unsur yang saling memengaruhi (Martin et al., 2025). Oleh sebab itu, sekolah perlu membedakan penggunaan layar untuk aktivitas akademik yang terarah dengan penggunaan rekreatif yang berpotensi mengalihkan perhatian.

Strategi yang dapat diterapkan meliputi penonaktifan notifikasi nonakademik selama belajar, pembagian materi menjadi sesi terstruktur, jeda singkat antarsesi, serta penggunaan satu aplikasi sesuai tujuan pembelajaran. Pelajar juga dapat menetapkan waktu khusus untuk memeriksa pesan, sehingga aktivitas tersebut tidak terus menyela proses memahami materi.

Pencegahan Berbasis Kesehatan Masyarakat

Pencegahan kelelahan digital perlu menggabungkan literasi digital, kebiasaan sehat, dan dukungan lingkungan. Pelajar dapat menerapkan aturan sederhana: menjaga jarak pandang yang nyaman, menyesuaikan pencahayaan, mengubah posisi tubuh secara berkala, serta mengistirahatkan mata dengan melihat objek jauh. Jeda juga sebaiknya diisi gerak ringan, bukan berpindah ke layar lain.

Organisasi Kesehatan Dunia menganjurkan anak dan remaja membatasi perilaku sedentari, khususnya waktu layar rekreatif, serta tetap aktif secara fisik (WHO, 2020). Rekomendasi ini tidak berarti seluruh kegiatan belajar berbasis layar harus dihindari. Fokusnya ialah keseimbangan antara pembelajaran digital, aktivitas fisik, istirahat, dan interaksi sosial.

Kelelahan digital dan gangguan konsentrasi pada pelajar merupakan persoalan yang terbentuk melalui interaksi antara beban kognitif, regulasi diri, kesehatan mata, dan lingkungan pendidikan. Bukti ilmiah menunjukkan adanya keterkaitan antara multitasking digital, distraksi, dan sejumlah kesulitan belajar, tetapi hubungan sebab-akibat belum selalu dapat dipastikan. Karena itu, solusi yang efektif bukan sekadar melarang perangkat, melainkan membangun kebiasaan digital yang terarah, memperbaiki desain pembelajaran, serta memperkuat literasi kesehatan dan dukungan sekolah. Teknologi seharusnya menjadi sarana pembelajaran, bukan sumber gangguan yang tidak terkendali.

Daftar Pustaka

1. Martin, F., Long, S., Haywood, K., et al. (2025). Digital distractions in education: A systematic review of research on causes, consequences and prevention strategies. Educational Technology Research and Development, 73, 3423–3451.

2. Naryaning, R., & Katmini. (2021). Determinants of using gadget to concentration, complaints of eye fatigue and student learning motivation at SMKN 7 Malang. Journal for Quality in Public Health, 5(1), 142–148.

3. Rachmawati, A., Suhadianto, & Pratikto, H. (2024). Stres akademik dan cyberslacking pada mahasiswa. JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia, 2(2).

4. van der Schuur, W. A., Baumgartner, S. E., Sumter, S. R., & Valkenburg, P. M. (2015). The consequences of media multitasking for youth: A review. Computers in Human Behavior, 53, 204–215.

5. World Health Organization. (2020). WHO guidelines on physical activity and sedentary behaviour. World Health Organization.