Thalassemia sering disebut sebagai "penyakit seribu wajah". Penyakit kelainan darah genetik ini membuat tubuh penderitanya tidak mampu memproduksi sel darah merah yang sehat. Akibatnya, mereka harus menjalani transfusi darah secara rutin seumur hidup. Satu kali transfusi biasanya dilakukan setiap 2 sampai 4 minggu sekali.

Bayangkan, jika dalam setahun ada 12 sampai 26 kantong darah yang harus masuk ke tubuh satu orang penderita thalassemia mayor. Berdasarkan data cascade triwulan II skrining thalassemia dari Kementerian Kesehatan tahun 2026 ditemukan sebanyak 338.776 peserta memiliki faktor risiko thalassemia.

Dari 204.260 orang yang diperiksa hemoglobinnya, terdapat 20.189 orang anemia sehingga memerlukan pemeriksaan darah lengkap. Namun, hanya sekitar 3.982 orang yang perlu pemeriksaan lanjutan dugaan thalassemia.

Dengan demikian, proporsi pemeriksaan lanjutan terhadap peserta yang dicurigai thalassemia baru mencapai sekitar 44,75%.

Dilansir dari hellosehat.com berdasarkan penelitian dari Prof. Iskandar Wahidiyat dan Prof. Pustika Amalia Wahidiyat dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, diketahui bahwa frekuensi carrier atau pembawa genetika thalassemia mencapai 5% dari seluruh populasi di Indonesia. Pernikahan sesama pembawa sifat thalasemia berisiko mewariskan penyakit thalassemia pada anaknya.

Darah : Obat Utama Para Pejuang Thalassemia

Bagi penyandang thalassemia, darah donor bukan pilihan. Darah adalah obat utama agar mereka bisa tumbuh, sekolah, bekerja, dan hidup seperti orang lain. Tanpa transfusi rutin, tubuh mereka akan lemah, organ bisa rusak, dan pertumbuhan terhambat.

Di sinilah peran Palang Merah Indonesia menjadi sangat vital. PMI sebagai pengelola Unit Donor Darah memiliki tanggung jawab memastikan ketersediaan darah yang aman dan cukup. Namun PMI tidak bisa bekerja sendiri. Stok darah yang ada juga harus dibagi untuk pasien DBD, kecelakaan, ibu melahirkan, dan penyakit lainnya.

Mari Jadi Penolong Rutin

Kebutuhan darah untuk thalassemia tidak pernah libur. Saat stok di PMI menipis, para orang tua dan pasienlah yang paling cemas.

Kita bisa membantu dengan satu cara sederhana: donor darah secara rutin setiap 3 bulan. Satu kantong darah kita bisa menyelamatkan nyawa lebih dari satu orang, termasuk adik-adik pejuang thalassemia.

Mari jadikan donor darah sebagai gaya hidup. Karena bagi mereka, setetes darah kita adalah harapan untuk terus hidup dan bermimpi.