Pemenuhan gizi sejak dini menjadi salah satu kunci untuk membangun generasi yang sehat. Anak tidak hanya membutuhkan makanan dalam jumlah cukup, tetapi juga makanan yang beragam dan seimbang. Pola makan yang tepat membantu mencegah kekurangan gizi seperti stunting sekaligus mengurangi risiko kelebihan berat badan dan obesitas.

Stunting dan Obesitas, Dua Masalah Gizi

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis dan berbagai faktor yang berlangsung dalam jangka panjang. Sementara itu, obesitas termasuk bentuk malnutrisi akibat kelebihan energi dan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa malnutrisi mencakup kekurangan gizi maupun kelebihan berat badan dan obesitas.

Di Jawa Timur, hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi stunting turun menjadi 14,7 persen, dari 17,7 persen pada 2023. Angka tersebut menjadikan Jawa Timur sebagai provinsi dengan prevalensi stunting terendah di Pulau Jawa. Data ini masih menjadi salah satu rujukan penting yang digunakan dalam pembahasan kebijakan gizi di Jawa Timur sepanjang 2026.

Namun, penurunan stunting tidak berarti persoalan gizi telah selesai. Pemerintah juga menghadapi tantangan gizi lebih. Kementerian Kesehatan pada 2026 menyoroti semakin dekatnya proporsi anak dengan gizi lebih atau obesitas dengan kelompok anak yang mengalami gizi kurang, menunjukkan adanya beban ganda masalah gizi.

Mengenal Konsep Isi Piringku

Kementerian Kesehatan memperkenalkan konsep Isi Piringku sebagai panduan sederhana untuk menerapkan gizi seimbang. Dalam satu kali makan, setengah bagian piring diisi sayur dan buah, sedangkan setengah lainnya terdiri atas makanan pokok dan lauk-pauk sebagai sumber protein. Untuk anak dalam masa pertumbuhan, sumber protein perlu mendapat perhatian karena berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan.

Penerapannya tidak harus menggunakan makanan mahal. Nasi, jagung, singkong atau sumber karbohidrat lokal dapat dipadukan dengan ikan, telur, tempe, tahu, ayam, sayuran dan buah yang tersedia di daerah.

Protein dan Mikronutrien untuk Mencegah Stunting

Pencegahan stunting perlu dimulai sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan, termasuk pemenuhan gizi ibu sebelum dan selama kehamilan serta pemberian makanan yang sesuai pada bayi dan balita. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 sendiri memantau sejumlah faktor terkait, antara lain Air Susu Ibu (ASI) eksklusif, Makanan Pendamping ASI (MPASI), pemantauan tumbuh kembang, akses air minum dan sanitasi.

Protein hewani seperti ikan, telur dan daging dapat menjadi bagian penting dari pola makan anak. Selain protein, anak membutuhkan zat besi, zinc, vitamin dan mineral dari makanan yang beragam.

Mencegah Obesitas dengan Pola Makan Seimbang

Gizi seimbang bukan berarti makan sebanyak-banyaknya. Orang tua perlu memperhatikan porsi, keragaman makanan dan frekuensi konsumsi makanan tinggi gula, garam dan lemak.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pola makan yang kaya sayuran, buah, kacang-kacangan dan biji-bijian, sekaligus membatasi gula bebas, garam serta lemak jenuh dan trans. Untuk anak di atas 10 tahun dan orang dewasa, WHO merekomendasikan sedikitnya 400 gram buah dan sayuran per hari.

Data Suervei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan secara nasional prevalensi obesitas pada penduduk usia di atas 18 tahun meningkat dari 21,8 persen pada 2018 menjadi 23,4 persen pada 2023. SKI juga mencatat 96,7 persen penduduk usia lima tahun ke atas masih kurang mengonsumsi sayur dan buah sesuai kriteria survei.

Peran Keluarga dan Sekolah

Kebiasaan makan sehat perlu dibangun bersama. Orang tua dapat memberikan contoh dengan menyediakan makanan beragam, membatasi minuman manis dan makanan ultra-proses, serta membiasakan anak makan sayur dan buah. Sekolah juga dapat mendukung melalui pilihan jajanan yang lebih sehat dan edukasi gizi.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur melalui Statistik Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2025 yang diterbitkan pada April 2026 menyediakan berbagai indikator kesehatan dan kondisi balita berbasis Susenas sebagai bahan evaluasi pembangunan kesehatan daerah.

Pada akhirnya, Isi Piringku bukan sekadar aturan membagi makanan di atas piring, tetapi kebiasaan untuk memenuhi kebutuhan tubuh secara seimbang. Dengan makanan yang beragam, porsi yang sesuai, protein yang cukup, serta konsumsi sayur dan buah yang lebih baik, keluarga dapat membantu mencegah stunting sekaligus mengurangi risiko obesitas.

Sumber rujukan;

1. World Health Organization (WHO). Healthy Diet.

2. World Health Organization (WHO). Malnutrition Fact Sheet, 2024.

3. Kementerian Kesehatan RI/BKPK. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 Dalam Angka.

4. Kementerian Kesehatan RI/BKPK. Hasil Utama Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023.

5. BPS Provinsi Jawa Timur. Statistik Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2025, diterbitkan 30 April 2026.

6. Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Data capaian stunting Jawa Timur berdasarkan SSGI 2024.