Stunting bukan cuma soal anak bertubuh pendek. Stunting adalah gagal tumbuh karena anak kekurangan gizi dalam waktu lama, terutama di 1000 hari pertama kehidupan. Mulainya sejak bayi masih di dalam kandungan sampai usia 2 tahun. Kalau dibiarkan, dampaknya panjang. Anak jadi gampang sakit, susah fokus belajar, sampai dewasa nanti produktivitasnya ikut turun.

Nah, kabar baiknya stunting ini bisa dicegah. Kuncinya ada di awal. Dan tempat paling dekat dengan keluarga untuk mencegahnya adalah Posyandu. Di sinilah peran PMI jadi penting.

Posyandu : Rumah Pertama Cegah Stunting

Setiap bulan ibu-ibu datang ke Posyandu untuk menimbang balita, mengukur tinggi badan, dapat imunisasi, dan konsultasi gizi. Momen ini emas banget. Sayangnya, kadang informasinya belum sampai secara lengkap. Petugas kesehatan terbatas, waktunya juga mepet.

Di titik inilah PMI masuk sebagai penguat. Relawan PMI bukan menggantikan bidan atau kader. PMI hadir untuk mendampingi, mengedukasi, dan memastikan tidak ada anak yang "terlewat" dari pantauan.

Dilansir dari tangerang.co.id, Ketua PMI Kota Tangerang menjelaskan bahwa peran PMI di Posyandu dilakukan melalui edukasi gizi seimbang pada ibu hamil dan balita, serta pemberian leaflet yang di dalamnya berisi mengenai panduang makanan dengan gizi seimbang bagi ibu hamil dan balita.

Lalu Apa yang Dikerjakan PMI di Posyandu?

Ada 3 hal utama yang dilakukan relawan PMI saat kegiatan Posyandu berlangsung.

Pertama, edukasi gizi dengan cara sederhana.

Banyak ibu sudah tahu harus kasih makan bergizi. Tapi bingung lauknya apa, harganya mahal, bahannya susah. Relawan PMI datang bawa solusi. Ada demo masak MPASI dari bahan lokal seperti tempe, ikan, telur, dan sayur. Ada kelas untuk ibu hamil tentang makanan penambah darah. Bahasanya ringan, contohnya nyata. Tujuannya biar ibu langsung bisa praktik di rumah besok juga.

Kedua, memantau tumbuh kembang anak.

Sambil nimbang, relawan PMI bantu cek grafik pertumbuhan di KMS. Kalau ada garis berat badan anak yang datar atau turun 2 bulan berturut-turut, langsung ditandai. Setelah Posyandu selesai, relawan PMI akan kunjungi rumahnya. Dicek: apa karena tidak ada makanan, salah cara masak, atau anaknya sering sakit. Dengan begitu masalahnya bisa cepat ditangani.

Ketiga, menguatkan sanitasi dan air bersih.

Stunting juga datang dari diare terus-menerus karena air kotor dan jajan sembarangan. Makanya PMI sekalian kampanyekan PHBS di Posyandu: cuci tangan pakai sabun, pakai jamban sehat, masak air sampai mendidih. Di beberapa daerah, PMI juga bantu penjernih air sederhana agar air minum di rumah lebih aman.

Kenapa Harus PMI?

Karena relawan PMI itu orang sekitar. Tetangga, kakak, atau ibu PKK. Jadi saat menyampaikan pesan, lebih nyampe dan tidak menakutkan. PMI juga jadi jembatan. Kalau menemukan ibu hamil kekurangan energi kronis atau balita gizi buruk, PMI langsung koordinasi dengan puskesmas dan pemerintah desa agar dapat bantuan tambahan.

Singkatnya, PMI membuat Posyandu tidak hanya jadi tempat nimbang, tapi jadi tempat belajar, berbagi, dan saling menguatkan.

Yuk, Stop Stunting dari Sekarang

Mencegah stunting tidak bisa jalan sendiri-sendiri. Butuh puskesmas, kader, pemerintah, keluarga, dan organisasi seperti PMI. Bagi para orang tua, kuncinya sederhana: rajin ke Posyandu setiap bulan. Di sana ada tim kesehatan, ada kader, dan ada PMI yang siap mendampingi.

Karena 1000 hari pertama itu menentukan. Anak yang sehat dan cerdas hari ini, adalah Indonesia yang kuat di masa depan. Dan PMI berkomitmen, tidak ada lagi anak Indonesia yang gagal tumbuh karena stunting.