Mata merupakan jendela bagi anak untuk mengenal dunia. Melalui penglihatan, mereka belajar membaca, menulis, mengenali lingkungan, hingga memahami berbagai hal baru. Namun, di tengah perkembangan teknologi digital, penggunaan telepon genggam (HP) yang semakin intensif menjadi tantangan tersendiri bagi kesehatan mata anak.

Miopia atau rabun jauh merupakan gangguan penglihatan yang membuat benda-benda jauh terlihat kabur. Kondisi ini terjadi ketika cahaya tidak terfokus tepat pada retina, umumnya karena bentuk bola mata terlalu panjang atau sistem optiknya terlalu kuat. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kelainan refraksi yang tidak terkoreksi merupakan salah satu penyebab utama gangguan penglihatan di dunia. Kabar baiknya, kebiasaan sehari-hari dapat membantu mengurangi risiko dan memperlambat perkembangan mata minus pada anak.

Layar HP dan Risiko Mata Minus

Penggunaan HP tidak serta-merta menyebabkan mata minus pada setiap anak. Namun, aktivitas melihat layar dari jarak dekat dalam waktu lama, terutama jika menggantikan kegiatan di luar ruangan, perlu diwaspadai.

Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan pada 2025 menemukan bahwa setiap tambahan satu jam paparan layar digital per hari berkaitan dengan peningkatan kemungkinan mengalami miopia sebesar 21%. Temuan ini berasal dari analisis 45 penelitian. Meski demikian, hubungan tersebut tidak berarti bahwa setiap jam menggunakan HP pasti menyebabkan mata minus. Miopia juga dipengaruhi faktor keturunan, usia, serta kebiasaan visual lainnya.

Oleh karena itu, orang tua perlu mengatur penggunaan perangkat digital, terutama ketika anak menggunakannya untuk hiburan dalam waktu panjang tanpa jeda.

Kacamata Bukan Musuh Penglihatan

Ketika anak mulai mengalami mata minus, sebagian orang tua mungkin khawatir bahwa penggunaan kacamata justru membuat ketergantungan atau memperparah kondisinya.

Anggapan tersebut tidak tepat. Kacamata dengan ukuran yang sesuai membantu memfokuskan cahaya pada retina sehingga penglihatan menjadi lebih jelas. Kacamata tidak membuat mata menjadi semakin minus hanya karena digunakan.

WHO menjelaskan bahwa kelainan refraksi dapat dikoreksi menggunakan kacamata yang sesuai. Karena itu, anak yang mengalami gangguan penglihatan sebaiknya menjalani pemeriksaan mata dan menggunakan kacamata sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.

Orang tua juga tidak seharusnya membiarkan anak kesulitan melihat tulisan di papan sekolah hanya karena khawatir anak akan terus memakai kacamata.

Fakta Mata Minus Anak di Jawa Timur Tahun 2026

Perhatian terhadap kesehatan mata anak menjadi semakin penting di Jawa Timur. Pada 16 Januari 2026, ANTARA Jawa Timur melaporkan bahwa Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung menemukan banyak anak sekolah yang menjalani pemeriksaan kesehatan gratis sepanjang 2025 mengalami kelainan visus, termasuk miopia.

Pemeriksaan tersebut menyasar sekitar 183.000 anak sekolah dari jenjang SD hingga SMA. Temuan ini menjadi pengingat pentingnya deteksi dini gangguan penglihatan di lingkungan pendidikan.

Hingga Oktober 2026, data prevalensi miopia yang mewakili seluruh anak di Jawa Timur belum dapat dipastikan berdasarkan sumber yang tersedia dalam penelusuran ini. Oleh sebab itu, diperlukan pemeriksaan mata secara berkala dan publikasi data kesehatan yang lebih terperinci untuk mengetahui besarnya masalah di setiap kabupaten dan kota.

Cara Sederhana Menjaga Mata Anak Tetap Sehat

Pencegahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah maupun sekolah.

Pertama, perbanyak aktivitas di luar ruangan. WHO menyarankan anak menghabiskan setidaknya 90 menit sehari di luar ruangan pada siang hari sebagai salah satu langkah yang dapat membantu menunda munculnya miopia. Anak dapat bermain, berjalan kaki, atau berolahraga dengan tetap memperhatikan keselamatan dan perlindungan dari paparan sinar matahari berlebihan.

Kedua, berikan jeda saat melihat layar. Anak dapat menerapkan aturan 20-20-20, yaitu setiap 20 menit melihat objek sejauh sekitar 20 kaki atau enam meter selama 20 detik. Kebiasaan ini membantu mengurangi ketegangan mata, meskipun bukan jaminan untuk mencegah miopia.

Ketiga, atur jarak dan pencahayaan. Hindari kebiasaan menatap layar terlalu dekat atau menggunakan HP sambil berbaring dalam kondisi pencahayaan yang kurang memadai. Pastikan anak membaca dengan posisi nyaman dan pencahayaan cukup.

Keempat, lakukan pemeriksaan mata. Jika anak sering menyipitkan mata, mendekati televisi, mengeluh sakit kepala, atau kesulitan membaca tulisan di papan, orang tua sebaiknya segera membawanya untuk menjalani pemeriksaan.

Peran Orang Tua dan Sekolah

Menjaga kesehatan mata anak bukan hanya tanggung jawab tenaga medis. Orang tua perlu menjadi teladan dalam penggunaan perangkat digital, sedangkan sekolah dapat mendukung melalui kegiatan luar ruangan dan pemeriksaan penglihatan berkala.

Pada akhirnya, kacamata dan HP tidak harus dipertentangkan. Kacamata membantu mengoreksi penglihatan yang terganggu, sementara penggunaan HP yang bijak merupakan bagian dari kebiasaan hidup sehat. Dengan pendampingan orang tua, aktivitas fisik yang cukup, serta deteksi dini, anak memiliki peluang lebih baik untuk mempertahankan kesehatan penglihatannya hingga dewasa.

Daftar Pustaka;

1. World Health Organization. (2026, 11 Februari). Eye care, vision impairment and blindness : Refractive errors. WHO. WHO – Refractive Errors

2. World Health Organization. (2026, 10 Februari). Blindness and vision impairment. WHO. WHO – Blindness and Vision Impairment

3. Digital Screen Time and Myopia: A Systematic Review and Dose-Response Meta-Analysis. (2025). PubMed Central. Artikel penelitian tentang durasi layar digital dan miopia.

4. ANTARA Jawa Timur. (2026, 16 Januari). Dinkes: Mayoritas anak sekolah di Tulungagung alami kelainan visus. ANTARA News. ANTARA Jawa Timur – Kelainan Visus Anak Sekolah di Tulungagung.

5. Prevention and management of childhood progressive myopia : National consensus guidelines. (2023). PubMed Central. Pedoman pencegahan dan penanganan miopia progresif pada anak.