Vitamin A adalah vitamin esensial untuk penglihatan, imun, dan pertumbuhan sel. Tubuh tidak bisa membuatnya sendiri. Kekurangan Vitamin A (KVA) masih menjadi masalah gizi utama Indonesia.

Data terbaru WHO 2024-2025 menyatakan bahwa 190 juta anak balita di dunia mengalami defisiensi Vitamin A, 5,2 juta diantaranya mengalami xeroftalmia atau rabun senja.

Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat 19,2% balita mengalami defisiensi Vitamin A subklinis (kadar retinol serum <20 mcg/dL), naik di daerah dengan stunting tinggi.

SKI juga mencatat cakupan pemberian kapsul Vitamin A biru dan merah pada balita baru 78,4% pada 2023, masih di bawah target 90% tahun 2026.

Dampaknya langsung pada pertumbuhan. Anak KVA memiliki risiko stunting 2,1 kali lipat menurut studi SEANUTS II 2024.

Mengapa Vitamin A Penting untuk Tumbuh?

Vitamin A dalam bentuk retinol dan asam retinoat bekerja di 3 jalur:

a. Pertumbuhan Tulang dan Sel : Asam retinoat mengatur ekspresi gen pertumbuhan GH-IGF1. Kekurangan menghambat diferensiasi kondrosit di lempeng pertumbuhan.

Penelitian Journal of Nutrition 2025 pada 1.200 anak Indonesia menunjukkan anak dengan asupan Vitamin A <50% AKG memiliki kecepatan tumbuh tinggi 0,8 cm/tahun lebih lambat.

b. Imunitas : Vitamin A menjaga integritas epitel usus dan saluran napas serta meningkatkan produksi sel T dan IgA. Cochrane Review 2024 terbaru pada 1,2 juta anak menyatakan bahwa suplementasi Vitamin A dosis tinggi 6 bulan sekali menurunkan mortalitas balita 24% dan menurunkan insiden diare berat 15% serta campak berat 50%.

c. Penglihatan : Retina membutuhkan retinal untuk siklus visual. Defisiensi stadium awal adalah rabun senja, lanjut menjadi bercak Bitot dan kebutaan. WHO 2025 mencatat 500.000 anak buta per tahun akibat KVA, 50% meninggal dalam 1 tahun.

Kebutuhan menurut AKG Kemenkes 2024: usia 0-6 bulan 375 mcg, 7-11 bulan 400 mcg, 1-3 tahun 450 mcg, 4-6 tahun 500 mcg per hari.

Pemerintah Indonesia menjalankan program bulan Vitamin A setiap Februari dan Agustus. Dosis sesuai WHO 2024-2026 :

- Bayi 6-11 bulan: kapsul biru 100.000 IU (1 kali).

- Balita 12-59 bulan: kapsul merah 200.000 IU (2 kali setahun).

- Nifas: 200.000 IU.

Data Kemenkes Triwulan I 2026: cakupan Februari 2026 mencapai 81,2%, meningkat 3% dari 2025 tapi masih 8,8% di bawah target 90%. Daerah dengan cakupan rendah berkorelasi dengan kejadian campak. Laporan Kemenkes 2025-2026 menyebutkan bahwa 34% kasus campak berat pada balita terjadi pada anak yang tidak mendapat Vitamin A.

Studi terbaru Fakultas Kedokteran UI 2025: pemberian Vitamin A bersamaan dengan imunisasi campak meningkatkan serokonversi vaksin 18%.

Sumber Pangan dan Strategi 2026

Suplementasi saja tidak cukup. Food-based approach penting. Sumber terbaik per 100 gram:

- Hati ayam: 9.600 mcg (2.133% AKG).

- Wortel: 835 mcg, bayam: 469 mcg, telur: 149 mcg, mangga: 54 mcg.

Bioavailabilitas Vitamin A nabati (beta-karoten) hanya 12:1, artinya butuh 12 mcg beta-karoten untuk menjadi 1 mcg retinol. Jadi anak vegetarian harus makan 3 kali lebih banyak sayur berwarna.

Strategi 2026 terbaru adalah fortifikasi. Peraturan BPOM 2025 mewajibkan fortifikasi minyak goreng dengan Vitamin A 45 IU/gram. Penelitian IPB 2026 menyebutkan bahwa konsumsi minyak fortifikasi 25 gram/hari menyumbang 70% kebutuhan Vitamin A balita.

Cukupi Vitamin A bukan sekadar hindari rabun senja. Data 2026 jelas: Vitamin A menurunkan kematian, mempercepat tinggi badan, dan mendukung imun.

Pastikan balita dapat kapsul biru dan merah tiap Februari dan Agustus di Posyandu, Puskesmas, dan PMI. Berikan MPASI kaya hati ayam, telur, dan sayur oranye. Anak cukup Vitamin A, tumbuh optimal dan tidak mudah sakit.