Hari Tanpa Kekerasan Internasional diperingati setiap 2 Oktober, bertepatan dengan hari kelahiran Mahatma Gandhi. Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan peringatan ini melalui Resolusi Majelis Umum A/RES/61/271 pada 15 Juni 2007 sebagai momentum untuk menyebarluaskan pesan tanpa kekerasan melalui pendidikan dan kesadaran publik. Tujuannya adalah memperkuat budaya perdamaian, toleransi, pemahaman, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Peringatan ini tidak hanya berkaitan dengan perdamaian sosial, tetapi juga mempunyai hubungan erat dengan kesehatan masyarakat. Kekerasan dapat menimbulkan cedera, gangguan kesehatan mental, masalah kesehatan reproduksi, hingga dampak kesehatan jangka panjang.
Kekerasan sebagai Masalah Kesehatan Masyarakat

Data terbaru WHO menunjukkan besarnya dampak kekerasan terhadap kesehatan. Dalam lembar fakta yang diperbarui pada Juni 2026, WHO menyebut sekitar 31,6% atau 840 juta perempuan dan anak perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual dari pasangan intim maupun kekerasan seksual non-pasangan sepanjang hidupnya. WHO juga mencatat bahwa rata-rata 140 perempuan dan anak perempuan meninggal setiap hari pada 2023 akibat pembunuhan oleh pasangan atau anggota keluarga.
Kekerasan juga berkaitan dengan berbagai konsekuensi kesehatan, termasuk cedera, gangguan tidur, kecemasan, depresi, gangguan stres pascatrauma, serta berbagai masalah kesehatan seksual dan reproduksi. Karena itu, pencegahan kekerasan perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif dalam kesehatan masyarakat.

Anak dan Remaja Membutuhkan Perlindungan
Kelompok anak dan remaja menjadi salah satu kelompok yang sangat membutuhkan lingkungan aman. WHO pada Mei 2026 memperkirakan hingga 1 miliar anak berusia 2–17 tahun mengalami kekerasan fisik, seksual, atau emosional maupun penelantaran dalam satu tahun terakhir. WHO menegaskan bahwa pengalaman kekerasan pada masa kanak-kanak dapat memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan sepanjang kehidupan.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya edukasi kesehatan sejak dini. Sekolah, keluarga, fasilitas kesehatan, dan masyarakat dapat menjadi ruang pembelajaran mengenai komunikasi sehat, penyelesaian konflik tanpa kekerasan, penghormatan terhadap batas pribadi, serta keberanian mencari bantuan ketika menghadapi situasi yang tidak aman.

Edukasi Kesehatan sebagai Upaya Pencegahan
Edukasi kesehatan tidak cukup hanya membahas pola makan, aktivitas fisik, atau pencegahan penyakit. Pendidikan kesehatan juga perlu membangun keterampilan sosial dan emosional, seperti mengelola emosi, berkomunikasi secara asertif, menghargai perbedaan, memahami persetujuan dan batas pribadi, serta menyelesaikan konflik secara konstruktif.
Pendekatan tersebut sejalan dengan kebutuhan pencegahan kekerasan berbasis masyarakat. WHO menegaskan bahwa kekerasan terhadap anak dapat dicegah dan membutuhkan keterlibatan berbagai sektor, termasuk keluarga, sekolah, layanan kesehatan, serta lingkungan sosial.
Peran Tenaga Kesehatan dan Masyarakat
Sektor kesehatan memiliki posisi strategis dalam pencegahan dan penanganan dampak kekerasan. WHO merekomendasikan penguatan kapasitas tenaga kesehatan, penyediaan layanan kesehatan mental dan reproduksi, sistem rujukan, serta pengumpulan data untuk memahami besarnya masalah dan efektivitas intervensi.
Dengan demikian, Hari Tanpa Kekerasan Internasional dapat menjadi momentum untuk memperluas pemahaman bahwa hidup tanpa kekerasan merupakan bagian dari kesehatan dan kesejahteraan manusia. Membangun lingkungan yang aman bukan sekadar menghindari tindakan kekerasan, tetapi juga menciptakan budaya komunikasi, empati, penghormatan, dan kepedulian.
Peringatan 2 Oktober memiliki relevansi kuat dengan agenda kesehatan masyarakat pada 2026. Data global menunjukkan bahwa kekerasan masih memberikan beban kesehatan yang besar, terutama bagi perempuan dan anak. Karena itu, edukasi kesehatan perlu bergerak lebih luas: dari sekadar memberikan informasi tentang penyakit menuju pembentukan lingkungan yang aman, sehat, inklusif, dan bebas kekerasan.
Melalui pendidikan, keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan masyarakat dapat bersama-sama membangun kemampuan untuk mencegah kekerasan sejak dini.
Dengan pendekatan tersebut, pesan Hari Tanpa Kekerasan Internasional tidak berhenti sebagai peringatan tahunan, tetapi menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan kehidupan.











