Hari Lanjut Usia Internasional diperingati setiap 1 Oktober berdasarkan Resolusi PBB No. 45/106 tahun 1990. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran global tentang hak, martabat, dan kontribusi lansia. Pada tahun 2026, peringatan ini menjadi sangat relevan bagi Indonesia yang baru saja memasuki fase aging population.

Fakta Demografi, Indonesia Menua Lebih Cepat
Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan Indonesia resmi memasuki era penuaan penduduk. Proporsi lansia mencapai 11,97% dari total populasi atau sekitar 34,08 juta jiwa, melampaui ambang batas 10% yang ditetapkan PBB.

Tren ini meningkat drastis dari 7,59% pada 2010 dan 9,93% pada 2020. Proyeksi DBS Foundation dan BPS 2025, angka ini akan menembus 20,9% pada tahun 2045. Bahkan laporan An Aging World 2025 dari U.S. Census Bureau mencatat untuk pertama kalinya dalam sejarah, populasi global usia 65+ melampaui populasi usia di bawah 5 tahun.
Implikasinya, 25,17 juta keluarga atau 33,98% keluarga Indonesia kini menanggung setidaknya satu lansia di rumah, memicu fenomena sandwich generation.

Tantangan Kesehatan Lansia di Indonesia
Masa tua bukan hanya soal umur panjang, tapi kualitas hidup. Data Kemenkes dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) per Juni 2026 menunjukkan 63,5% lansia peserta terdeteksi hipertensi, disusul diabetes, stroke dan gagal ginjal sebagai penyakit paling diwaspadai.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat 95% lansia masih mandiri, tetapi, 2,9% mengalami ketergantungan total yang membutuhkan bantuan penuh. WHO menegaskan tantangan global lansia adalah penyakit tidak menular dan keterbatasan akses layanan, dimana 4,5 miliar orang di dunia masih kekurangan akses layanan esensial.

Strategi Perawatan Aging Population Jangka Panjang
Ada tiga strategi utama yang bisa dilakukan dalam rangka memberikan pelayanan terhadap lansia;
a. Layanan Kesehatan Komunitas Ramah Lansia
Memperkuat Posyandu Lansia, Sekolah Lansia, dan layanan home care oleh relawan. Ini sejalan dengan target Kemenkes 2026 untuk memiliki 8.911 Puskesmas dengan layanan khusus lansia.
b. Dukungan Psikososial dan Kesiapsiagaan
WHO 2025 memperingatkan kesenjangan 11,1 juta tenaga kesehatan global pada 2030 karena tenaga kesehatan juga menua. Pengisian kekosongan melalui relawan kesehatan yang melakukan kunjungan rumah, edukasi pencegahan jatuh, dan pendampingan digital untuk akses tele-health.
c. Pemberdayaan Ekonomi dan Sosial
Data DBS 2025 menyebut 55,32% lansia Indonesia masih harus bekerja dan 82,96% rumah tangga lansia bergantung pada keluarga. Melalui program cash assistance dan pelatihan keterampilan ringan membantu lansia tetap berdaya dan bermartabat.
5. Menua Sehat adalah Hak Asasi
Hari Lanjut Usia Internasional bukan sekadar seremonial. Ini adalah pengingat bahwa negara dengan 34 juta lansia tidak bisa lagi memandang lansia sebagai beban, melainkan sebagai subjek pembangunan.
Seperti pesan WHO, tambahan usia harus diisi dengan kesehatan, kualitas, dan makna. Kolaborasi pemerintah, dan keluarga menjadi kunci agar lansia Indonesia tidak hanya hidup lebih lama, tetapi hidup lebih sehat dan bermartabat.











