Peralihan musim kemarau ke hujan (September-November) dan hujan ke kemarau (Maret-Mei) adalah puncak diare anak di Indonesia. Data Kemenkes RI Triwulan I 2026 mencatat diare masih menjadi penyebab ke-2 kematian balita setelah pneumonia, dengan 1.200 kematian per tahun.

WHO Global Diarrhea Surveillance 2024-2025 menunjukkan bahwa 1,7 miliar kasus diare anak terjadi per tahun di dunia, 443.832 anak balita meninggal.
Di Indonesia, Riskesdas dan SKI 2023 menunjukkan prevalensi diare balita 9,2%, naik menjadi 13,8% pada saat pancaroba. Bulan Februari 2026, Kemenkes melaporkan lonjakan kasus diare 22% di 12 provinsi setelah banjir awal tahun.

Mengapa pancaroba berbahaya? Suhu naik-turun, kelembapan 75-85%, bakteri E.coli, Rotavirus, dan Norovirus berkembang 2 kali lebih cepat. Sumber air tercemar banjir dan lalat meningkat 3 kali lipat.
Diare Menghambat Tumbuh Kembang

Diare bukan sekadar BAB cair, definisi WHO 2024 menyebutkan bahwa BAB cair >3 kali/hari dalam 24 jam.
Dampak jangka panjang baru terungkap. Studi The Lancet Child Health 2025 pada 8.000 anak di 8 negara termasuk Indonesia bahwa setiap 1 episode diare berat menurunkan tinggi badan 0,12 cm dan menyebabkan kehilangan 0,5 kg berat badan. Anak dengan >5 episode diare sebelum usia 2 tahun memiliki risiko stunting 2,8 kali lipat dan skor IQ 7 poin lebih rendah pada usia 7 tahun.
Data IDAI 2026: 38% balita diare mengalami dehidrasi sedang-berat. Dehidrasi 5% (kehilangan 5% berat badan) sudah menurunkan fungsi ginjal, dehidrasi 10% bisa syok dan kematian dalam 6-12 jam jika tidak ditangani.

Rotavirus masih menjadi penyebab 42% diare berat pada balita di Indonesia tahun 2025-2026, meski vaksin Rotavirus sudah masuk imunisasi rutin 2023.
Langkah Dini Pencegahan Diare
a. Vaksinasi dan Vitamin A
Vaksin Rotavirus 3 dosis efektif mencegah diare berat 68% menurut WHO 2024. Cakupan Rotavirus Indonesia 2025 baru 78%, target 2026 90%. Pemberian Vitamin A dosis tinggi Februari dan Agustus 2026 menurunkan risiko diare berat 15% dan kematian akibat diare 28% menurut Cochrane Review 2024.
b. Sanitasi dan Cuci Tangan
Studi Universitas Indonesia 2025 menyebutkan bahwa cuci tangan pakai sabun pada 5 waktu kritis (sebelum makan, sesudah BAB, sebelum menyusui) menurunkan diare 48%. Data Kemenkes 2026: hanya 52% rumah tangga Indonesia memiliki akses air minum aman di pancaroba.
c. ASI Eksklusif dan MPASI Aman
ASI eksklusif 6 bulan menurunkan diare 64%. Saat pancaroba, MPASI harus dimasak >70°C dan habis dalam 2 jam. Bakteri dalam MPASI yang disimpan suhu ruang 4 jam meningkat 10 kali lipat.
d. Tatalaksana Cepat di Rumah
WHO-UNICEF 2024-2026 tetap merekomendasikan 3 pilar: Lanjutkan makan, beri Oralit setiap BAB cair (200 ml untuk balita), dan Zinc 10 mg/hari untuk <6 bulan dan 20 mg/hari untuk >6 bulan selama 10-14 hari. Data terbaru 2025: Zinc memperpendek durasi diare 25% dan mencegah diare ulang 30% dalam 3 bulan.
Kapan Harus ke Puskesmas/PMI?
Segera bawa jika ada tanda dehidrasi, mata cekung, tidak ada air mata, ubun-ubun cekung, malas minum, BAB berdarah, demam >39°C, dan tidak BAK 6 jam. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2026 kini mencakup skrining diare berulang sebagai indikator stunting.
Pancaroba 2026 akan terus terjadi dengan perubahan iklim, curah hujan ekstrem naik 18% menurut BMKG 2025. Diare yang dicegah hari ini adalah 2 cm tinggi badan dan 10 poin IQ yang diselamatkan besok. Cukupi ASI, lengkapi Rotavirus dan Vitamin A, cuci tangan, kelola air minum aman, dan sediakan Oralit-Zinc di rumah. Anak bebas diare, tumbuh optimal.











