Imunisasi merupakan salah satu langkah penting untuk melindungi anak dari penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, seperti campak, polio, difteri, pertusis, hepatitis B, dan pneumonia. Lebih dari sekadar layanan kesehatan rutin, imunisasi menjadi investasi jangka panjang untuk membangun generasi yang sehat, tangguh, dan produktif.

Di Jawa Timur, penguatan imunisasi anak pada 2026 perlu menjadi perhatian bersama. Tantangannya bukan hanya meningkatkan jumlah anak yang menerima vaksin, tetapi juga memastikan setiap anak memperoleh seluruh dosis sesuai jadwal. Pemerataan layanan menjadi penting agar anak-anak di wilayah perkotaan, pedesaan, hingga kepulauan memiliki kesempatan perlindungan yang sama.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), imunisasi berperan besar dalam mencegah penyakit dan kematian. Karena itu, penguatan layanan imunisasi rutin perlu berjalan beriringan dengan edukasi masyarakat, pemantauan cakupan, serta peningkatan akses pelayanan kesehatan.

Capaian dan Tantangan Imunisasi di Jawa Timur

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dipublikasikan Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa cakupan imunisasi dasar lengkap pada anak usia 12–23 bulan di Jawa Timur mencapai 50,7% berdasarkan definisi dan petunjuk teknis survei tersebut. Sementara itu, penelitian terhadap 2.925 anak usia 12–59 bulan di Jawa Timur menggunakan data SKI 2023 menemukan bahwa 47,2% anak memiliki imunisasi dasar lengkap.

Secara nasional, laporan WHO dan UNICEF pada Juli 2026 menyebutkan bahwa cakupan dosis ketiga vaksin difteri, tetanus, dan pertusis (DTP3) meningkat dari 78% pada 2024 menjadi 82% pada 2025. Meski demikian, masih terdapat sekitar 657.000 anak di Indonesia yang belum menerima satu pun dosis vaksin pada 2025. Kondisi tersebut menegaskan bahwa pemerataan imunisasi masih menjadi pekerjaan penting.

Strategi Memperkuat Imunisasi Anak

Penguatan imunisasi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, puskesmas, posyandu, sekolah, tenaga kesehatan, dan keluarga. Pelayanan imunisasi perlu dilakukan secara rutin, disertai pendataan anak yang belum mendapatkan dosis lengkap serta penjangkauan masyarakat yang mengalami hambatan akses.

Penelitian Steffanie Zoya Banjarnahor dari Universitas Jember yang dipublikasikan pada 2026 menemukan bahwa pendidikan ibu dan riwayat pemeriksaan kehamilan (ANC) berhubungan dengan kelengkapan imunisasi anak di Jawa Timur. Temuan ini menunjukkan pentingnya edukasi sejak masa kehamilan agar orang tua memahami jadwal vaksinasi dan manfaatnya.

Selain itu, pencatatan imunisasi perlu diperkuat melalui buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta sistem digital yang digunakan tenaga kesehatan. Informasi yang akurat membantu petugas mengidentifikasi anak yang tertinggal jadwal, menjaga ketersediaan vaksin, dan menentukan wilayah yang membutuhkan perhatian lebih besar.

Membangun Kepercayaan dan Pemerataan Layanan

Informasi mengenai keamanan dan manfaat vaksin harus disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Tenaga kesehatan dapat melibatkan kader posyandu, tokoh masyarakat, dan organisasi sosial untuk menjawab keraguan orang tua berdasarkan bukti ilmiah. Pelayanan yang ramah, mudah dijangkau, dan berkesinambungan juga diperlukan untuk membangun kepercayaan masyarakat.

Strategi Imunisasi Nasional 2025–2029 yang dikembangkan bersama Kementerian Kesehatan, WHO, UNICEF, dan mitra terkait menekankan perluasan cakupan yang berkeadilan, penguatan tata kelola, ketersediaan vaksin, serta peningkatan kepercayaan publik.

Bagi Jawa Timur, langkah tersebut perlu diterjemahkan menjadi program yang sesuai dengan kondisi setiap kabupaten dan kota, termasuk wilayah kepulauan. Keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah dosis yang diberikan, tetapi juga dari ketepatan jadwal, kelengkapan imunisasi, dan semakin sedikitnya anak yang belum terlindungi.

Pada akhirnya, penguatan imunisasi anak adalah tanggung jawab bersama. Setiap dosis yang diberikan sesuai jadwal menjadi langkah nyata untuk mengurangi risiko penyakit, mencegah kejadian luar biasa, dan menjaga masa depan generasi muda Jawa Timur.

Daftar Pustaka;

1. World Health Organization (WHO). (2026). Strengthening Immunization Evidence and Strategy in Indonesia.

2. World Health Organization (WHO) dan UNICEF. (2026). More Children Receive Lifesaving Vaccines as Indonesia Advances Immunization Coverage and Works to Close Remaining Gaps.

3. Banjarnahor, S. Z. (2026). Faktor yang Berhubungan dengan Kelengkapan Imunisasi Dasar Anak Usia 12–59 Bulan di Jawa Timur (Analisis Data SKI 2023). Universitas Jember, Fakultas Kesehatan Masyarakat.

4. World Health Organization (WHO). (2025). National Immunization Strategy 2025–2029.

5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Perkuat Program Imunisasi Nasional, Pemerintah Tekankan Pentingnya Kekebalan Kelompok Cegah KLB PD3I.