Campak dianggap penyakit anak biasa dengan bintik merah. Padahal campak adalah salah satu virus paling menular di dunia dan pembunuh anak nomor satu yang bisa dicegah dengan vaksin.

Dilansir dari bbc com, data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan fenomena meningkatnya penyakit campak secara global terpantau pada 2023 yang mencapai 321.876 kasus dan melonjak hingga 359.450 kasus pada 2024. Tahun lalu, angkanya menurun menjadi 248.394 kasus.
Sementara itu, kasus suspek di Indonesia justru meningkat pesat pada 2025 yang mencapai 64.822 dari catatan Kementerian Kesehatan.

Tahun sebelumnya, tercatat 25.641 kasus suspek. Tahun ini, sampai minggu kedelapan 2026, jumlah kasus suspek mencapai 10.453 dengan kasus konfirmasi sebanyak 8.372 dan korban meninggal sebanyak enam orang.
Campak Lebih Menular dari COVID-19 - 1 Anak Sakit Menulari 12-18 Anak Lain

Virus campak memiliki angka R0 12-18, jauh lebih tinggi dari Delta COVID-19 yang R0 6-7. Virus bertahan 2 jam di udara dalam ruangan tertutup setelah penderita batuk.
Seorang anak campak sudah menular 4 hari sebelum ruam muncul. Tanpa imunisasi, hampir 90% orang yang kontak akan tertular.
Dampaknya tidak ringan. Menurut WHO, 1 dari 20 anak campak mengalami pneumonia, 1 dari 1.000 mengalami ensefalitis atau radang otak permanen, dan 1-3 dari 1.000 anak di negara berkembang meninggal.

Campak juga menghapus memori imun atau amnesia imun, sehingga anak yang sembuh dari campak menjadi rentan terhadap infeksi lain selama 2-3 tahun.
Mengapa KLB Berulang di Indonesia?
KLB terjadi jika cakupan imunisasi di bawah herd immunity 95%. Data Kemenkes: cakupan imunisasi campak-rubela (MR) nasional 2023 baru 87,3%, turun akibat pandemi COVID-19 dan misinformasi. Artinya ada 1,7 juta bayi zero dose yang tidak punya kekebalan sama sekali. Mereka adalah bahan bakar KLB.
Surabaya dan Jawa Timur menjadi contoh: KLB campak di Sampang, Pamekasan, dan Sumenep pada 2023 terjadi di kantong-kantong dengan cakupan <80%. Virus mencari yang belum diimunisasi.
Gerakan Imunisasi Adalah Solusi Paling Murah dan Efektif
Vaksin campak MR efektif 97% setelah 2 dosis. Biaya 1 dosis vaksin Rp 25.000, sedangkan biaya rawat KLB campak dengan pneumonia bisa Rp 5-10 juta per anak.
Gerakan imunisasi yang diedukasi oleh PMI dan Kemenkes meliputi ;
a. Kejar dan Sapu : Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) untuk anak 9-59 bulan tanpa melihat status imunisasi sebelumnya.
b. Surveilans Aktif : PMI membantu pelacakan kasus dengan kader.
c. Komunikasi Risiko : Meluruskan hoaks vaksin haram atau berbahaya. Vaksin MR sudah bersertifikat halal MUI.
Studi Lancet 2022 membuktikan negara yang menjaga cakupan >95% selama 3 tahun berturut-turut tidak pernah mengalami KLB.
Campak tidak akan hilang dengan pengobatan, hanya dengan pencegahan. KLB berulang adalah alarm bahwa ada anak-anak kita yang tertinggal imunisasinya.
Gerakan imunisasi campak bukan sekadar program pemerintah, tapi investasi herd immunity. Jika 95% anak di kampung kita diimunisasi, 5% yang tidak bisa diimunisasi karena kanker atau alergi juga akan terlindungi. Satu suntikan mencegah KLB.











