Krisis air bersih bukan hanya persoalan memenuhi kebutuhan minum dan memasak, tetapi juga tantangan menjaga kebersihan diri. Saat persediaan air terbatas, cuci tangan tetap tidak boleh diabaikan karena tangan dapat menjadi media perpindahan berbagai kuman penyebab penyakit. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam pedoman terbaru tahun 2025 menempatkan kebersihan tangan sebagai salah satu langkah penting untuk mengurangi penyakit diare dan infeksi saluran pernapasan.

Jawa Timur Menghadapi Tekanan Kekeringan 2026

Kondisi keterbatasan air menjadi perhatian serius di Jawa Timur pada 2026. Hingga 5 September 2026, 20 kabupaten di Jawa Timur telah melakukan pendistribusian air bersih. Pemprov Jawa Timur juga melaporkan 19.837 warga di Kabupaten Pasuruan terdampak kekeringan dan menerima dukungan berupa tandon serta jeriken.

Secara lebih luas, Kementerian Pekerjaan Umum mencatat hingga 21 Agustus 2026 terdapat 1.216 kejadian kekeringan yang dilaporkan secara nasional, dengan 919 kejadian berada di wilayah permukiman. Penanganan pada lokasi tersebut telah membantu memenuhi kebutuhan air bersih sekitar 614.000 jiwa.

Situasi ini semakin penting diperhatikan karena El Niño diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027. Kementerian PU menyebut puncak musim kemarau 2026 diperkirakan terjadi pada Juli–September.

Air Sedikit, Cuci Tangan Tetap Efektif

Kabar baiknya, mencuci tangan secara higienis tidak selalu membutuhkan air dalam jumlah besar. Pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2025 menyebut penggunaan air untuk satu sesi cuci tangan yang efektif dalam berbagai studi berada pada kisaran 0,5–2 liter per orang per sesi. Ketika air terbatas, keran dapat dimatikan setelah tangan dibasahi dan selama tangan diberi sabun serta digosok, kemudian air dinyalakan kembali untuk membilas.

Praktiknya sederhana; basahi tangan secukupnya, gunakan sabun, gosok seluruh permukaan tangan—termasuk telapak, punggung tangan, sela-sela jari dan kuku—kemudian bilas dengan air mengalir. Kementerian Kesehatan juga menyediakan materi edukasi 2026 mengenai tujuh langkah mencuci tangan yang benar menggunakan sabun dan air mengalir.

Gunakan Wadah Agar Air Tidak Terbuang

Saat tidak tersedia keran, air dapat dituangkan menggunakan gayung atau wadah yang memungkinkan air mengalir. Kemenkes menjelaskan bahwa ember yang dimodifikasi dengan lubang kecil juga dapat menjadi alternatif pada kondisi keterbatasan air. Sebaliknya, mencuci tangan dengan mencelupkan tangan ke dalam wadah berisi air tidak dianjurkan karena air yang sama dapat terkontaminasi kembali.

Prioritaskan Cuci Tangan pada Waktu Penting

Ketika air terbatas, penggunaan air perlu diprioritaskan untuk momen yang paling berisiko terhadap penularan penyakit, terutama sebelum makan atau menyiapkan makanan, setelah menggunakan toilet, setelah membersihkan anak, serta ketika tangan terlihat atau terasa kotor.

Jika air dan sabun benar-benar sulit diperoleh, pembersih tangan berbasis alkohol dapat menjadi alternatif dalam kondisi tertentu. WHO merekomendasikan produk dengan kandungan alkohol minimal 60 persen untuk kebersihan tangan ketika air dan sabun tidak tersedia.

Air Layak dan Sanitasi Harus Berjalan Bersama

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2025, 97,30 persen rumah tangga di Jawa Timur memiliki akses terhadap sumber air minum layak, sementara akses sanitasi layak mencapai 88,26 persen. Angka tersebut menunjukkan kemajuan, tetapi juga memperlihatkan bahwa masih ada rumah tangga yang menghadapi kesenjangan akses air dan sanitasi.

Karena itu, hemat air bukan berarti mengurangi kebersihan. Prinsipnya adalah menggunakan air secara efisien tanpa mengorbankan praktik higienis. Di tengah musim kemarau dan ancaman kekeringan, kebiasaan sederhana seperti mematikan aliran air saat menggosok tangan, menggunakan wadah yang tepat, dan memprioritaskan waktu cuci tangan dapat membantu menjaga kesehatan sekaligus menghemat persediaan air.

Sumber rujukan;

1. World Health Organization (WHO). Guidelines on Hand Hygiene in Community Settings, 2025.

2. World Health Organization (WHO). Guidelines for Drinking-water Quality, pembaruan 2026.

3. Badan Pusat Statistik (BPS). Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Akses terhadap Sumber Air Minum Layak Menurut Provinsi, data 2025.

4. Badan Pusat Statistik (BPS). Persentase Rumah Tangga Menurut Provinsi dan Memiliki Akses terhadap Sanitasi Layak, data 2025.

5. Kementerian Kesehatan RI. Mencuci Tangan Pakai Sabun Secara Benar, 2026.

6. UNICEF Indonesia. WASH Acts Edisi 2026, tentang perkembangan air, sanitasi dan kebersihan di Indonesia.