Bekerja di depan komputer, belajar, mengemudi, hingga menonton televisi sering membuat seseorang duduk selama berjam-jam. Kebiasaan ini tampak sepele, tetapi jika berlangsung terus-menerus dan disertai kurangnya aktivitas fisik, dampaknya dapat memengaruhi kesehatan jantung serta metabolisme tubuh.

Menurut World Health Organization (WHO), sekitar 31% orang dewasa di dunia belum memenuhi rekomendasi aktivitas fisik. Kurangnya aktivitas meningkatkan risiko penyakit tidak menular, termasuk penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan hipertensi. WHO juga menekankan bahwa perilaku sedentari, seperti duduk terlalu lama saat terjaga, berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan.

Persoalan ini bukan semata-mata tanggung jawab individu. Pola kerja, lingkungan tempat tinggal, akses terhadap ruang terbuka, dan kesempatan berolahraga turut menentukan seberapa aktif seseorang menjalani kesehariannya.

Dampak Duduk Terlalu Lama bagi Jantung dan Metabolisme

Ketika tubuh jarang bergerak, penggunaan energi menurun dan otot tidak bekerja secara optimal. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap peningkatan berat badan, gangguan pengaturan gula darah, serta perubahan kadar lemak dalam darah.

Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis dalam jurnal Preventive Medicine pada 2024 menemukan hubungan antara durasi perilaku sedentari yang tinggi dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Penelitian tersebut memperkirakan kelompok dengan perilaku sedentari tinggi memiliki risiko kejadian kardiovaskular sekitar 30% lebih besar dibandingkan kelompok dengan durasi sedentari lebih rendah. Temuan ini menunjukkan hubungan risiko, bukan berarti setiap orang yang lama duduk pasti mengalami penyakit jantung.

Duduk terlalu lama juga dapat mengurangi kesempatan tubuh membakar energi melalui aktivitas sehari-hari. Apabila disertai pola makan tidak seimbang, kurang tidur, dan kebiasaan merokok, risiko gangguan metabolisme dapat semakin meningkat.

Aktivitas Fisik sebagai Investasi Kesehatan Nasional

Di Indonesia, persoalan kurang gerak masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat. Publikasi Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan pada Oktober 2025, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, menyebutkan bahwa 37,4% penduduk berusia di atas 10 tahun kurang melakukan aktivitas fisik. Data tersebut menjadi landasan penting bagi upaya pencegahan penyakit tidak menular pada 2026.

Masyarakat dapat mulai mengurangi waktu duduk dengan berdiri dan melakukan peregangan secara berkala, berjalan kaki untuk perjalanan dekat jika aman, serta menyempatkan aktivitas fisik di sela pekerjaan atau belajar. WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu atau intensitas berat selama 75–150 menit per minggu.

Namun, edukasi saja tidak cukup. Pemerintah, tempat kerja, sekolah, dan fasilitas pelayanan kesehatan perlu menciptakan lingkungan yang memudahkan masyarakat bergerak aktif. Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol juga penting, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko penyakit kardiovaskular.

Jawa Timur dan Pemerataan Kesempatan untuk Hidup Sehat

Di Jawa Timur, publikasi Statistik Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik pada 30 April 2026 menyajikan informasi mengenai keluhan kesehatan, fasilitas pelayanan, tenaga kesehatan, dan jaminan kesehatan. Data tersebut dapat menjadi dasar perencanaan untuk meningkatkan kualitas serta pemerataan pelayanan kesehatan di berbagai wilayah. Namun, publikasi ini tidak dengan sendirinya membuktikan besarnya masalah duduk terlalu lama di Jawa Timur.

Upaya menyejahterakan masyarakat perlu mencakup kesempatan hidup sehat yang setara. Pekerja berpenghasilan rendah, misalnya, mungkin memiliki jam kerja panjang dan sedikit waktu untuk berolahraga. Sementara itu, warga di wilayah yang minim trotoar atau ruang publik aman menghadapi hambatan untuk berjalan kaki.

Karena itu, pemberantasan kemiskinan perlu berjalan beriringan dengan penyediaan ruang publik yang aman, transportasi aktif, edukasi kesehatan, serta layanan pemeriksaan yang terjangkau. Penguatan Jaminan Kesehatan Nasional dan pelayanan puskesmas juga membantu masyarakat memperoleh deteksi dini dan pengobatan tanpa menunda pemeriksaan karena kendala biaya.

Bergerak Lebih Banyak, Menyejahterakan Masyarakat

Mengurangi duduk terlalu lama tidak selalu membutuhkan keanggotaan pusat kebugaran atau peralatan mahal. Kebiasaan sederhana, seperti berjalan kaki, melakukan pekerjaan rumah, dan menyelingi waktu duduk dengan gerakan ringan, dapat menjadi awal yang baik.

Kesehatan jantung dan metabolisme harus dipandang sebagai bagian dari kesejahteraan sosial. Ketika masyarakat memiliki waktu, lingkungan, dan layanan kesehatan yang mendukung perilaku aktif, pencegahan penyakit menjadi lebih mudah dilakukan. Dengan demikian, membangun masyarakat sejahtera berarti bukan hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga memastikan setiap orang memiliki kesempatan nyata untuk hidup sehat dan produktif.

Daftar Pustaka;

1. World Health Organization. (2024). Physical Activity. WHO.

2. World Health Organization. (2025). Noncommunicable Diseases. WHO.

3. Onagbiye, S., et al. (2024). “Association of sedentary time with risk of cardiovascular diseases and cardiovascular mortality : A systematic review and meta-analysis of prospective cohort studies.” Preventive Medicine, 179, 107812.

4. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Aktivitas Fisik Penduduk Indonesia.

5. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur. (2026). Statistik Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2025.