Nyeri dada kerap dianggap sebagai masuk angin, kelelahan, atau gangguan pencernaan. Padahal, keluhan tersebut juga dapat menjadi tanda penyakit jantung, termasuk serangan jantung yang membutuhkan penanganan segera. Menganggap nyeri dada sebagai keluhan biasa tanpa pemeriksaan dapat menunda pertolongan dan meningkatkan risiko komplikasi.

Menurut World Health Organization (WHO), penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Pada 2022, diperkirakan 19,8 juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular, atau sekitar 32 persen dari seluruh kematian global. Sebagian besar kematian tersebut terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah, sehingga penguatan layanan kesehatan yang terjangkau menjadi kebutuhan mendesak.
Mengenali Gejala dan Mengutamakan Pertolongan

Nyeri akibat gangguan jantung dapat terasa seperti dada ditekan, diremas, atau tertindih. Rasa tidak nyaman juga dapat menjalar ke lengan, bahu, punggung, leher, atau rahang. Gejala lain meliputi sesak napas, keringat dingin, mual, pusing, dan tubuh terasa lemah.
Gejala serangan jantung tidak selalu sama pada setiap orang. Sebagian orang, termasuk perempuan dan penderita diabetes, dapat mengalami keluhan yang tidak khas. Karena itu, nyeri dada yang baru muncul, tidak biasa, atau disertai gejala tersebut perlu diwaspadai.

Jika nyeri dada disertai sesak napas, keringat dingin, atau rasa tertekan yang menetap, segera cari pertolongan medis darurat. Jangan menunggu keluhan hilang sendiri atau hanya mengandalkan kerokan dan ramuan tradisional. WHO menegaskan bahwa keterlambatan penanganan dapat memperbesar kerusakan otot jantung.
Indonesia dan Upaya Deteksi Dini sebagai Investasi Kesehatan
Di Indonesia, pengendalian penyakit jantung perlu diperkuat melalui pencegahan, deteksi dini, dan kesinambungan pengobatan. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa hingga 5 Juli 2026, sebanyak 59,6 juta orang telah mengikuti Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program tersebut mulai diperkuat dengan tindak lanjut pengobatan bagi peserta yang terdiagnosis penyakit kronis, terutama hipertensi dan diabetes. Kedua kondisi ini merupakan faktor risiko penting penyakit kardiovaskular.

Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol dapat membantu menemukan risiko sebelum berkembang menjadi kondisi serius. Namun, keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah orang yang diperiksa. Masyarakat juga harus memperoleh akses terhadap obat, konsultasi, pemeriksaan lanjutan, dan rujukan ketika dibutuhkan.
Jawa Timur dan Pemerataan Layanan Kesehatan dan Perlindungan Ekonomi
Di Jawa Timur, publikasi Statistik Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik pada 30 April 2026 menyediakan gambaran mengenai fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, keluhan kesehatan, serta kepemilikan jaminan kesehatan. Data tersebut penting untuk mengevaluasi pemerataan pelayanan dan menyusun kebijakan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Upaya pemberantasan kemiskinan harus berjalan seiring dengan peningkatan akses kesehatan. Keluarga berpenghasilan rendah berisiko menghadapi hambatan biaya transportasi, kehilangan pendapatan harian, atau kesulitan mengakses fasilitas rujukan. Akibatnya, pemeriksaan yang seharusnya dilakukan sejak dini dapat tertunda hingga kondisi memburuk.
Karena itu, pemerintah daerah perlu memperkuat kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional bagi masyarakat yang memenuhi syarat, meningkatkan layanan primer, dan memastikan sistem rujukan berjalan efektif. Puskesmas juga perlu aktif memberikan edukasi mengenai gejala serangan jantung dan faktor risikonya.
Kesehatan Jantung untuk Kesejahteraan Bersama
Pencegahan penyakit jantung membutuhkan lingkungan yang mendukung hidup sehat. Masyarakat perlu memperoleh akses terhadap makanan bergizi dengan harga terjangkau, ruang aktivitas fisik yang aman, informasi kesehatan yang benar, serta layanan pemeriksaan yang mudah dijangkau.
Kesehatan bukan sekadar urusan medis, melainkan fondasi kesejahteraan. Ketika masyarakat dapat memperoleh pertolongan tanpa terbebani hambatan ekonomi, keluarga memiliki peluang lebih besar untuk tetap produktif dan terhindar dari pengeluaran kesehatan yang memberatkan.
Pada akhirnya, nyeri dada tidak boleh langsung dianggap sebagai masuk angin. Mengenali gejala, mencari pertolongan tepat waktu, dan memperluas akses layanan kesehatan merupakan langkah penting untuk menyelamatkan nyawa sekaligus membangun masyarakat yang lebih sejahtera.
Daftar Pustaka;
1. World Health Organization. (2025). Cardiovascular diseases (CVDs). WHO — Cardiovascular Diseases
2. World Health Organization. (2026). Heart attack. WHO — Heart Attack.
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 16 Juli). CKG Ungkap Masalah Kesehatan di Setiap Kelompok Usia. Kemenkes RI — Program Cek Kesehatan Gratis
4. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur. (2026). Statistik Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2025. BPS Jawa Timur — Statistik Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2025.
5. World Health Organization. (2025). Cardiovascular diseases : Prevention and control. WHO — Informasi Penyakit Kardiovaskular.











