Musim kemarau panjang tidak hanya membawa persoalan kekurangan air, tetapi juga meningkatkan tantangan dalam memperoleh air yang aman untuk diminum. Ketika sumur menyusut, sungai mengering, atau sumber air berubah keruh, masyarakat perlu lebih berhati-hati. Air yang tampak tidak layak konsumsi dapat membawa mikroorganisme penyebab penyakit, termasuk diare.

Kekeringan Jawa Timur dan Ancaman Air Keruh

Kondisi ini menjadi perhatian di Jawa Timur sepanjang 2026. Hingga akhir September, sebanyak 24 dari 29 kabupaten/kota yang berpotensi mengalami kekeringan telah menetapkan status darurat kekeringan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat sekitar 36.009 kepala keluarga atau 395.438 jiwa terdampak, sementara distribusi air bersih telah mencapai 13.835 ritase.

Di Kabupaten Jember, misalnya, kekeringan membuat sebagian sumur warga menghasilkan air keruh bercampur lumpur. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kondisi tersebut berdampak pada warga di Dusun Bunder, Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari. Sebanyak 125 kepala keluarga terdampak dan bantuan air bersih kemudian disalurkan.

Mengapa Air Keruh Berisiko Menyebabkan Diare?

Air keruh belum tentu selalu mengandung kuman, tetapi kekeruhan dapat menjadi tanda adanya partikel atau kontaminasi yang membuat air tidak aman untuk diminum. Diare sendiri dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau parasit yang menyebar melalui makanan maupun air yang tercemar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan akses terhadap air minum aman, sanitasi yang baik, dan cuci tangan dengan sabun sebagai langkah penting untuk mencegah diare.

Karena itu, air yang keruh sebaiknya tidak langsung diminum, meskipun berasal dari sumur atau sumber yang biasanya digunakan sehari-hari.

Langkah Pertama : Saring Air yang Keruh

Jika air terlihat keruh, lakukan penyaringan awal untuk mengurangi lumpur dan partikel. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa air baku yang keruh dapat melalui proses pengendapan dan penyaringan, misalnya menggunakan kain. Untuk pengolahan air minum rumah tangga, tersedia pula metode filtrasi menggunakan filter keramik atau biosand filter.

Penyaringan bukan berarti air otomatis aman diminum. Filter tertentu hanya mengurangi partikel atau sebagian mikroorganisme. Karena itu, setelah penyaringan, air tetap perlu didesinfeksi, terutama jika sumber air diragukan.

Langkah Kedua : Rebus hingga Mendidih

Setelah disaring, rebus air hingga mendidih bergolak selama sedikitnya satu menit. WHO menyebut perebusan hingga mendidih sebagai metode yang efektif untuk menonaktifkan mikroorganisme penyebab penyakit. Setelah itu, biarkan air mendingin dan simpan dalam wadah bersih yang tertutup rapat agar tidak tercemar kembali.

Penting diingat, perebusan tidak dapat menghilangkan bahan kimia berbahaya, bahan bakar, atau kontaminan tertentu. Jika air diduga tercemar bahan kimia, sebaiknya gunakan sumber air lain yang aman.

Jangan Lupakan Kebersihan Wadah dan Tangan

Air yang sudah aman dapat kembali tercemar jika disimpan dalam wadah kotor atau sering disentuh dengan tangan. Gunakan wadah bersih dan tertutup, hindari mencelupkan tangan atau gelas kotor langsung ke dalam air, serta cuci tangan dengan sabun sebelum mengolah makanan dan sebelum makan.

WHO juga mencatat bahwa pengolahan air di tingkat rumah tangga merupakan salah satu intervensi penting untuk meningkatkan keamanan air minum dan menurunkan risiko penyakit diare.

Waspada Gejala Diare

Jika setelah mengonsumsi air yang diragukan kualitasnya muncul buang air besar cair berulang, muntah, sakit perut, atau tanda dehidrasi seperti lemas dan berkurangnya buang air kecil, segera lakukan penanganan yang tepat dan cari bantuan tenaga kesehatan bila kondisi memburuk.

Di tengah kemarau dan kekeringan Jawa Timur 2026, menjaga keamanan air bukan sekadar soal kejernihan. Saring, rebus, simpan dengan benar, dan jaga kebersihan tangan menjadi langkah sederhana yang dapat membantu keluarga terhindar dari risiko penyakit yang ditularkan melalui air.

Daftar Pustaka;

1. BPBD Jawa Timur — data dampak kekeringan Jawa Timur 2026, dikutip dalam laporan 29 September 2026.

2. BNPB — laporan kekeringan dan kondisi sumber air keruh di Jember, Jawa Timur, Juli 2026.

3. BPS Provinsi Jawa Timur — data statistik penyakit menurut kabupaten/kota, diperbarui 6 Maret 2026.

4. Kementerian Kesehatan RI — panduan pengolahan air baku keruh, filtrasi, desinfeksi, dan penyimpanan air minum.

5. World Health Organization (WHO) — pengolahan air rumah tangga dan penyimpanan aman untuk mencegah penyakit diare.

6. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) — perebusan air dan metode pengolahan air rumah tangga serta keterbatasannya.