Anak-anak, terutama bayi dan balita, membutuhkan perhatian ekstra untuk menjaga kesehatan saluran pernapasan. Sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang membuat mereka lebih rentan mengalami infeksi, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Paparan debu, asap rokok, polusi udara, serta kontak dengan orang yang sedang sakit dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan.

Kondisi ini menjadi perhatian di Jawa Timur pada 2026. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur mencatat rata-rata kasus ISPA meningkat dari sekitar 117 ribu kasus per bulan pada 2025 menjadi sekitar 148 ribu kasus per bulan pada pertengahan 2026. Puncaknya terjadi pada Agustus 2026, dengan sekitar 211 ribu kasus yang dilaporkan. Data tersebut mencakup kasus ISPA secara keseluruhan, bukan khusus anak-anak.
Peningkatan tersebut menjadi pengingat bagi orang tua agar tidak mengabaikan kesehatan pernapasan anak. Pencegahan dapat dimulai dari rumah melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Mengenali Gejala ISPA Sejak Dini
ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan, mulai dari hidung dan tenggorokan hingga saluran pernapasan bagian bawah. Penyebabnya dapat berupa virus atau bakteri, bergantung pada jenis infeksinya.

Gejala yang umum meliputi batuk, pilek, bersin, sakit tenggorokan, demam, dan penurunan nafsu makan. Sebagian besar infeksi saluran pernapasan ringan dapat membaik dengan perawatan yang tepat. Namun, orang tua perlu memperhatikan perubahan kondisi anak, terutama apabila keluhan semakin berat.
Jangan menunggu hingga kondisi memburuk jika anak mengalami kesulitan bernapas, napas sangat cepat, dada tertarik ke dalam saat bernapas, bibir kebiruan, atau sulit dibangunkan. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan atau instalasi gawat darurat untuk mendapatkan pertolongan.
Lindungi Anak dari Debu dan Polusi Udara

Kualitas udara berpengaruh terhadap kesehatan saluran pernapasan anak. Debu jalanan, asap kendaraan, pembakaran sampah, dan asap rokok dapat mengiritasi saluran pernapasan serta memperburuk keluhan yang sudah ada.
Saat udara berdebu atau kualitas udara memburuk, orang tua sebaiknya membatasi aktivitas anak di luar ruangan. Jika harus bepergian, gunakan masker yang sesuai dengan usia dan ukuran wajah anak serta pastikan anak tetap dapat bernapas dengan nyaman.
Di rumah, hindari merokok di dalam ruangan, jaga sirkulasi udara, dan bersihkan permukaan yang berdebu secara rutin.
Biasakan Cuci Tangan dan Etika Batuk
Virus dan bakteri penyebab infeksi pernapasan dapat menyebar melalui percikan saat seseorang batuk atau bersin, serta melalui tangan yang terkontaminasi.
Ajarkan anak mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan, setelah bermain, dan setelah bersin atau batuk. Biasakan pula menutup mulut dan hidung menggunakan tisu atau siku bagian dalam saat batuk dan bersin.
Jika anggota keluarga sedang sakit, kurangi kontak dekat dengan anak, gunakan masker bila diperlukan, dan hindari berbagi peralatan makan. Kebiasaan sederhana ini membantu mengurangi risiko penularan di lingkungan keluarga.
Perkuat Kesehatan Anak melalui Gizi dan Imunisasi
Asupan gizi seimbang membantu mendukung pertumbuhan dan fungsi kekebalan tubuh anak. Berikan makanan beragam yang mengandung protein, sayuran, buah-buahan, serta zat gizi penting lainnya. Pastikan anak mendapatkan istirahat yang cukup dan cairan sesuai kebutuhannya.
Untuk bayi, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama dianjurkan, kemudian dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI yang sesuai usia. Orang tua juga perlu memastikan imunisasi anak lengkap sesuai jadwal, termasuk imunisasi yang dianjurkan untuk mencegah penyakit pernapasan tertentu.
Jangan Menunda Pemeriksaan ke Tenaga Kesehatan
Apabila batuk, demam, atau pilek tidak membaik, semakin berat, atau disertai keluhan lain, segera konsultasikan kondisi anak kepada tenaga kesehatan. Bayi berusia sangat muda dan anak dengan penyakit penyerta memerlukan perhatian lebih besar.
Hindari memberikan antibiotik tanpa resep karena tidak semua ISPA disebabkan oleh bakteri. Pengobatan harus disesuaikan dengan penyebab dan kondisi pasien.
Lonjakan kasus ISPA di Jawa Timur pada 2026 menjadi pengingat bahwa perlindungan kesehatan anak membutuhkan peran aktif keluarga. Dengan menjaga kebersihan, mengurangi paparan polusi, memenuhi kebutuhan gizi, melengkapi imunisasi, dan mengenali tanda bahaya, orang tua dapat membantu menjaga pernapasan si kecil tetap sehat.
Sumber rujukan;
1. ANTARA Jawa Timur — Dinkes Jatim Catat Peningkatan Kasus ISPA, 27 September 2026.
2. detikJatim — Kasus ISPA di Jatim Melonjak Tajam Dibanding Tahun 2025, 7 Oktober 2026.
3. Kementerian Kesehatan RI — Mengenali Gejala ISPA dan Tindakan yang Perlu Dilakukan.
4. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kemenkes RI — Jangan Anggap Sepele, Kenali Gejala dan Cara Mencegah ISPA.
5. Kementerian Kesehatan RI — Bayi dan Balita.
6. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur — Statistik Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2025.











