Ada yang disebut ISPA, ada selesma atau common cold, dan ada pula influenza. Ketiganya saling berkaitan, tetapi bukan berarti memiliki arti yang sama.

Memahami perbedaannya penting agar seseorang tidak terburu-buru menyimpulkan penyakit hanya berdasarkan gejala. Terlebih, beberapa infeksi saluran pernapasan dapat memberikan keluhan yang hampir serupa.
Apa Itu ISPA?

ISPA adalah singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. Istilah ini tidak menunjuk pada satu virus atau satu penyakit tertentu. ISPA merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan infeksi akut yang menyerang bagian saluran pernapasan, mulai dari hidung, sinus, tenggorokan, hingga saluran pernapasan bagian bawah dan paru-paru.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa ISPA dapat disebabkan oleh berbagai agen infeksi, antara lain virus, bakteri, maupun penyebab lainnya. Artinya, ketika seseorang didiagnosis mengalami ISPA, diagnosis tersebut belum otomatis menunjukkan virus apa yang menjadi penyebabnya.

Keluhan yang muncul dapat berupa batuk, pilek atau hidung tersumbat, sakit tenggorokan, demam, hingga kesulitan bernapas pada kondisi yang lebih berat.
Karena cakupannya luas, influenza dapat menjadi salah satu penyebab infeksi saluran pernapasan akut. Namun, ISPA tidak sama dengan influenza.
Dengan kata lain, tidak semua orang yang mengalami ISPA berarti terkena virus influenza.

Lalu, Apa Itu Influenza?
Influenza adalah penyakit infeksi saluran pernapasan yang secara khusus disebabkan oleh virus influenza.
Kementerian Kesehatan menyebut influenza musiman di Indonesia umumnya disebabkan oleh virus influenza tipe A dan B. Virus ini dapat menyebar melalui partikel pernapasan yang keluar ketika seseorang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara.
WHO menjelaskan bahwa influenza dapat menyerang siapa saja. Gejalanya sering muncul secara relatif mendadak berupa demam, batuk, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, sakit tenggorokan, pilek, serta rasa lemas yang cukup berat.
Sebagian besar penderita influenza dapat pulih dalam waktu sekitar satu minggu tanpa membutuhkan perawatan khusus. Namun, influenza dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih berat pada kelompok tertentu.
Karena itu, influenza tidak selalu tepat jika dianggap sekadar batuk dan pilek biasa.
Apakah Flu Biasa Sama dengan Influenza?
Dalam percakapan sehari-hari, masyarakat sering menggunakan kata flu untuk hampir semua kondisi batuk dan pilek.
Dalam istilah kesehatan, perlu dibedakan antara influenza dan selesma atau common cold. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa influenza cenderung muncul lebih mendadak. Demam, nyeri badan, sakit kepala, dan rasa lemas biasanya lebih menonjol.
Sementara selesma umumnya memiliki gejala yang lebih ringan dan muncul secara bertahap. Keluhan seperti bersin, hidung tersumbat, dan pilek biasanya lebih dominan. Rhinovirus merupakan salah satu penyebab yang sering ditemukan pada selesma.
Namun, gejala saja tidak selalu cukup untuk memastikan penyebab penyakit. Batuk, demam, sakit tenggorokan, atau pilek dapat terjadi pada berbagai infeksi saluran pernapasan. WHO menyebut influenza bahkan sulit dibedakan secara klinis dari sejumlah penyakit virus pernapasan lainnya tanpa pemeriksaan laboratorium.
Apakah Semua Orang dengan Batuk dan Pilek Harus Tes Influenza?
Tidak.
Menurut Kementerian Kesehatan, tidak semua penderita batuk dan pilek membutuhkan pemeriksaan laboratorium untuk influenza.
Tes biasanya dilakukan berdasarkan pertimbangan tenaga medis, terutama pada pasien yang mengalami penyakit berat, memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi, membutuhkan perawatan di fasilitas kesehatan, atau diperlukan untuk kepentingan surveilans. Pemeriksaan dapat menggunakan RT-PCR maupun pemeriksaan lain sesuai pertimbangan medis dan ketersediaan layanan.
Karena itu, seseorang sebaiknya tidak menyimpulkan sendiri bahwa dirinya terkena Influenza A, Influenza B, atau subtipe tertentu hanya berdasarkan gejala.
Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Influenza Berat?
Pada banyak orang sehat, influenza dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, beberapa kelompok mempunyai risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.
WHO memasukkan anak kecil, orang lanjut usia, ibu hamil, tenaga kesehatan, serta orang dengan kondisi medis tertentu ke dalam kelompok yang memerlukan perhatian lebih.
Risiko komplikasi juga perlu diperhatikan pada orang dengan penyakit penyerta tertentu atau kondisi daya tahan tubuh yang lemah. Salah satu komplikasi yang dapat terjadi pada influenza adalah pneumonia.
Karena itu, kondisi kesehatan penderita secara keseluruhan perlu diperhatikan, bukan hanya seberapa berat batuk atau pileknya.
Kapan Harus Segera ke Fasilitas Kesehatan?
Batuk dan pilek ringan umumnya dapat dipantau di rumah. Namun, jangan mengabaikan tanda-tanda bahwa penyakit mulai menjadi berat.
Kementerian Kesehatan menyarankan penderita segera mencari pertolongan medis apabila mengalami demam tinggi yang tidak membaik lebih dari tiga hari, sesak atau napas cepat, nyeri dada, sangat lemas, kejang, sulit dibangunkan, kesulitan minum, tanda dehidrasi, atau kondisi yang sempat membaik kemudian kembali memburuk.
Pada anak, kesulitan bernapas juga perlu diperhatikan. Tarikan pada dinding dada, napas cepat, atau anak yang tampak sangat lemas membutuhkan penilaian tenaga kesehatan.
Orang dengan faktor risiko tinggi juga sebaiknya tidak menunggu hingga kondisi menjadi berat untuk mencari pertolongan.
Apa yang Bisa Dilakukan Jika Gejalanya Ringan?
Untuk influenza ringan, Kementerian Kesehatan menganjurkan istirahat cukup, memenuhi kebutuhan cairan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta memantau kondisi tubuh secara berkala.
Penggunaan obat sebaiknya disesuaikan dengan keluhan dan kondisi masing-masing pasien.
Yang juga penting, hindari menggunakan obat keras atau antibiotik secara sembarangan. Tidak semua infeksi saluran pernapasan disebabkan oleh bakteri, sementara influenza sendiri merupakan penyakit yang disebabkan virus.
Jika gejala berat, menetap, atau penderita mempunyai penyakit penyerta, pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan untuk menentukan pengobatan yang sesuai.
Bagaimana Mencegah Penularannya?
Infeksi saluran pernapasan dapat menyebar dengan mudah, terutama ketika banyak orang berada dalam jarak dekat.
Beberapa langkah sederhana dapat membantu menurunkan risiko penularan, antara lain rutin mencuci tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, menggunakan masker ketika sedang sakit atau berada pada situasi berisiko, serta mengurangi kontak dekat dengan orang lain ketika sedang mengalami gejala.
WHO juga menyebut vaksinasi influenza sebagai cara penting untuk mengurangi risiko influenza dan komplikasinya. Vaksin influenza diperbarui secara berkala karena virus influenza terus mengalami perubahan.
Vaksinasi menjadi semakin penting bagi kelompok yang berisiko tinggi mengalami penyakit berat.
Jadi, Apa Perbedaannya?
Cara paling sederhana memahaminya adalah dengan melihat cakupannya.
ISPA merupakan istilah luas untuk infeksi akut pada saluran pernapasan. Influenza merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pernapasan yang disebabkan secara khusus oleh virus influenza. Sedangkan selesma merupakan infeksi saluran pernapasan yang biasanya lebih ringan dan dapat disebabkan oleh virus lain, seperti rhinovirus.
Karena gejalanya dapat saling menyerupai, batuk, pilek, atau demam saja tidak selalu cukup untuk memastikan penyebab penyakit.
Karena itu, masyarakat tidak perlu panik setiap kali mengalami batuk atau pilek. Namun, penyakit saluran pernapasan juga tidak sebaiknya dianggap sepele—terutama ketika muncul sesak napas, demam berkepanjangan, nyeri dada, penurunan kondisi tubuh, atau tanda bahaya lainnya.
Memahami perbedaan antara ISPA, selesma, dan influenza membantu kita mengambil keputusan yang lebih tepat: kapan cukup beristirahat dan memantau kondisi di rumah, serta kapan harus segera mendapatkan pertolongan tenaga kesehatan.
Referensi
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. FAQ Influenza: Informasi, Penanganan, dan Pencegahan. Dipublikasikan 2 Oktober 2026. Rujukan mengenai perkembangan influenza di Indonesia, gejala, pemeriksaan laboratorium, tanda bahaya, penanganan, dan pencegahan.
- Direktorat Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas, Kementerian Kesehatan RI. Mengenali Gejala ISPA dan Tindakan yang Perlu Dilakukan. 22 September 2023. Rujukan mengenai pengertian ISPA, penyebab, gejala, serta langkah pencegahan.
- World Health Organization (WHO). Influenza (Seasonal). Diperbarui 28 Februari 2025. Rujukan mengenai penyebab influenza, gejala, diagnosis, kelompok berisiko, pengobatan, dan vaksinasi.
- World Health Organization Indonesia. Bagaimana Cara Terhindar dari Flu? 4 Maret 2026. Rujukan mengenai influenza musiman, penularan, kelompok berisiko, serta langkah pencegahan.











