Pada 15 Agustus 2026, gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur dengan episenter di perairan 30 kilometer arah Timur Laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. Getaran kuat dirasakan hingga ke Labuan Bajo dan sepanjang daratan Flores, menimbulkan kepanikan, kerusakan infrastruktur, dan memaksa ribuan warga mengungsi.

Di tengah situasi darurat tersebut, Palang Merah Indonesia segera hadir sebagai organisasi kemanusiaan yang bergerak paling awal. Mandat PMI dalam penanggulangan bencana membuat seluruh jaringan, mulai dari PMI Pusat hingga PMI Kabupaten/Kota, langsung diaktifkan untuk merespons kebutuhan masyarakat terdampak.

Gerak cepat PMI dimulai dari kesiapsiagaan di lapangan. Korps Sukarelawan PMI Kabupaten Manggarai Barat langsung mendirikan posko pelayanan dan tenda darurat di halaman RSUD Komodo pada hari yang sama. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan korban dan memberikan rasa aman bagi pasien maupun warga yang khawatir masuk ke gedung rumah sakit.

Di saat bersamaan, PMI NTB juga memobilisasi 300 paket bantuan dan mengirimkan relawan untuk asesmen, evakuasi, serta pertolongan pertama. Fokus utama saat itu adalah memastikan masyarakat memiliki tempat berteduh yang aman melalui pendirian tenda-tenda darurat.

Untuk memenuhi kebutuhan dasar dalam jumlah besar, PMI mengerahkan jalur distribusi darat dan laut. Melalui Pelabuhan Tanjung Priok, PMI memberangkatkan 33.947 item bantuan logistik menggunakan jalur laut menuju Labuan Bajo. Isinya mencakup 10.000 sarung, 1.000 selimut, pakaian, hygiene kit, dignity kit, baby kit, tenda, toilet portabel, matras, terpal, hingga perlengkapan ibadah seperti Al Quran dan Juz Amma.

Dilansir dari pmijaktim.or.id, Ketua Umum PMI Jusuf Kalla menegaskan bahwa kecepatan dan ketepatan distribusi sangat penting dalam kondisi bencana, dan bantuan akan disalurkan secara bertahap menuju wilayah terdampak dan didistribusikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Dukungan logistik juga datang dari berbagai pengurus daerah. Salah satunya PMI Regional Gresik yang mengirimkan helm, terpal, jerigen, kelambu, dan tenda secara bertahap pada 19 dan 24 Agustus 2026 untuk mendukung operasional Tim Dukungan Bencana di Labuan Bajo.

PMI Gresik juga memberangkatkan bantuan makanan, air bersih, dan perlengkapan kesehatan pada 25 Agustus 2026. Kolaborasi lintas sektor turut menguatkan respons. PMI bersama Danone Indonesia menyalurkan donasi tunai 1 miliar rupiah, 53 ribu botol air minum, dan produk nutrisi yang distribusinya dimulai sejak 22 Agustus 2026 melalui jalur darat ke Manggarai dan jalur laut dengan Kapal Kemanusiaan.

Aspek kesehatan menjadi prioritas utama pascagempa. PMI mengerahkan tim medis dari Jakarta, Bogor, Surabaya, Sorong, dan Makassar dengan total sekitar 40 orang, dan akan ada tambahan 50 orang yang bergantian setiap dua minggu.

Hingga 20 Agustus 2026, PMI telah melayani ratusan warga, mendirikan puluhan tenda, serta menyalurkan 60.000 liter air bersih di wilayah Flores. Pemenuhan air bersih juga diperkuat dengan pengiriman mobil tangki air dari Makassar. Semua ini dilakukan untuk mencegah penyakit dan memastikan warga di pengungsian tetap mendapatkan layanan dasar.

Selain bantuan fisik, PMI juga memastikan penyaluran donasi masyarakat dikelola dengan akuntabel. Ketua umum PMI mengajak publik menyalurkan bantuan melalui PMI agar dapat disalurkan sebagaimana mestinya kepada warga NTT. Pada 22 Agustus 2026, PMI kembali mentransfer dana 2 miliar rupiah untuk ketiga kalinya sebagai bagian dari upaya penanganan.

Penanganan gempa 2026 ini juga menunjukkan pergeseran pendekatan PMI di NTT. Sebelum bencana, PMI NTT bersama PMI Kabupaten Belu telah membentuk Kelompok Kerja Aksi Merespons Peringatan Dini di Desa Bauho dan Desa Sadi.

Program yang didukung Australian Red Cross dan DFAT ini bertujuan mengubah paradigma dari evakuasi menjadi preventif, dengan sistem yang inklusif menjangkau kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, lansia, dan ibu hamil.