Kebakaran Hutan dan Lahan atau Karhutla, merupakan bencana tahunan yang kerap melanda wilayah Kalimantan. Dampaknya tidak hanya merusak ekosistem dan keanekaragaman hayati, tetapi juga menimbulkan krisis kesehatan, gangguan ekonomi, dan kemunduran pendidikan bagi masyarakat.

Di tengah kompleksitas permasalahan tersebut, kehadiran Palang Merah Indonesia atau PMI menjadi sangat krusial. Sebagai organisasi kemanusiaan, PMI memiliki mandat dan kapasitas untuk hadir di garis depan penanggulangan Karhutla dengan semangat kemanusiaan sebagai prinsip utamanya.
Sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dalam penanggulangan bencana, PMI tidak menunggu bencana terjadi baru bergerak. Jauh sebelum musim kemarau tiba, Semua PMI Provinsi Kalimantan telah membangun sistem kesiapsiagaan melalui pembentukan Satuan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat atau SIBAT di desa-desa rawan.

Para relawan dibekali pelatihan pemadaman awal, pertolongan pertama, dan edukasi pencegahan sehingga ketika titik api mulai muncul, PMI dapat berperan sebagai benteng pertama yang merespons dengan cepat.
Kesiapan ini kemudian berlanjut pada saat bencana benar-benar terjadi. Bersinergi dengan BPBD, TNI, Polri, dan masyarakat, tim PMI yang tergabung dalam KSR dan TSR diterjunkan ke lokasi membawa peralatan pendukung untuk membantu pemadaman.

Di saat yang sama, PMI juga memfokuskan diri pada evakuasi warga, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil dari wilayah yang terdampak asap pekat. Kecepatan dan ketepatan tindakan ini sangat menentukan dalam upaya penyelamatan jiwa manusia.
Setelah fase darurat, tantangan berikutnya adalah menangani dampak yang ditimbulkan. Asap Karhutla mengandung partikel berbahaya yang memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA. PMI mencari solusi alternatif dengan mendirikan posko kesehatan dan pos pelayanan di titik-titik pengungsian serta permukiman terdampak.
Dilansir dari alinea62.com, Ketua PMI Kota Tarakan Hamed Amren mengungkapkan bahwa upaya menghadapi bahaya dari asap karhutla yang banyak mengandung polusi, diantisipasi melalui layanan ruang oksigen bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan. Ditambah dengan tempat tidur yang dilengkapi oleh dua unit konsentrator oksigen dan sejumlah peralatan pendukung

Tim medis dan relawan juga memberikan pemeriksaan kesehatan gratis, membagikan masker, vitamin, dan obat-obatan, serta melakukan penyuluhan tentang cara melindungi diri dari polusi udara agar masyarakat memiliki pengetahuan untuk menjaga kesehatan keluarga.
Tidak berhenti di situ, PMI juga memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar warga yang terpaksa meninggalkan rumah. Distribusi air bersih, makanan siap saji, dan kebutuhan pokok lainnya dilakukan secara berkelanjutan.
Lebih dari sekadar bantuan fisik, PMI hadir memberikan dukungan psikososial. Relawan mendengarkan, menenangkan, dan mendampingi masyarakat, terutama anak-anak, agar tidak mengalami trauma berkepanjangan akibat bencana. Pendekatan kemanusiaan inilah yang menjadi pembeda utama PMI.
PMI menyadari bahwa pemadaman dan pemulihan saja tidak akan menyelesaikan masalah Karhutla jika tidak dibarengi dengan pencegahan. Oleh karena itu fungsi PMI diarahkan pula pada edukasi jangka panjang. Melalui program di sekolah, kampus, dan komunitas, PMI mengkampanyekan bahaya membuka lahan dengan cara membakar.












