Rasa haus setelah beraktivitas atau buang air kecil beberapa kali sehari merupakan hal yang wajar. Namun, ketika kedua kondisi tersebut terjadi lebih sering dari biasanya, terutama disertai kelelahan dan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan diabetes melitus.

Diabetes bukan sekadar persoalan kadar gula darah. Penyakit kronis ini juga berkaitan dengan kualitas hidup, produktivitas, kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan akses terhadap pelayanan kesehatan. Karena itu, deteksi dini dan pemerataan pengobatan menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang sehat dan sejahtera.
Mengapa Sering Haus Bisa Menjadi Tanda Diabetes?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), rasa haus berlebihan dan meningkatnya frekuensi buang air kecil merupakan gejala umum diabetes. Kondisi ini terjadi ketika kadar glukosa dalam darah meningkat sehingga ginjal membuang lebih banyak glukosa melalui urine. Proses tersebut dapat meningkatkan kehilangan cairan dan memicu rasa haus.
Gejala lain yang perlu diperhatikan meliputi mudah lelah, penglihatan kabur, dan penurunan berat badan tanpa disengaja. Pada diabetes tipe 2, gejala terkadang berkembang perlahan sehingga seseorang tidak menyadari bahwa dirinya memerlukan pemeriksaan.

Meski demikian, sering haus dan buang air kecil tidak selalu berarti diabetes. Kondisi tersebut juga dapat disebabkan oleh faktor lain. Oleh karena itu, pemeriksaan kadar gula darah oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Deteksi Dini dan Akses Pengobatan Masih Menjadi Tantangan Dunia
WHO memperkirakan sekitar 830 juta orang di dunia hidup dengan diabetes pada 2022. Dalam pembaruan informasi untuk Hari Diabetes Sedunia 2026, WHO juga menyebutkan bahwa lebih dari 40 persen orang yang hidup dengan diabetes belum mengetahui diagnosisnya.

Fakta tersebut menunjukkan pentingnya edukasi kesehatan dan pemeriksaan sejak dini. Diabetes yang tidak terdeteksi atau tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, gangguan ginjal, kerusakan saraf, dan gangguan penglihatan.
Penanganan diabetes juga tidak boleh berhenti pada diagnosis. Masyarakat membutuhkan akses berkelanjutan terhadap obat-obatan, pemeriksaan rutin, edukasi pola makan, dan pendampingan tenaga kesehatan. Pelayanan yang terjangkau membantu mencegah komplikasi sekaligus mengurangi beban ekonomi keluarga.
Memperkuat Pemeriksaan dan Pendampingan Pasien di Indonesia
Di Indonesia, upaya menemukan kasus diabetes lebih awal diperkuat melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa hingga 5 Juli 2026, sebanyak 59,6 juta masyarakat telah mengikuti pemeriksaan melalui program tersebut.
Sejak 2026, CKG juga mulai memasuki tahap penanganan atau pengobatan bagi peserta yang terdiagnosis penyakit kronis, terutama hipertensi dan diabetes melitus. Langkah ini penting agar pemeriksaan tidak berhenti pada penemuan masalah kesehatan, tetapi dilanjutkan dengan pelayanan yang sesuai kebutuhan pasien.
Puskesmas memiliki peran penting dalam pemeriksaan kadar gula darah, edukasi kesehatan, pemantauan pengobatan, dan rujukan. Masyarakat yang mengalami gejala mencurigakan sebaiknya tidak menunda pemeriksaan hingga keluhan semakin berat.
Jawa Timur dan Perluasan Layanan hingga Masyarakat Rentan
Di Jawa Timur, pemerataan pelayanan kesehatan perlu memperhatikan masyarakat di wilayah perkotaan, perdesaan, dan kepulauan. Jarak menuju fasilitas kesehatan, biaya transportasi, keterbatasan informasi, serta kesulitan memenuhi kebutuhan pangan bergizi dapat menjadi hambatan bagi keluarga berpenghasilan rendah.
Publikasi Statistik Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2025 yang dirilis BPS pada 30 April 2026 menyediakan indikator mengenai fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, jaminan kesehatan, dan kondisi kesehatan masyarakat. Informasi tersebut dapat menjadi dasar perencanaan pelayanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan penduduk di setiap wilayah.
Upaya yang perlu diperkuat meliputi pemeriksaan gula darah yang mudah dijangkau, edukasi pencegahan diabetes, ketersediaan obat, serta pendampingan pasien dari keluarga kurang mampu. Pelayanan kesehatan bergerak dan kegiatan posyandu juga dapat membantu memperluas jangkauan edukasi kesehatan di masyarakat.
Mencegah Komplikasi, Mewujudkan Masyarakat Sejahtera
Pencegahan diabetes tipe 2 dapat dilakukan melalui pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, tidur yang cukup, dan pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan. Namun, perubahan perilaku harus didukung lingkungan yang memungkinkan masyarakat memperoleh pangan bergizi, ruang aktivitas fisik yang aman, dan pelayanan kesehatan yang terjangkau.
Sering haus dan kerap buang air kecil memang dapat menjadi tanda diabetes, tetapi diagnosis hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan medis. Jika gejala muncul berulang, segeralah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Apabila disertai muntah, nyeri perut, napas cepat atau dalam, maupun penurunan kesadaran, segera cari pertolongan medis darurat.
Pada akhirnya, pemberantasan kemiskinan dan peningkatan kesehatan saling berkaitan. Masyarakat yang memperoleh deteksi dini, pengobatan berkelanjutan, dan perlindungan pembiayaan kesehatan memiliki kesempatan lebih baik untuk mempertahankan produktivitas dan kualitas hidup. Kesehatan yang layak bukan hak kelompok tertentu, melainkan kebutuhan mendasar bagi seluruh masyarakat.
Daftar Pustaka;
1. World Health Organization. (2026). World Diabetes Day 2026: Early Action on Diabetes. WHO.
2. World Health Organization. (2024). Diabetes. WHO.
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 16 Juli). CKG Ungkap Masalah Kesehatan di Setiap Kelompok Usia. Kemenkes RI.
4. Nur, A., Tarmizi, S. N., & Harbuwono, D. (2026). Early insights from Indonesia’s large-scale health screening programme. Nature Health, 1, 371–372.
5. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur. (2026). Statistik Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2025. BPS Provinsi Jawa Timur.











