Penyakit Tidak Menular (PTM) masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, dan stroke dapat berkembang tanpa gejala yang jelas. Karena itu, peningkatan skrining atau pemeriksaan kesehatan sejak dini menjadi langkah penting untuk menemukan faktor risiko sebelum berkembang menjadi komplikasi serius.

Di Jawa Timur, penguatan skrining PTM pada 2026 semakin penting seiring perluasan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Upaya ini diharapkan mendorong masyarakat lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya, bukan hanya ketika tubuh mulai menunjukkan keluhan.

CKG Perluas Akses Deteksi Dini

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat sebanyak 73,8 juta penduduk Indonesia telah mengikuti CKG hingga 31 Juli 2026. Program ini mencakup pemeriksaan tekanan darah, indeks massa tubuh, gula darah, serta faktor risiko kesehatan lainnya. Capaian tersebut melampaui jumlah peserta sepanjang 2025 yang mencapai sekitar 70 juta orang.

Pemerintah juga menekankan bahwa skrining harus diikuti edukasi, pengobatan, pemantauan, dan rujukan sesuai kebutuhan peserta. Dengan demikian, pemeriksaan kesehatan tidak berhenti pada penemuan masalah, tetapi berlanjut menjadi tindakan nyata untuk menjaga kesehatan masyarakat.

Fakta Skrining PTM di Jawa Timur

Materi evaluasi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur berdasarkan data Aplikasi Sehat IndonesiaKu (ASIK) per 6 Juli 2026 menunjukkan sejumlah temuan penting dari pelaksanaan skrining. Dislipidemia atau gangguan kadar lemak darah ditemukan pada 121.121 dari 205.108 orang yang diperiksa, setara 59,05%. Prediabetes ditemukan pada 331.477 dari 810.489 orang yang diperiksa, atau 40,9%.

Selain itu, kurang aktivitas fisik tercatat pada 3.015.563 peserta dari 5.847.869 orang yang diperiksa, atau 51,57%. Temuan tersebut memperlihatkan pentingnya memperkuat pencegahan melalui pemeriksaan berkala, pola makan seimbang, dan aktivitas fisik yang cukup.

Angka tersebut merupakan hasil pemeriksaan pada kelompok peserta yang menjalani skrining, bukan gambaran prevalensi seluruh penduduk Jawa Timur. Namun, data itu dapat menjadi dasar untuk memperkuat intervensi kesehatan sesuai kebutuhan masyarakat.

Mengapa Skrining Tidak Boleh Diabaikan?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), PTM menyebabkan sedikitnya 43 juta kematian secara global pada 2021. Penyakit kardiovaskular menjadi penyumbang terbesar, disusul kanker, penyakit pernapasan kronis, dan diabetes. WHO menekankan bahwa deteksi dini, skrining, pengobatan, serta pengendalian faktor risiko merupakan bagian penting dari penanganan PTM.

Sementara itu, kajian dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia pada 2026 mengenai skrining lansia di Kabupaten Gresik menyoroti pentingnya identifikasi faktor risiko sejak dini agar intervensi dapat dilakukan lebih cepat. Kajian literatur tentang program pengendalian PTM di Jawa Timur juga menemukan tantangan berupa keterbatasan sumber daya kesehatan dan partisipasi masyarakat.

Kolaborasi untuk Masyarakat Lebih Sehat

Puskesmas, posyandu, kader kesehatan, pemerintah desa, dan keluarga perlu bekerja sama memperluas jangkauan skrining. Masyarakat juga perlu memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia, termasuk ketika merasa sehat, sebab sejumlah faktor risiko PTM tidak selalu menimbulkan keluhan.

Hasil pemeriksaan harus ditindaklanjuti melalui konseling, perubahan perilaku, pengobatan, atau rujukan sesuai penilaian tenaga kesehatan. Edukasi tentang berhenti merokok, konsumsi makanan bergizi, aktivitas fisik, dan pemeriksaan berkala juga perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Peningkatan skrining PTM pada 2026 bukan sekadar mengejar angka pemeriksaan, melainkan membangun budaya hidup sehat. Dengan deteksi dini dan tindak lanjut yang tepat, Jawa Timur memiliki peluang lebih besar untuk menekan risiko komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Daftar Pustaka;

1. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. (2026). Materi Evaluasi CKG Provinsi Jawa Timur : Capaian Januari–Juni 2026. Data ASIK per 6 Juli 2026.

2. Djuari, L., Humaidy, R. F., Meidyana, S., Yulianti, N., & Luthfiyah, A. (2026). Deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular pada lansia : Analisis data SKILAS Kabupaten Gresik 2025. Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, 21(2), 7–11.

3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Kemenkes Perkuat Tindak Lanjut Cek Kesehatan Gratis Usai Tembus 73,8 Juta. Direktorat Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas.

4. Pandie, J. I., & Handayani, D. (2024). A literature review: Pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular di Provinsi Jawa Timur. Jenggala : Jurnal Riset Pengembangan dan Pelayanan Kesehatan, 2(2), 8–13.

5. World Health Organization. (2025). Noncommunicable Diseases. WHO Fact Sheet.