Asap tipis beraroma rempah wangi membubung dari semangkuk Kaldu Kokot yang gurih kental dengan sumsum sapi yang meleleh lembut. Di sudut pasar, jemari lincah penjual meracik Rujak Corek dengan bumbu petis pekat khas Madura yang legit dan pedas menggigit.

Menggeser langkah ke kawasan pesisir Ambunten, terdengar gemeretak gurih Pentol Ghape' yang dipipihkan di atas panggangan, menyebarkan aroma khas kenyalnya adonan tapioka yang berpadu sempurna dengan siraman sambal encer pedas-membakar dari cabai rawit dan bumbu rahasia.
Tak kalah anggun, di area kota warisan Keraton, tersaji Kue Mentho, kudapan raja-raja tempo dulu berbentuk bungkusan daun pisang yang menyimpan adonan tepung terigulembut bercampur gurihnya santan kental dan Isian daging ayam berempah. Semua itu bersanding dengan semangkuk Soto Sabrang atau Soto Babat Sumenep berkuah kuah bening gurih berbumbu rempah halus, disajikan bersama singkong rebus yang empuk sebagai pengganti nasi.

Menjelajahi Sumenep adalah petualangan rasa yang tiada tanding. Seni kuliner adalah magnet utama yang mengikat kenangan para wisatawan pada tanah Keraton ini. Namun, di era wisata medis dan kebugaran modern, kelezatan rasa tidak lagi cukup berjalan sendirian.
Mari Kita Bayangkan Sebuah Cerita di Balik Meja Makan

Seorang wisatawan bersama keluarga kecilnya baru saja kembali dari pelesir seharian di kepulauan. Dengan perut lapar, mereka singgah di sebuah warung kuliner pesisir untuk menikmati hidangan laut segar. Makan malam terasa sempurna, tawa meriah membungkus suasana. Namun, memasuki tengah malam di kamar hotel, musibah kecil itu datang. Wisatawan tersebut mendadak terserang nyeri perut hebat, mual, dan diare akut (traveler’s diarrhea).
Penyebabnya mungkin sepele: air yang digunakan untuk mencuci piring berasal dari penampungan yang kurang higienis, atau es batu yang diolah dari air mentah, atau bahan laut yang disimpan tanpa suhu dingin yang memadai.
Keesokan harinya, jadwal liburan ke Gili Iyang batal total. Wisatawan tersebut menghabiskan sisa harinya di atas tempat tidur dengan lemas. Cerita ini tidak berhenti di kamar hotel; dalam hitungan jam, kekecewaan itu tertuang dalam bentuk ulasan di media sosial. Satu kasus keracunan makanan sederhana mampu memadamkan pesona kulinari suatu daerah dan meruntuhkan reputasi pariwisata yang dibangun bertahun-tahun.

Di sinilah Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan sistem keamanan pangan (food safety) hadir: bukan untuk merusak otentisitas resep tradisional, melainkan untuk melindungi setiap suapan yang dinikmati para tamu.
Merajut Keamanan Pangan dari Dapur hingga Meja Saji
Mewujudkan ekosistem kuliner wisata yang aman, higienis, dan sehat di Sumenep membutuhkan pendekatan yang menyatu dengan aktivitas harian para pedagang lokal dan UMKM;
1. Edukasi dan Sertifikasi yang Merangkul (SLHS) Sertifikasi tidak boleh menjadi momok birokrasi yang menakutkan bagi pedagang kaki lima atau pemilik warung lokal. Dinas Kesehatan bersama Puskesmas setempat hadir membawa pelatihan praktis yang mudah diterapkan. Para pedagang diajak memahami pentingnya memisahkan talenan bahan mentah dan matang, menjaga kebersihan area memasak, serta mengelola sampah dapur. Ketika UMKM kuliner memegang Sertifikat Laik Higiene Sanitasi, daya saing dan kelas warung mereka terangkat secara terhormat di mata wisatawan.
2. Pengawasan air bersih dan kesegaran seafood kuliner pesisir Sumenep sangat bergantung pada hasil laut. Pengawasan berkala terhadap ketersediaan air bersih untuk pencucian alat makan serta rantai dingin (cold chain) penyimpanan bahan ikan dan kerang adalah kunci utama. Menutup celah kontaminasi bakteri pada sajian hidangan laut memastikan kelezatan rempah Madura tetap bersanding dengan kesegaran yang menyehatkan.
3. Penanda visual "Sentra Kuliner Aman & Higienis" wisatawan kerap ragu saat ingin mencoba kuliner lokal di tempat baru. Pemberian stiker atau label visual sertifikasi laik sehat yang bersih dan estetis di setiap kedai yang terverifikasi akan memberikan kepastian (peace of mind). Saat melihat penanda tersebut, wisatawan dapat memesan makanan dengan tenang tanpa rasa cemas.
Puskesmas dan Pedagang, Sinergi Tanpa Jarum Suntik
Puskesmas di kawasan destinasi wisata unggulan seperti Kalianget, Saronggi, Batang-Batang, Dungkek, Ambunten, Dasuk hingga wilayah kepulauan memegang peran sebagai mitra pembina. Hubungan ini tidak dirancang bersifat menghukum (punitive), melainkan kolaboratif.
Pendampingan penataan dapur penyajian yang sederhana namun memenuhi standar sanitasi, pelatihan hygiene singkat, serta pengambilan sampel makanan secara acak (sanitary sampling) dilakukan dengan semangat kekeluargaan. Ketika pedagang merasakan sendiri bahwa warung yang bersih dan tersertifikasi mendatangkan lebih banyak pembeli dan meningkatkan omset, kesadaran menjaga higiene akan tumbuh menjadi budaya baru yang membanggakan.
Rasa yang Otentik, Jiwa yang Tenang
Menjamin keamanan pangan kuliner bukanlah soal mengubah cita rasa resep leluhur yang sudah melegenda. Justru sebaliknya, sertifikasi laik sehat adalah bukti penghormatan tertinggi kepada warisan kuliner Madura bahwa resep bernilai tinggi ini diolah dengan standar kebersihan terbaik.
Dengan memperluas jangkauan sertifikasi laik sehat di seluruh sentra wisata, Sumenep makin mengukuhkan dirinya sebagai destinasi health tourism yang paripurna. Alamnya memanjakan mata, budayanya menentramkan jiwa, dan kulinernya tidak hanya lezat di lidah, tetapi juga aman dan menyehatkan bagi tubuh.
Daftar Pustaka;
1. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2020). Pedoman cara pengolahan pangan yang baik (CPPB) untuk industri rumah tangga (IRT). BPOM RI.
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1096/MENKES/PER/VI/2011 tentang higiene sanitasi jasaboga. Kementerian Kesehatan RI.
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2021 tentang standar kegiatan usaha dan produk pada penyelenggaraan perizinan berusaha berbasis risiko sektor kesehatan. Kementerian Kesehatan RI.
4. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. (2021). Panduan pelaksanaan kebersihan, kesehatan, kelestarian, dan keselamatan lingkungan (CHSE) untuk destinasi pariwisata dan kuliner. Kemenparekraf RI.












