Panjangnya tak sampai satu sentimeter, tubuhnya belang hitam-putih, dan ia gemar menggigit pada pagi atau sore hari. Aedes aegypti nyaris tak terdengar saat mendarat di kulit. Tapi dari gigitan sekecil itu, virus dengue bisa menyeret seseorang ke ruang gawat darurat.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kasus dengue yang dilaporkan melonjak dari sekitar 500 ribu pada 2000 menjadi lebih dari 5 juta pada 2019. Hampir separuh penduduk dunia hidup di wilayah berisiko. Indonesia, negeri tropis dengan hujan yang datang tak kenal jadwal, termasuk yang paling rentan.
Berkembang Biak di Dalam Rumah
Berbeda dengan anggapan umum, nyamuk ini tak betah di got yang kotor. Ia memilih air bersih yang tergenang: bak mandi, tampungan dispenser, vas bunga, ember, hingga ban bekas di pojok halaman. Telurnya tahan kering berbulan-bulan, lalu menetas begitu terendam air. Karena itu, rumah yang tampak bersih pun bisa menjadi sarang jentik.

Itulah alasan pemerintah menggaungkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) lewat 3M Plus. Kementerian Kesehatan menekankan bahwa pengendalian vektor di lingkungan adalah kunci utama, sebab belum ada obat spesifik untuk dengue.
3 M dan Plusnya
Menguras bak mandi, penampungan air, dan tempat minum hewan peliharaan seminggu sekali. Gosok dindingnya, karena telur menempel di sana.

Menutup rapat semua wadah air agar nyamuk tak bisa bertelur.
Mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang bisa menampung air: kaleng, botol plastik, ban, tempurung kelapa.
Sedangkan Plus adalah ikhtiar tambahan. Taburkan larvasida pada wadah yang sulit dikuras, pelihara ikan pemakan jentik, pasang kasa pada ventilasi, pakai kelambu atau losion antinyamuk, dan hindari menggantung pakaian di dalam kamar. Kemenkes juga mendorong Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik, yakni satu anggota keluarga ditugasi memeriksa jentik secara rutin.

Inovasi teknologi ikut membantu. Uji coba di Yogyakarta menunjukkan nyamuk ber-Wolbachia menurunkan kasus dengue bergejala sekitar 77 persen dan rawat inap sekitar 86 persen. Namun para peneliti menegaskan teknologi ini pelengkap, bukan pengganti kebersihan lingkungan.
Waspadai Hari Ketiga hingga Ketujuh
Gejala awal mirip flu: demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri di belakang mata, dan pegal. Bahayanya sering muncul justru ketika demam mulai turun, sekitar hari ketiga sampai ketujuh. Segera ke fasilitas kesehatan bila muncul nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan gusi atau mimisan, tubuh lemas, atau tangan-kaki dingin. Pasien dianjurkan banyak minum dan memakai parasetamol untuk menurunkan demam. Hindari aspirin dan ibuprofen karena meningkatkan risiko perdarahan.
Mulai dari Rumah Sendiri
Pada akhirnya, perang ini dimenangkan bukan oleh fogging semata, melainkan oleh kebiasaan kecil yang konsisten. Sepuluh menit seminggu untuk menguras dan menutup bisa menyelamatkan satu keluarga dari rawat inap berhari-hari.
Referensi
- World Health Organization. Dengue and Severe Dengue (Fact Sheet). who.int/news-room/fact-sheets/detail/dengue-and-severe-dengue
- Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI; 2017.
- Utarini A, et al. Efficacy of Wolbachia-Infected Mosquito Deployments for the Control of Dengue. N Engl J Med. 2021;384:2177–2186.
- Kementerian Kesehatan RI. Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik dan materi PSN 3M Plus,p2pm.kemkes.go.id











