Hari Statistik Nasional diperingati setiap 26 September, merujuk pada UU No.7 Tahun 1960 tentang Statistik. Bagi kebanyakan orang, statistik adalah angka-angka dingin di tabel BPS.

Namun, bagi Palang Merah Indonesia (PMI), statistik adalah detak jantung kemanusiaan. Tanpa statistik yang akurat, PMI tidak tahu kemana harus mengirim darah, tenda, dan relawan.

Bencana Indonesia Butuh Statistik Presisi

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia adalah negara dengan 17.001 pulau dan 281 juta penduduk pada 2024. BNPB mencatat frekuensi bencana naik dari 1.945 kejadian pada 2015 menjadi 3.475 kejadian pada 2024, atau naik 78%.

PMI merespons lebih dari 1.200 kejadian bencana per tahun. BNPB melaporkan bahwa 2.919 kejadian bencana terjadi hingga November 2025, didominasi 98,97% bencana hidrometeorologi.

Berdasarkan kompilasi data BNPB per 7 September 2026, tercatat 1.730 kejadian bencana di Indonesia yang tersebar di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota dengan kategori kerawanan sedang hingga tinggi.

Bencana masih didominasi hidrometeorologi dengan rincian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 627 kejadian, banjir 543 kejadian, cuaca ekstrem 324 kejadian, tanah longsor 105 kejadian, kekeringan 101 kejadian, dan gelombang pasang abrasi 14 kejadian. Sementara bencana geologi hanya 16 kejadian, terdiri dari 13 gempa bumi dan 3 erupsi gunung api.

Tanpa statistik kependudukan dan kebencanaan yang akurat, distribusi bantuan akan salah sasaran. Misalnya, data BPS tentang kepadatan penduduk di bantaran sungai Ciliwung digunakan PMI DKI untuk membuat peta risiko banjir berbasis kelurahan, sehingga perahu karet ditempatkan bukan di gudang pusat, tapi di titik rawan.

Krisis Stok Darah adalah Krisis Data

Indonesia butuh 5,1 juta kantong darah per tahun (standar WHO 2% dari populasi). Realisasi nasional baru sekitar 4,2 juta kantong, defisit 18%. Stok darah bersifat fluktuatif karena 60% donor adalah donor pengganti keluarga, bukan donor sukarela rutin.

Di sinilah statistik menjadi kunci. PMI melalui Sistem Informasi Donor Darah (SIDD) mencatat :

- Golongan darah O adalah 38% dari populasi Indonesia, paling banyak dibutuhkan saat bencana.

- Rhesus negatif hanya 1% di Indonesia, sehingga butuh pendataan nasional khusus.

- Hari Statistik Nasional mengingatkan bahwa data golongan darah pelajar belum terintegrasi dengan data Dapodik Kemendikbud. Jika data 50 juta pelajar terpetakan golongan darahnya, PMI bisa memprediksi stok darah 5 tahun ke depan dan mengurangi defisit.

Pada pandemi COVID-19, PMI mencatat penurunan donor 30% pada 2020-2021 karena PSBB. Berkat data time-series, PMI memprediksi puncak defisit pada hari ke-45 PSBB dan melakukan kampanye donor plasma konvalesen berbasis data geospasial.

Kolaborasi PMI dan BPS : Dari Angka ke Aksi

Hari Statistik Nasional 2024 bertema "Statistik Berkualitas untuk Indonesia Emas". Bagi PMI, statistik berkualitas berarti:

a. Satu Data Kemanusiaan : Integrasi data DTKS Kemensos, data kebencanaan BNPB, dan data stok darah PMI untuk menentukan prioritas bantuan. Tidak ada lagi bantuan ganda di satu desa dan kekosongan di desa lain.

b. Literasi Data Relawan : Relawan PMR diajarkan tidak hanya

membalut luka, tapi juga cara melakukan assessment cepat (rapid assessment) yang valid. Satu formulir asesmen yang salah, satu keluarga bisa tidak mendapat bantuan.

PMI dan statistik memiliki misi sama : membuat yang tidak terlihat menjadi terlihat. Hari Statistik Nasional adalah momentum untuk mengubah PMI dari organisasi yang hanya bergerak karena panggilan hati, menjadi organisasi yang bergerak karena panggilan data. Karena dalam kemanusiaan, satu data yang salah bisa berarti satu nyawa yang tidak tertolong.